Buffon, Prestasi, dan Loyalitas

| dilihat 3239

AKARPADINEWS.COM | TUA-tua keladi, makin tua makin menjadi. Peribahasa itu kiranya cocok disematkan kepada kiper utama Juventus, Gianluigi Buffon. Pemain kelahiran Kota Carrara, Italia itu telah membubuhkan rekor baru dalam karir sepakbolanya bersama Juventus. Pada laga Juventus kontra Torino, Buffon membubuhkan rekor tidak kebobolan di Liga Serie A Italia terlama.

Pada musim ini, selama 973 menit di laga Serie A, tidak ada pemain lawan yang berhasil merobek jala gawangnya. Hanya Andrea Belotti, pemain Torino, yang berhasil memutuskan rekor tak kebobolan Buffon pada laga yang berlangsung Minggu (20/3). Laga itu berakhir berakhir 1-4 untuk kemenangan Juventus.

Rekor itu menjadi spesial karena dipecahkan Buffon tatkala usianya menginjak 38 tahun. Bagi pemain sepakbola profesional umumnya, di usia tersebut, sudah saatnya gantung sepatu. Namun, tidak bagi Buffon. Di usianya yang mulai senja, Buffon justru mengukir sejumlah prestasi.

Sebelum dipecahkan oleh Gigi, sapaan karib Buffon, rekor kiper tak kebobolan terlama dipegang oleh Sebasttiano Rossi, kiper AC Milan, dengan jumlah waktu 929 menit pada musim 1993-1994. Sebelum memecahkan rekor tersebut, Buffon sudah mengalahkan rekor kiper Juventus lainnya, yakni Dino Zoff, yang memegang rekor kiper tanpa kebobolan terlama di dalam daftar rekor klub. Zoff, yang juga kiper legenda Italia itu berhasil membubuhkan rekor 903 menit tak kebobolan selama satu musim di Serie A.

Dengan begitu, Buffon telah memecahkan dua rekor sekaligus, yakni rekor di liga dan rekor klub. Selain mengalahkan dalam soal waktu, Buffon juga membubuhkan rekor tidak kebobolan selama 20 pertandingan berturut-turut pada musim ini.

Keberhasilan Buffon memecahkan rekor di Serie A dan Klub menuai apresiasi dari beberapa pemain bola, salah satunya ialah Alessandro Del Piero. Mantan pemain bernomor 10 di Juventus itu mengucapkan selamat kepada Buffon melalui akun media sosialnya. “Rekor yang pantas untuk si nomor satu dan pertahanan yang sangat ku kenal, bravo,” cuit Del Piero dalam akun Twitter pribadinya.

Atas keberhasilannya itu, Buffon mengatakan, bukan hanya hasil jerih payah dirinya sendiri. Namun, juga teman-teman satu tim dan dukungan dari para fans. “Rekor ini terjadi berkat dukungan fans dan rekan satu tim, khususnya mereka (pemain bertahan) yang terus mengupayakan pertahanan terbaik sehingga tidak ada bola yang berhasil mendekati gawang,” ujarnya dilansir dari BBC (20/3).

Sebagai pemain, Buffon adalah pemain yang memiliki kepribadian luar biasa. Pria kelahiran 28 Januari 1978 itu dikenal sebagai sosok pemain yang memiliki loyalitas tinggi kepada klubnya. Dia juga dikenal sebagai pemain yang menjunjung tinggi sportifitas.

Kepribadian yang melekat itu tidak terlepas dari didikan keluarganya. Buffon terlahir dalam keluarga olahragawan yang menjunjung nilai-nilai sportifitas. Ayahnya merupakan atlit angkat beban Italia dan ibunya merupakan atlit lempar cakram Italia. Sebagai anak sepasang olahragawan, Buffon memiliki bakat tubuh yang atletis. Dia tidak menekuni olahraga yang digeluti ibu dan ayahnya. Buffon memilih untuk berkarir di dunia sepakbola.

Kala mengawali karirnya di dunia sepakbola, Buffon memilih posisi sebagai pemain gelandang tengah. Namun, di usia 11 tahun, Buffon berpindah posisi menjadi kiper. Dan, pada usia 13 tahun, Buffon bergabung dengan akademi Parma FC.

Buffon, yang dijuluki The Superman, melakukan debutnya untuk Parma pada 19 November 1995 kala pertandingan melawan AC Milan. Dia menjadi pilihan utama untuk menjaga mistar gawang sejak 1997. Bersama Parma, Buffon telah merasakan tiga piala, yakni Piala UEFA, Piala Italia, dan Piala Super Italia pada tahun 1999.

Kepiawaiannya menjaga mistar gawang membuat Juventus meliriknya. Pada tahun 2001, Buffon resmi berseragam Juve dengan harga transfer US$45 juta. Kala itu, kocek yang dikeluarkan Juve menasbihkan Buffon sebagai salah satu kiper termahal di dunia.

Dengan status kiper termahal di dunia, Buffon memberikan bukti. Dia membawa Juve menjuarai Liga Serie A empat kali berturut-turut, dan dua Piala Super Italia. Selain itu, pada tahun 2003, Buffon meraih UEFA Club Footballer of the Year.

Pada tahun 2006, Juve bersama beberapa klub elit Serie A dan beberapa klub Serie B, seperti  AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina, tersangkut skandal Calciopoli atau skandal pengaturan pertandingan untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Kasus itu juga menyeret namanya. Buffon dituding sebagai salah satu aktor dibalik perjudian sepakbola tersebut. Klub berlambang kuda jingkrak itu pun terbukti bersalah atas skandal itu dan mendapat hukuman terdegradasi ke Serie B.

Atas terdegradasinya Juve ke Serie B, klub itu ditinggal beberapa pemain topnya. Zlatan Ibrahimovic, Lilian Thuram, Patrick Viera, Fabio Cannavaro, Emerson, dan Gianluca Zambrotta. Namun, Gigi dan sahabatnya, Del Piero, memilih bertahan bersama untuk kembali naik ke Serie A, kasta liga sepakbola tertinggi Italia.

Buffon beralasan, dirinya merasa Juventus sudah sangat berjasa bagi kehidupan dan karir sepakbolanya. Meski bermain di Serie B, Buffon dan beberapa punggawa Juventus tetap dipanggil ke dalam Tim Nasional Italia untuk berlaga di ajang Piala Dunia 2006.

Buffon menunjukkan kualitasnya sebagai kiper di Piala Dunia 2006 tersebut. Dia hanya kebobolan dua gol selama turnamen atau total 453 menit, tanpa kebobolan. Gigi juga menjadi penentu kemenangan Tim Azzuri, sebutan timnas Italia, kala menghalau sundulan Zinadine Zidane di babak perpanjangan waktu laga Final Piala Dunia 2006. 

Atas kepiawaiannya, Buffon pernah menduduki runner up pada pemilihan Ballon d’Or 2006 yang drengkuh oleh rekan senegaranya, Fabio Cannavaro. Kala membela Juventus di Serie B, Buffon juga berjuang untuk membersihkan namanya dari tudingan oknum yang bermain dalam kasus calciopoli. Akhirnya, upaya pembersihan namanya berhasil. Pada 27 Juni 2007, Buffon terbukti tidak bersalah atas kasus tersebut.

Di usianya yang tak lagi muda, Buffon masih diminati klub-klub elit eropa. Buffon pun ingin merasakan nuansa liga di luar Italia, salah satunya ialah Liga Premier Inggris. “Saya masih mengingat, ketika usia saya menginjak 20-an di tahun 1998, saya sempat makan malam bersama dengan Arsene Wenger dari Arsenal. Lalu, ketika saya masih membela Parma, Manchester United dan Sir Alex Ferguson memantau permainan saya. (Kini) dapat dikatakan, klub yang masih serius memantau dan melakukan pendekatan kepada saya ialah Manchester City,” ungkap Gigi, dilansir dari BBC (20/3).

Disinggung soal kemungkinan pensiun, suami dari Alena Seredova itu mengatakan, masih akan berbuat sebaik mungkin untuk permainannya di klub dan timnas. “Bila saya masih bisa bermain di Piala Dunia 2018, maka saya akan terus bermain. Setelah itu, saya akan menutup pintu dan pensiun dari dunia sepakbola,” ujarnya.

Buffon adalah sosok yang membuktikan loyalitas, sportifitas, dan kualitas dapat terus menjadikan seorang atlit berjaya dalam berbagai turnamen dan pertandingan. Kesetiaan Buffon kepada Juventus patut diapresiasi. Tak salah, bila nantinya Buffon akan ditasbihkan sebagai legenda Juventus yang paling diingat fansnya.

Buffon juga menunjukkan, bermain sepakbola bukan sekedar soal uang dan ketenaran. Bermain sepakbola ialah memberikan yang terbaik untuk klub, negara, dan diri sendiri. Dengan begitu, seorang pesepakbola bakal terus berjaya, kapan pun dan di mana pun.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 335
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 419
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 591
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2299
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya