Berharap Olahraga Tak Kian Terpuruk

| dilihat 1911

AKARPADINEWS.COM | HARI Olahraga Nasional (Haornas) bukan sekadar momen tahunan yang diperingati atau dirayakan secara seremonial. Namun, Haornas harus menjadi ajang untuk membangkitkan kejayaan olahraga Indonesia yang saat ini berada di titik nadir karena minimnya prestasi.

Dalam konteks ini, olahraga harus dipandang lebih dari sekadar kemampuan olah fisik semata. Tapi, olahraga ditempatkan sebagai bagian dari identitas sebuah bangsa. Olahraga harus menjadi cerminan ketangguhan fisik, solidaritas, sportivitas, mental, daya pikir, hingga spirit nasionalisme yang bisa dibanggakan sebuah bangsa agar lebih unggul dari bangsa lain.

Dilihat dari populasi penduduk yang mencapai sekitar 240 juta jiwa, Indonesia sebenarnya berpotensi besar menjadi penguasa dan raksasa olahraga regional, bahkan dunia. Namun, kesalahan dalam pembinaan dan kurangnya perhatian dari pemerintah menjadi salah satu penyebab ketertinggalan olahraga Indonesia dari negara-negara lain.

Indonesia perlu belajar dari Tiongkok. Negara Tirai Bambu itu selalu mendominasi perolehan emas di setiap ajang Olimpiade. Mulai dari usia dini, atlet-atletnya sudah diberi porsi latihan keras. Pemerintah Tiongkok sejak lama selalu menanamkan filosofi “Hidup untuk emas” bagi atlet-atletnya. Wajar, banyak rekor yang dilahirkan para atlet-atlet Tiongkok.Dibutuhkan waktu panjang dan kemauan keras bagi Indonesia untuk menuju prestasi seperti Tiongkok.

Keseriusan dan pengorbanan sangat diperlukan untuk mewujudkan kembali kejayaan olahraga Indonesia. Hal ini ironi ketika banyak negara-negara lain justru serius menggarap banyak cabang olahraga untuk menghasilkan emas-emas olimpiade. Bukan saja dilakoni negara-negara kaya, melainkan juga negara berkembang, bahkan negara kecil.

Contohnya India. Negara itu pada tahun-tahun terakhir selalu menyematkan atletnya pada kejuaraan bulutangkis dunia. Saina Nehwal, namanya kini berada di deretan papan atas pebulutangkis dunia. Medali perunggu Olimpiade 2012 yang diraihnya mengantar India untuk pertama kali merengkuh medali perunggu di Piala Uber pada tahun 2014. Hingga, pada Kejuaraan Dunia BWF di Indonesia pertengahan Agustus lalu, ia pun sukses meraih medali perak.

Padahal, bulutangkis bagi India adalah olahraga yang tidak populer. Prestasi India pada kejuaraan olahraga lain bertaraf internasional juga tidak terlalu cemerlang. Namun, belakangan, Nehwal membuat pemerintah India membuka mata.

Pemerintah India pun bertekad untuk mendesain Nehwal untuk merebut emas di ajang olimpiade. Pemerintah India sadar, bahwa spirit dan kemampuan Nehwal mampu mendongkrak gengsi negaranya di atas negara lain. Itu menjadi bukti jika prestasi olahraga adalah kebanggaan bagi sebuah negara. Tentunya, tidak ada faktor lain bagi sebuah negara untuk mendongkrak prestasi olahraganya. Melainkan hanya tekad atlet dan dukungan negara.

Inilah yang dilupakan Indonesia. Prestasi olahraga bukan perhatian utama. Tapi, hanya menjadi urusan segelintir orang atau kelompok yang tujuannya justu mengkapitalisasikan olahraga. Akibatnya, Indonesia yang sempat menjadi bangsa berpengaruh dalam olahraga puluhan tahun lalu, kini menjadi negara yang prestasinya terseok-seok. Olahraga minim prestasi dan pembinaan tidak menghasilkan atlet-atlet cemerlang.

Padahal, ketika era Presiden Soekarno, dicetuskan slogan yang cukup populer, yakni "Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga." Semata-mata untuk melecut semangat para atlet-atlet Indonesia.

Bahkan, publik mungkin lupa jika Indonesia adalah negara penggagas Games of the New Emerging Forces (Ganefo) pada tahun 1963 silam. Meski Ganefo tercetus lantaran motif politis Soekarno sebagai penggagasnya, ajang olahraga ini yang membuat Indonesia sanggup mengelar ajang kejuaraan olahraga bertaraf internasional, tandingan Olimpiade.

Namun, eforia itu berbanding terbalik ketika Indonesia memasuki era reformasi. Di era Presiden Abdurahman Wahid, Dinas Pemuda dan Olahraga sempat dibekukan. Kemudian, dihapusnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada saat itu, dianggap menjadi salah satu penyebab merosotnya prestasi olahraga Indonesia.

Di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menetaskan kembali keberadaan Dinas Pemuda dan Olahraga. Pada saat itu, campur tangan pemerintah untuk kemajuan olahraga di Indonesia mulai bisa dirasakan. Hal itu dapat dilihat dari dikeluarkannya Undang-Undang No.3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Di UU tersebut, diatur dan dijelaskan tentang pola pembinaan, para pelaku olahraga, pengaturan dan pengadaan sarana prasarana olahraga, penyelenggaraan kejuaraan, dan sebagainya. Dengan disahkannya UU tersebut, diharapkan mampu memperbaiki prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional maupun regional.

Namun, dalam perjalanannya, UU itu tidak terejawantahkan dengan baik. Buktinya, saat ini masih minim prestasi. Selepas menjadi juara umum SEA Games Jakarta-Palembang 2011 lalu, prestasi olahraga Indonesia kembali anjlok. Parahnya lagi, Indonesia gagal mempertahankan tradisi medali emas cabang Bulutangkis di Olimpiade London 2012. Keterpurukan berlanjut setelah lepasnya titel juara umum SEA Games 2013 Myanmar dan keterpurukan pada Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan.

Prestasi Indonesia, bahkan semakin terjun bebas di SEA Games 2015 Singapura dengan berada di peringkat kelima klasemen pengumpul medali.

Terpuruknya prestasinya atlet Indonesia itu meyiratkan adanya problem krusial dalam pembinaan olahraga yang dilakukan pemerintah. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), sampai saat ini belum menemukan formula jitu untuk menyemai lagi prestasi olahraga. Publik umumnya hanya tahu jika Kemenpora lebih memusatkan perhatiannya pada upaya menuntaskan kisruh sepakbola Indonesia semata.

Seharusnya, Kemenpora lebih memberi perhatian pada cabang olahraga lain jika prestasi menjadi hal yang dicita-citakan. Pemerintah saat ini perlu menunjukkan kehadirannya untuk membangkitkan prestasi di semua cabang olahraga. Tentunya, bukan berarti hanya mengejar juara, tetapi juga mencetak atlet-atlet berprestasi.

Apalagi, saat ini Indonesia sedang mengalami krisis atlet. Banyak atlet-atlet yang sudah melewati usia emas dalam karir olahraganya. Hal ini perlu menjadi perhatian. Regenerasi atlet-atlet muda di beberapa cabang olahraga belum terlaksana baik. Cabang olahraga seperti senam, angkat besi, voli pantai, dan beberapa cabang bela diri harus mengandalkan atlet-atlet yang sudah berumur.

Kemenpora perlu mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk menyusun roadmap olahraga nasional. Konsepnya harus jelas dalam membangun olahraga Indonesia yang cemerlang ke depannya. Orientasi pembinaan olahraga ke depan harus fokus menuju Olimpiade. Karena, bukan saatnya lagi menelurkan visi untuk ajang-ajang regional Asia Tenggara atau Asia. Sudah saatnya Indonesia mengubah visi jangka panjang untuk merengkuh prestasi di taraf Olimpiade.

Bahkan, selama ini seolah-olah, pembinaan atlet-atlet di daerah hanya berorientasi pada kejuaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) semata. Jadi, pembinaan itu harus diubah. Kemampuan dan ketangguhan atlet akan tersendat-sendat jika porsi latihan, sarana, dan infrastuktur, kompetisi, atau turnamen di daerah hanya bertaraf nasional—meskipun standar pertandingan sudah mengikuti aturan internasional.

Paradigma seperti itu kiranya harus diubah. Meskipun sulit tapi bukan hal yang mustahil. Butuh sinkronisasi di taraf klub atau pengurus provinsi induk cabang olahraga untuk mengarahkan orientasi kejuaraan mengarah pada ajang olimpiade nantinya. Sederhananya, latihan, kompetisi, dan turnamen di daerah nantinya harus menyisipkan materi hingga sarana-prasarana bertaraf olimpiade.

Visi ini bukan hanya kepentingan Kemenpora dan pengurus olahraga induk di provinsi saja. Karena ini menyangkut prestasi, butuh kerja keras bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk bersama semua pemangku kepentingan guna memuluskan roadmap olahraga seperti ini. Dengan demikian, pembinaan atlet pun bisa terarah. Setelah PON, mereka akan berlaga di SEA Games, kemudian Asian Games, dan olimpiade.

Namun, jika melihat lingkup olimpiade, tentu hanya ada 28 cabang olahraga yang dipertandingkan. Karenanya, Indonesia harus memaksimalkan cabang olahraga prioritas yang selama ini diandalkan. Misalnya, panahan, angkat besi, bulutangkis, kano, dan dayung yang sukses menyabet hampir seluruh medali pada SEA Games Januari lalu di Singapura.

Apabila pemetaan dan roadmap olahraga seperti itu berjalan dengan baik, giliran upaya pemerintah pusat untuk memberikan anggaran, infrastruktur, dan kebijakan. Kemudian, menjauhkan aroma politisasi maupun korupsi dalam upaya tersebut. Selain peran para pemangku kepentingan olahraga di indonesia, masyarakat juga perlu mendukung dan kerja keras untuk sama-sama menyemai kembali prestasi olahraga Indonesia.

Karena, publik selama ini hanya mampu bernostalgia atas kenangan-kenangan manis yang sulit rasanya dilupakan. Prestasi gemilang pernah ditunjukkan oleh pemanah nasional Lilies Handayani pada Olimpiade Seoul pada 1988? Lilies mampu meraih medali perak. Susi Susanti dan Alan Budikusuma pada Olimpiade Barcelona mengawinkan medali emas pada kelas berbeda. Dan, masih banyak lagi nostalgia lainnya.

Tentunya, nostalgia itu bagi masyarakat atau bahkan bangsa Indonesia bukan sekadar memori untuk dikenang. Melainkan, harus segera diwujudkan kembali. Karenanya, dibutuhkan kemauan keras, tekad, komitmen, keseriusan dan pengorbanan bagi semua lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mewujudkan kembali kejayaan olahraga Indonesia.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 515
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 159
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 248
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 261
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya