Berharap Laga Tanpa Huru-Hara

| dilihat 2282

AKARPADINEWS.COM | FINAL Piala Presiden pada 18 Oktober nanti akan menguji kedewasaan suporter sepakbola di Indonesia. Laga puncak antara Persib Bandung versus Sriwijaya FC yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta itu diharapkan tidak dinodai huru-hara. Ada kekhawatiran, kekerasan meletup lantaran suporter Persib mendatangi Jakarta.

Meskipun final itu tidak mempertemukan Persib Bandung dengan Persija Jakarta, namun Jakarta menjadi tempat keramat bagi para Bobotoh atau viking (sebutan suporter Persib). Pasalnya, suporter Persija Jakarta atau yang sering disebut The Jakmania dikenal tidak ramah menjamu Persib. Begitu juga sebaliknya.

Rivalitas antara The Jakmania dengan Bobotoh selalu dibumbui perseteruan, hingga diwarnai aksi anarkis itu seolah tidak berkesudahan. Api amarah sering membara jika kedua tim bertemu, baik di SUGBK maupun di Stadion Siliwangi atau di Stadion Si Jalak Harupat. Hingga kini pun tak jelas pangkalnya. Namun, sejak tahun 2000 hingga sekarang, pertemuan antara Persija dengan Persib, selalu berlangsung dengan tensi tinggi. Tidak hanya antar pemain. Namun juga pada suporternya.

Seperti di awal tahun 2000, ketika berlangsungnya Liga Indonesia VI, The Jakmania pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan saat menonton ke Stadion Siliwangi. Bobotoh beralasan, mereka juga pernah mendapat perlakuan sama saat Persib Bandung bertemu Persijatim di Stadion Lebak Bulus.

Saat itu, The Jakmania yang hendak pulang diserang Bobotoh. Anak-anak dari ibukota itu berang. Selain tidak dapat masuk ke stadion, mereka justru mendapat perlakuan kasar. Mobil mereka dilempari. Kerusuhan akhirnya bisa mereda setelah ratusan polisi diterjunkan ke lokasi.

Terakhir, kedua kubu suporter itu saling bentrok usai Final Liga Super Indonesia (ISL) tahun 2014. Kala itu, bentrokan terjadi di kawasan tol JORR saat rombongan Bobotoh yang baru menyaksikan partai final ISL di Palembang melintasi Jakarta menuju Bandung.

Khawatir insiden serupa terjadi lagi, banyak kalangan yang tidak setuju jika laga Final Piala Presiden 2015 digelar di Jakarta. The Jakmania juga sudah melayangkan protes, menolak final Piala Presiden digelar di SUGBK. Alasannya, Viking Bandung dikhawatirkan memicu permasalahan.

Begitu juga di kubu Bobotoh yang berdomisili di Jakarta. Mereka dihantui teror sebelum atau sesudah pertandingan final. Seusai pengumuman stadion final Piala Presiden digelar di SUBK pada Rabu (14/10), basecamp Viking Jakarta di Pasar Rebo, Jakarta Timur diteror. Tak hanya itu, salah satu Bobotoh yang sedang keluar, dicegat di jalan. Lalu, dikeroyok.

Bagi Bobotoh, menyaksikan timnya berlangsung di luar kandang, apalagi saat final, merupakan ajang untuk menguji loyalitas terhadap tim kesayangannya. Perkara uang belakangan. Semata-mata, mereka menyaksikan timnya karena gairah dan fanatisme sepakbola.

Demikian pula ketika mereka harus bertamu ke kandang The Jakmania. Bagi bobotoh, kedatangan mereka sangat penting untuk dijalani. Terutama dalam hal mengukur kemampuan, daya tahan diri, hingga mental. Ada atmosfir yang tidak bisa dibandingkan ketika mendukung di kandang sendiri. Ada bahaya atau risiko, apalagi menyangkut keselamatan.

Siapapun berhak menggunakan stadion untuk bertanding, termasuk Persib yang akan bermain di Jakarta. Tapi, tidak ada yang bisa melarang jika The Jakmania melarang Persib berlaga di SUGBK. Larangan itu bisa diartikan peringatan akan ancaman keselamatan pemain, staf, dan para pendukung Persib Bandung. Pasalnya, The Jakmania dengan Persib Bandung telah mendorong Bobotoh untuk meminimalisir rivalitas di antara mereka. Walaupun, tetap saja, upaya itu tidak menemui jalan terang.

Final Piala Presiden 2015 telah diketok panitia untuk diselenggarakan di Jakarta. Tidak menutup kemungkinan, Bobotoh dan The Jakmania kembali bentrok. Karenanya, upaya pengamanan harus ditingkatkan.

Semua tentu berharap, suporter, penyelenggara pertandingan, kepolisian, pemerintah, dan elemen lainnya, bisa melebur menjadi satu. Bersama-sama menikmati laga seru tanpa huru-hara, tanpa provokasi. Semua berharap solidaritas dan sportivitas yang diperlihatkan dan tidak ingin huru hara yang makin memperburuk citra sepakbola Indonesia di dunia internasional.

Suporter sepakbola Indonesia kiranya perlu belajar dengan suporter sepakbola di Inggris. Fanatisme dan rivalitas sepakbola di sana terkenal dengan tensi yang lebih tinggi. Di negara itu, bahkan dikenal dengan istilah bubble match. Istilah ini diambil untuk pertandingan dengan kategori C atau sangat berbahaya.

Bubble match lahir ketika pihak kepolisian di Inggris membuat klasifikasi tingkat keamanan bagi pertandingan-pertandingan sepakbola tertentu. Dimulai dari kategori A untuk tingkat keamanan paling standar hingga kategori C untuk keamanan siaga dan dianggap berpotensi menghadirkan kerusuhan.

Bubble match berlaku bagi suporter yang ingin menonton tim favoritnya di kandang lawan. Mereka diwajibkan mengikuti saran kepolisian dan harus mau diawasi. Misalnya, menaiki bus seperti tahanan hingga diantar ke dalam stadion. Di stadion pun, mereka tak lepas dari puluhan mata aparat keamanan yang siaga mengawasi.

Suporter juga harus berkumpul di tempat yang ditentukan untuk menaiki bis yang sudah disiapkan pihak kepolisian. Di dalam bis, harus pula dipastikan suporter tidak dalam kondisi mabuk atau emosi. Setelah pertandingan, hal yang sama juga dilakukan. Mereka diantar pihak kepolisian ke tempat awal bertemu.

Dalam berbagai pertandingan bubble matches, suporter lawan tidak diperbolehkan mendapatkan tiket secara langsung. Mereka akan diberikan kwitansi untuk nantinya ditukarkan di tempat yang telah ditentukan. Hal ini untuk memastikan mereka yang memegang tiket adalah suporter yang setuju untuk dikawal dan dijaga polisi. Dan, memastikan tidak ada tiket ganda bagi suporter yang nakal.

Berdasarkan ulasan The Guardian, musim 2012/2013 terdapat lebih dari 50 bubble matches di seluruh Inggris selama rentang sepuluh tahun terakhir. Hasilnya, pada musim itu total penonton yang datang ke stadion sebanyak 39 juta orang. Sementara, suporter yang ditangkap berjumlah 2.456 orang di seluruh pertandingan di Inggris dan Wales. Artinya, kurang dari 0,01 persen suporter yang melakukan tindakan melanggar hukum.

Melihat fakta sepakbola di Inggris tersebut, maka suporter layaknya pelaku kriminal. Namun, pengamanan yang cukup ketat itu untuk menghindari munculnya kerusuhan akibat provokasi dari suporter yang fanatis. Fanatisme mereka bisa berubah menjadi anarkis tatkala menyaksikan pertandingan tidak suportif dan merugikan tim kesayangannya. Emosi mereka tersulut oleh provokasi yang kemudian menjadikan mereka bertindak brutal layaknya pelaku kriminal. Karenanya, bubble match di Inggris menjadi tindakan yang mutlak dan efektif.

Sebenarnya, di Indonesia juga pernah dilakukan tindakan yang lebih jauh. Tepatnya, kala partai panas berlangsung antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Suporter lawan dilarang hadir. Bukan hanya oleh pihak kepolisian, tapi juga otoritas seperti Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) hingga pejabat daerah.

Namun tetap saja, kasus pelemparan bus yang ditumpangi suporter Persib Bandung terjadi. Tidak adanya pengamanan yang baik dan efektif menjadi masalah ketika itu. Wajar jika muncul kekhawatiran akan pecahnya kerusuhan pada final Piala Presiden pada Minggu nanti.

Piala Presiden sebenarnya pesta kecil bagi sepakbola di Indonesia yang saat ini sedang kritis. Piala Presiden seolah sebuah hadiah untuk sekadar menghibur insan sepakbola Indonesia yang pesakitan akibat kompetisi liga terhenti. Karenanya, final nanti menjadi momen penting bagi sepakbola Indonesia saat ini untuk menunjukan kepada masyarakat luas jika laga sepakbola berlangsung aman. Karenanya, jangan dirusak oleh tindakan negatif para suporter yang tidak sportif.

Masyarakat sepakbola di Indonesia tentu tidak ingin kejadian pada tahun 1991 terulang kembali. Ketika itu, kerusuhan pecah kala Persib merengkuh gelar juara perserikatan untuk keempat kalinya dengan mengalahkan Persebaya Surabaya. Stadion Senayan kala itu menjadi arena tawuran massal ketika suporter Surabaya tidak menerima kekalahan tim kesayangannya.

Lempar-melempar petasan, benda-benda keras, botol, hingga batu mewarnai pertandingan final itu. Bahkan, sebagian dari mereka membongkar kayu tempat duduk yang digunakan sebagai alat untuk menggebuk lawan. Lantai-lantai dipreteli untuk menghasilkan batu-batu yang dijadikan peluru untuk dilemparkan ke arah suporter lawan.

Sepakbola bagi masyarakat Indonesia adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Rivalitas antar suporter pun senantiasa hadir di tengah-tengah fanatisme masyarakat akan sepakbola. Tak cukup masalah itu menjadi perhatian pihak keamanan.

Namun, yang lebih penting adalah kedewasaan para suporter. The Jakmania perlu membuktikan jika mereka pantas menjadi tuan rumah yang baik. Sementara Bobotoh atau Viking harus menunjukkan rasa hormatnya pada Jakarta dan menjadi suporter yang tertib.

Memang, tidak ada hal lain selain eforia tatkala tim kesayangannya menang. Tapi, untuk menjadi penikmat dan suporter sepakbola sejati, perlu jiwa besar tatkala timnya mengalami kekalahan. Sentimen dan rivalitas harus dikesampingkan. Karena, di situlah fanatisme sebenarnya. Sportivitas yang perlu dibuktikan. Tidak hanya oleh Bobotoh atau The Jakmania. Namun, juga harus dibuktikan kepada semua suporter sepakbola di Indonesia.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Humaniora
11 Nov 22, 22:45 WIB | Dilihat : 197
Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek
10 Nov 22, 12:46 WIB | Dilihat : 123
Kang Tjetje, Kitab Kesadaran dengan Narasi Kritis
26 Okt 22, 21:15 WIB | Dilihat : 261
60 Tahun Tak Mandi, Sekali Mandi Amou Haji Meninggal
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya