Jakarta Melayu Festival X - 2022

Musik Melayu Meluruhkan dan Meluahkan Akal Budi Anies Baswedan

| dilihat 347

Catatan Bang Sém

Musik Melayu yang disajikan Jakarta Melayu Festival (JMF) X - 2022 di pantai Beach City Entertainment Center- Ancol (Rabu, 17/8/22) adalah pergelaran budaya dimensional yang berdaya meluruhkan hati, meluahkan nalar Anies Baswedan dan khalayak.

Dimensi keragaman budaya tertampak sejak awal, ketika Olvah Alhamid dengan blazer merah, sebagai pemandu acara membuka acara bersama mitranya yang berbusana putih.

Sejak Terimong Geunaseh dilantunkan Takaeda membuka acara, sudah terbangun suasana dan ekspresi budaya masyarakat pesisir sebagai salah satu ciri negeri bahari.

Suasana performance increase terpicu lewat tembang Perawan dan Bujang (Darmansyah dan Shreya Maya), Buih Jadi Permadani (Shena Malsiana, Nong Niken, dan Erie Suzan), Kecewa (Kiki Ameera), Pandangan Menggoda (Mustafa Abdullah), dan Joget Pahang (Shreya Maya) yang memadu padan rentak ritmik dan alun melodius, dengan latar pop imagia di layar LED (light emiting diode).

Lantas, tetiba berubah. Alfin Habib berjalan ke tengah panggung dengan latar LED hitam kosong. Dengan suaranya yang khas, Alfin mulai mendendang tembang Ummi yang mengiris rasa. Gubernur Anies Baswedan nampak berdiri dan berbincang dengan seseorang.

Lepas interlude antara lirik dengan chorus lagu yang sangat mengusik rasa, itu di layar LED muncul berbagai gambar  adegan Anies - Ferry Farhati (isterinya) - Abdillah (adiknya) dan anak-anaknya dengan Prof. Dr. Aliyah, ibunya - yang di-videotik-kan. Juga gambar-gambar keluarga lengkap Rasyid Baswedan.

Geisz Chalifah terlihat mengingatkan Anies untuk kembali menyaksikan performa di panggung. Anies duduk dan menyimak dan fokus melihat seluruh performa panggung, ketika Alfin terus melantunkan bagian-bagian reffrein tembang Ummi Summa Ummi, yang sangat menyentuh itu.

Suara Alfin memberi 'soul' gambar-gambar itu. Komposisi musikal yang ditata sangat apik dan kuat oleh Anwar Fauzi, memadu harmoni suara synth dengan biola Hendry Lamiri, seolah berdialog dengan suara accordeon yang dimainkan Butong Olala. Bahkan menjadi telangkai sangat indah, ketika Erie Suzan masuk ke panggung dan melantunkan tembang Keramat dengan kualitas vocal yang kuat.

Anies dan Ferry Farhati - isterinya, yang duduk di sebelahnya dan seluruh khalayak penonton, hanyut. Dialektika gambar videotik, musik, dan lirik terjadi.

Suasana batin sebagai paduan mind and soul terjadi, ketika Errie Suzan masuk dengan lirik: "Hai manusia, hormati ibumu / Yang melahirkan dan membesarkanmu/ Darah dagingmu dari air susunya/ Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya/ Dialah manusia satu-satunya/ Yang menyayangimu tanpa ada batasnya/ Doa ibumu dikabulkan Tuhan/ Dan kutukannya jadi kenyataan/Ridla Ilahi karena ridlanya/ Murka Ilahi karena murkanya/ Bila kau sayang pada kekasih/ Lebih sayanglah pada ibumu / Bila kau patuh pada rajamu/ Lebih patuhlah pada ibumu."

Nampak Anies membuka kacamatanya seketika, mengusap matanya. Hal yang sama juga terlihat dilakukan sejumlah undangan dan penonton yang berdiri. Termasuk seorang tokoh kritis yang sering nampak lantang bicara di layar televisi.

Alfin Habib dan Erie Suzan dengan komposisi musikal Anwar Fauzi, 'menaklukkan' khalayak. Suasana seketika senyap, hembusan angin dari pantai utara Jakarta, seolah menghantar pesan gamblang tentang adab anak kepada ibunya, dan cinta kasih ibu yang tak terbeli kepada anak-anaknya.

Anies luruh. Adabnya sebagai anak saleh kepada ibunya yang tampak di layar LED, beresonansi dengan khalayak dalam suasana melodius. Hhhhh..

Kepada wartawan Anies mengaku, ia merasakan keharuan suasana itu, sehingga ia menyeka air matanya. Dia juga mengatakan terkejut dengan visual berbagai adegan di berbagai momen dirinya dengan ibunya, istrinya, dan keluarganya.

Dia mengaku terkejut dengan gambar videotik yang tampak di layar panggung. Bagi Anies, do'a ibu adalah jalan pembuka untuk keluar dari masa serba sulit. Ini surprise and shocking show. Menguatkan suasana insaniah yang terbangun melalui berbagai visual yang menjadi ilustrasi visual ketika tembang Terimong Geunaseh (tema JMF X - 2022) didendangkan Takaeda.

Suasana ini menghantar  Geisz Chalifah - produser pergelaran ini - bertutur tentang ungkapan terima kasih untuk seluruh petugas kesehatan yang berada di garda depan saat melawan nanomonster Covid-19, dengan segala hal yang memantik inspirasi pemberian penghargaan kepada mereka.

Suasana ini juga menjadi telangkai apik Pidato Kebangsaan Anies yang mengulik dalam tentang manusia dan dimensi kemanusiaannya.

Termasuk dimensi religiusitas, kolaborasi dan sinergitas insaniah (yang dilandasi oleh kesadaran, antusiasme, simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta), hakikat kemerdekaan yang mesti bermuara pada mufakat luas menepati janji, dan membayar balik apa yang sudah diberikan Indonesia (bangsa ini) dan para pejuang kemerdekaan kepada rakyatnya.

Tak terkecuali, kesadaran kolektif kebangsaan yang harus terus dihidupkan untuk tidak meletakkan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam teks pidato dan upacara-upacara kenegaraan. Melainkan meletakkannya di dalam pikiran, sikap, dan tindakan.

Meski belum sepenuhnya, berbagai janji kemerdekaan yang sudah ditunaikan, perlu dirayakan dengan sukacita dengan tetap memperhatikan seluruh marka budaya yang menyertai.

Suasana inilah yang kemudian terasa, ketika Anies bersama seluruh artis mengeksplorasi sukacita lepas dari masa sulit, kala tembang Kecubung Wulung didendangkan bersama.

Pun, ketika Shena Malsiana dengan gaya khasnya melantunkan tembang Kisah Nan Lalu -- sambil memperkenalkan seluruh musisi.

Ekspresi sukacita kian bertabur ungkap renung tentang cinta terasa, ketika Kiki Ameera dan Shreya Maya mendendangkan tembang Dhoom Machale, dan kemudian Darmansyah melantunkan tembang Renungkanlah, dan Sulis melantunkan tembang Sumayya.

Suasana sukacita pasang naik ketika Takaeda melantunkan tembang Melati di Sanggul Jelita, sehingga Anies melangkah ke arena joged bersama sejumlah Walikota - Bupati, Kepala Dinas, undangan, dan khalayak, sampai perlahan dia fade out untuk pulang.

Semangat the show must go on para musisi dan penyanyi tak surut dan masih terus melantunkan tembang, seperti Zapin Gadis Desa yang didendangkan Mustafa Abdullah, Casablanca yang dendangkan Alfin Habib - Nong Niken, dan Rintik-Rintik yang didendangkan bersama oleh Mustafa, Darmansyah, dan Takaeda diikuti beberapa lagu lain.

Ketika meninggalkan arena JMF X-2022, di kejauhan saya masih mendengar suara khas Tom Salmin, mendendangkan tembang Pantun Janda yang populer itu.

Suasana klimaks pergelaran yang memberikan gambaran, bahwa musik dan budaya Melayu yang egaliter dan kosmopolit berinteraksi dengan clientelisma masih kuat dalam sosio budaya khalayak.

Lepas dari ekspresi sukacita dengan penampangnya yang beragam, saya menyaksikan, beberapa bagian khas pergelaran JMF X-2022 tersebut, menyenangkan. Hal itu, antara lain terlihat ketika Ferry Farhati - istri Anies, Sri Haryati - Asisten Perekonomian Pemprov DKI Jakarta bertepuk tangan mengikuti irama musik dan lagu. Pun, demikian halnya dengan Nahdiana, Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta.  Sukacita nampak di wajah mereka.|

Editor : delanova
 
Humaniora
10 Sep 22, 12:45 WIB | Dilihat : 160
WSI Bergerak Tanpa Lelah Menjawab Tantangan Zaman
09 Sep 22, 08:23 WIB | Dilihat : 78
Pemimpin versus Penguasa
Selanjutnya
Lingkungan