Bergelap-gelap dalam Terang

| dilihat 1962

KONSISTEN kebijakan pemerintah dalam memosisikan film sebagai produk industri budaya, sangat menentukan bagaimana industri film akan berkembang kelak. DI Indonesia, pada masanya, kebijakan pemerintah berhasil menguatkan industri perfilman. Tapi, kemudian inkonsisten. Maka, terjadilah kebijakan pemerintah yang membuat perfilman Indonesia pingsan dan matisuri. Kontrol pemerintah sedemikian ketat, bahkan sejak film masih dalam gagasan.

Pemandulan terhadap kreativitas seniman film berlangsung, menyebabkan produk film nasional babak belur. Sum Kuning (Perawan Desa), Yang Muda Yang Bercinta, Di Bawah Lindungan Ka’bah (Para Perintis Kemerdekaan), Jakarta Jakarta, dan beberapa film yang menggambarkan realitas sosial kedua secara kritis, dipangkas gunting sensor yang sangat tajam.

Film-film artistik lahir dan merugi. Sebut saja: Doea Tanda Mata, Ibu, Kodrat, Sorta, Titian Serambut Dibelah Tujuh, sampai Surat untuk Bidadari, Pasir Berbisik, dan yang segenerasi dengannya. Lantas film-film epos perjuangan dan historia artifisial (Mereka Kembali, Jembatan Merah, November 1828, Tjoet Nja’ Dhien, Pagar Kawat Berduri, Wali Sembilan, Sunan Kalijaga, sampai Fatahillah). Juga film-film aksi domestik: Si Pitung, Sanrego, Dji’ih, dan sejenisnya. Lahir pula film-film komedi satir: Si Doel Anak Modern, Si Mamat, Nagabonar, Topaz Sang Guru, Oom Pasikom, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Keluarga Markum, dan sejenisnya. Termasuk film-film yang diangkat dari novel pop: Cintaku di Kampus Biru, Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, sampai Lupus.

Kebijakan perfilman semacam itu, mendorong lahirnya film-film kitsch, yang ampang. Bernafas dalam Lumpur, Ratapan Anak Tiri, Beranak dalam Kubur. Juga film komedi klangenan, seperti: Koboi Cengeng, Maju Kena Mundur Kena; Biang Kerok, Samson Jago Betawi, dan lainnya. Tak terkecuali film-film dangdut bermerk Rhoma Irama.

Di titik nadir, saat reformasi, sempat muncul produksi film Sesal  (Sophan Sopiaan) yang tak pernah diputar di gedung bisokop. Lalu, Badut Badut Kota arahan Uci Supra, dan sedikit filmnya.Geliat itu muncul lewat Sherina, disusul beberapa film dari tangan generasi baru perfilman: Riri, Nan T Achnas, dan lainnya, yang menawarkan film aneka rupa. Sebut saja Jailangkung, Gi, 4 Sehat 5 Sempurna, Lentera Merah, Love is Cinta, sampai Coklat Strawberry. Di tengah situasi demikian Deddy Mizwar, menawarkan pilihan yang menggabungkan pendekatan bisnis dan kreatif dalam satu tarikan nafas, lewat: Ketika, Kiamat Sudah Dekat, dan Nagabonar Jadi 2.

Menggeliat sendiri. Mendorong independensi memang. Tapi, kebijakan perfilman tetap diperlukan. Umpamanya mengembalikan pajak bioskop untuk produksi film, dan perlindungan film nasional dari aksi penjarahan para pembajak. Mereka yang bergelap-gelap dalam terang.

Editor : administrator
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 210
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 166
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 243
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 359
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1205
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1458
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya