Panel Surya Tertipis Dikembangkan

| dilihat 2280

AKARPADINEWS.COM | MANUSIA selalu mencari sumber energi untuk mendukung aktivitas kehidupannya. Dari beberapa jenis energi, manusia saat ini masih sangat bergantung dengan energi fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara.

Ketergantungan terhadap energi fosil itu berdampak pada semakin menipisnya produksi. Cepat atau lambat, energi yang tidak dapat diperbarukan itu akan habis lantaran tak hentinya dieksploitasi.

Karenanya, untuk menjamin keberlanjutan energi yang akan datang, pencarian sumber energi alternatif dan terbarukan tak hentinya dilakukan. Salah satu sumber energi yang terus dioptimalisasikan adalah matahari.

Memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber energi, tidak mudah. Dibutuhkan alat berbentuk panel yang mampu menyerap cahaya matahari, lalu memprosesnya secara photovoltaics. Pada proses itu, radiasi cahaya matahari diserap dan kemudian diubah menjadi energi listrik.

Meski dapat menjadi sumber daya energi yang ideal, untuk dapat diterapkan secara masif, panel photovoltaics tersebut masih kurang ideal. Karena, panel surya itu biasanya berbentuk cukup besar dan tebal.

Mempertimbangkan potensi besar energi matahari dan kelemahan panel photovoltaics, sekelompok peneliti dari Institut Sains dan Teknologi Gwangju, Korea Selatan, mengembangkan panel surya yang berukuran sangat tipis dan fleksibel.

Jongho Lee, salah satu anggota peneliti Gwangju, mengatakan, panel surya yang dikembangkannya itu memiliki ukuran ketipisan mencapai satu mikrometer. Dengan ukurannya yang sangat tipis itu, panel surya besutannya dapat dilipat dan digulung hingga ukurannya tak lebih besar dari sebuah pensil.

Ukurannya yang sangat tipis itu memungkinkan panel surya Lee dapat diaplikasikan pada berbagai macam gadget untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, panel itu dapat dipasang pada kacamata ataupun jam tangan pintar yang kini tengah laku di pasaran.

Selain bisa dimanfaatkan untuk pengembangan gadget, panel surya Lee itu dapat pula dipasang pada pakaian. Dengan begitu, pengembangan pakaian pintar dapat terwujud dengan mudah. Hal itu menandakan, panel surya Lee dapat diaplikasikan pada berbagai benda yang ada di sekitar manusia.

Dengan temuan ini, ada kemungkinan seluruh gadget yang ada nantinya tidak akan perlu melakukan pengisian daya menggunakan kabel. Hal itu tentunya akan menguntungkan pabrikan gadget karena akan memangkas biaya produksi penyediaan aksesoris pengisi daya. Meski begitu, pastinya dana produksi gadgetnya akan lebih besar.

Walau menjanjikan banyak kemudahan untuk kemajuan teknologi, panel surya tertipis itu masih menyisakan beberapa kemungkinan masalah. Pertama, dengan kemudahan penerapannya, dapat dipastikan panel surya itu akan sering bersinggungan dengan tubuh manusia. Hal itu pastinya akan mempengaruhi struktur sel dalam tubuh.

Sebab, sebagai suatu kembangan teknologi, panel surya Lee pastinya akan memberikan dampak radiasi terhadap tubuh. Namun, potensi radiasi itu belum dapat diukur seberapa tingkat bahayanya.

Kalkulasi dampak radiasi proses pengubahan cahaya matahari menjadi energi kepada tubuh manusia harus segera ditemukan dan dicari solusinya. Tanpa ada kalkulasi yang tepat, ada kemungkinan panel surya Lee itu akan menyebabkan berkembangnya penyakit kanker secara masif.

Kedua, hal perlu diperhatikan, seberapa besar kemampuan panel surya Lee dapat menyerap energi matahari dan menyimpannya. Untuk sebuah panel surya, berukuran standar seperti yang telah digunakan saat ini, dapat menampung daya listrik hingga 210 watt dalam pengisian daya selama empat jam.

Untuk dapat menghidupi satu rumah, dibutuhkan 24 panel surya. Dengan pengisian selama 4 jam, 24 panel itu dapat memberikan daya listrik hingga 20 ribu Watt. Tentunya kemampuan ini akan berbeda dengan kemampuan penyimpanan daya listrik oleh panel surya Lee.

Lalu, hal yang harus diperhatikan pada pengembangan teknologi panel surya Lee ini ialah daya tahan panel surya tersebut. Walaupun diklaim memiliki fleksibiltas tinggi, masih ada kemungkinan panel surya tersebut dapat rusak oleh hal lain, seperti perubahan suhu.

Daya tahan itu penting karena tanpa ada daya tahan suhu yang kuat, panel surya dapat rusak dengan cepat. Selain itu, daya tahan yang harus diperhatikan ialah terhadap air. Bila panel itu kurang mampu bertahan terhadap air, panel surya itu akan sangat percuma diaplikasikan dalam bentuk teknologi lainnya.

Dan terakhir ialah baterai penyimpanannya. Lee masih belum menjelaskan secara gamblang bagaimana mekanisme penyimpanan daya listrik pada panel listrik tipisnya. Sebab, dengan tingkat ketipisan itu, peletakan baterai penyimpanannya pastinya akan berukuran kecil. Hal itu perlu penelitian lebih lanjut agar baterai itu tidak mudah meledak atau terbakar karena ukurannya yang sangat tipis.

Di balik kelebihan dan kekurangan panel listrik tipis ini, upaya Lee dan koleganya merupakan upaya positif untuk menerapkan tenaga surya lebih maksimal. Penyempurnaan teknologi panel surya Lee harus dikembangkan agar dapat segera dimanfaatkan di berbagai bidang teknologi. Bila telah sempurna, kemungkinan besar seluruh teknologi nantinya akan menggunakan sistem panel surya Lee.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Science Alert/Eurek Alert
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 152
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 388
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 210
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 166
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 244
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya