Otomatisasi Angkutan Umum

| dilihat 2379

AKARPADINEWS.COM | ANGKUTAN umum merupakan salah satu solusi memecahkan permasalahan kemacetan di kota-kota besar. Namun, angkutan umum kurang dinikmati masyarakat, khususnya kalangan menengah atas, lantaran tak optimal menyuguhkan kenyamanan. Seringkali pula penumpang dibuat panik lantaran supir suka ugal-ugalan. 

Akibatnya, seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, tak mampu menurunkan minat masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan umum guna menekan jumlah kendaraan yang hilir mudik di jalan-jalan umum.

Indonesia, perlu belajar dari Belanda menghadapi persoalan itu. Negeri kincir angin itu telah menerapkan angkutan umum berbasis teknologi otomatis bernama Wepod. Desain awal Wepod berasal dari perusahaan Easymile, yang kemudian dikembangkan oleh Citymobil2, projek yang didanai Uni Eropa untuk penyediaan angkutan umum otomatis yang ramah lingkungan.

Angkutan umum tersebut berbentuk bis dengan ukuran tinggi kurang lebih 2,9 meter dan lebar 1,9 meter. Wepod akan dioperasikan tahun ini di Kota Wageningen dengan jarak tempuh hingga 200 meter berkeliling kota.

Kendaraan tanpa supir ini memiliki enam buah bangku penumpang dan memiliki teknologi yang akan membantu penyandang difabel untuk menaikinya. Selain itu, Wepod dilengkapi dengan pintu otomatis yang akan terbuka di halte yang sudah diprogramkan. Pengontrolan kendaraan listrik otomatis ini dimonitor oleh operator yang ada di ruangan kontrol di pangkalan bis.

Kendaraan ini dapat berjalan dengan kecepatan maksimum 25 kilometer per jam. Tetapi, demi keselamatan penumpang, kecepatan kendaraan ini diprogram delapan hingga 15 kilometer per jam. Kecepatan itu dianggap aman dan nyaman bagi penumpang.

Sebelum munculnya Wepod, Belanda sudah mengoperasionalkan kendaraan umum sejenis di Rotterdam sejak 2005 dengan nama ParkShuttle. Kedua kendaraan tersebut memiliki teknologi yang serupa.

Namun, pembedanya, Wepod dapat diaplikasikan di jalan raya yang sudah ada. Sedangkan ParkShuttle, memerlukan infrastruktur tambahan berupa jalanan khusus. Wepod juga dilengkapi kamera, radar, dan sensor laser. Dengan dukungan teknologi itu, Wepod dapat memantau area di sekitarnya dan mampu berhenti bila ada pejalan kaki atau kendaraan lain di depannya. Wepod juga terpantau oleh operator dari kejauhan.

Ke depan, Wepod akan ditambah beberapa kamera lagi sehingga dapat memetakan jalurnya sendiri dengan sistem Global Positioning System (GPS). Dengan begitu, Wepod akan lebih responsif terhadap keadaan sekitarnya.

Bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau penumpang ingin melakukan pemberhentian mendadak, maka penumpang dapat menghubungi operator Wepod dengan jalur komunikasi yang ada di dalamnya. Dengan begitu, operator dapat menghentikan kendaraan dari jarak jauh.

Untuk menaikinya, penumpang dapat menunggu di halte bis yang sudah terintegrasi. Penumpang juga dapat memantau angkutan umum otomatis ini melalui ponsel pintarnya. Dengan begitu, penumpang tidak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan jadwal Wepod atau sibuk memantau sudah sejauh mana kendaraan tersebut mendekati halte bis.

Selain Belanda, negara yang mulai menerapkan teknologi angkutan umum otomatis ialah Inggris. Negara Ratu Elizabeth itu sudah menerapkan angkutan umum otomatis bernama LUTZ Pathfinder di dekat stasiun kereta Milton Keynes, Buckinghamshire, dan Heathrows PODS di London.

Bila dibandingkan dengan Wepod, kedua angkutan umum otomatis itu jauh tertinggal. Karena, LUTZ Pathfinder hanya memiliki kapasitas penumpang untuk dua orang dan masih dapat dikendarai sendiri oleh penumpang. Sedangkan Heathrows PODS masih bergerak di atas rel khusus sehingga tidak dapat bergerak bebas dan hanya mampu mengangkut maksimal empat penumpang.

Mulai bermunculannya angkutan umum tanpa supir itu dapat dicontoh oleh Indonesia. Namun, untuk penerapannya diperlukan infrastruktur yang memadai dan mengubah pola berpikir masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi. Bila terobosan angkutan umum otomatis dilakukan dan berhasil, kemacetan dan polusi udara karena emisi kendaraan umum, akan berkurang.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Telegraph/Wepods/Daily Mail
 
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 321
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 174
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 169
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 19
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1940
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya