Berkunjung ke Pabrik Ferrari - Maranello

Enzo Ferrari dan Mimpi Kolektif bersama Pekerja

| dilihat 2147

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

SEJAK Mahendra menghubungi saya dan memberi tahu ada undangan dari pabrik Ferrari, di awal April, hati saya sudah senang. Di tengah kesibukan kerja rutin, saya sempatkan untuk ‘membuncahkan mimpi’ tentang mobil super berlambang kuda jingkrak itu.

Terus terang, saya agak heran menyaksikan sejumlah orang di Jakarta rela mengeluarkan uang miliaran rupiah dari kocek mereka untuk mendapatkan produk Ferrari. Apa sungguh yang membuat mereka nekad begitu. Jawabnya memang segera mudah didapat: snobisme dan lagak legek untuk mendapatkan simbol status sosial.

Ketika Matteo mengajak kami menelusuri seluruh sudut dan sisi pabrik Ferrari, mimpi itu menjadi kenyataan. Dari banyak penjelasan Matteo dan dari pandangan mata ke seluruh proses produksi mobil Ferrari, yang paling menarik perhatian saya adalah perkembangan Ferrari pada dekade 80-an. Yaitu, dekade ketika di berbagai poster di seluruh dunia, tertampang produk Ferrari Testarossa.

Dekade ini merupakan masa bagi Enzo bertemu dengan momentum manifestasi seluruh mimpinya. Mobil Ferrari F40 diproduksi untuk memperingati 40 tahun perusahaan ini. Mobil dengan bodi serat karbon, panel Kevlar, dan sayap lebar, ini juga menghasilkan beragam produk merchandise dan replika yang tersebar meluas.

Dekade ini adalah dekade ketika Enzo mencapai puncak kejayaannya, sebelum akhirnya meninggal pada usia 90 tahun (1988). Saat itu, saham Fiat di Ferrari naik menjadi 90 persen, sampai sekarang. Enzo hanya memiliki 10 persen saja, dan menempatkan puternya yang lain, Piero menjadi vice president Ferrari.

Momentum ini menjadi penting untuk melihat posisi Ferrari dalam keseluruhan konstelasi industri mobil super di dunia. Apalagi, pada 1991, Luca di Montezelomo bergabung dan memegang kendali perusahaan bersama Piero.

Di tangan Luca yang sangat peduli dengan pekerja dan lingkungan sosial dan fisik perusahaan, Ferrari menemukan enduransi baru untuk bergerak lebih cepat memenuhi penggila Ferrari di seluruh dunia. Beberapa mobil super diproduksi, seperti F50. Inovasi terus dilakukan sesuai dengan tuntutan pasar, sehingga Ferrari memproduksi massal mobil dengan mesin lebih kecil (V8) di seri F355, selain tetap mempertahankan Testarossa di jenis mobil V12.

Luca terus bergerak dan mendedikasikan mobil super 230 mph yang diberinya nama Enzo Ferrari pada 2003. Luca juga mendedikasikan Enzo dengan memberi nama buleverad di dalam kompleks pabrik dengan nama pendiri perusahaan itu. Selebihnya, nama-nama jalan diberi nama-nama pembalap yang pernah berkongsi dengan Ferrari, seperti Michael Schumacher. Luca juga mengubah minda untuk menerapkan sistem produksi mobil yang lebih efektif, efisien, bersih, dan karib dengan lingkungan.

Akhirnya, perusahaan ini menjadi produsen mobil utama yang menempatkan seluruh karyawannya sebagai human capital. Karenanya, jarang pernah membersit berita terjadi aksi mogok pekerja di pabrik Ferrari. Luca berprinsip, pekerja adalah mitra utama perusahaan, dan ia menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan masa depan yang aman bagi setiap pekerjanya.

Luca ingin, setiap pekerja di perusahaan Ferrari, mengalami proses hidup seperti halnya Enzo Ferrari, dapat hidup sejahtera. Dan kemudian, mengembangkan kemitraan dengan Ferrari setelah mereka tak lagi bekerja di sana. Dengan cara begitu, responsibilitas dan cinta pekerja kepada perusahaan tak pernah berakhir, meski mereka tak lagi berada di dalamnya.

Ferrari adalah rumah kehidupan Enzo dan para pekerjanya. Komitmennya sama: membuat perusahaan bergerak lebih cepat dengan perusahaan zaman. Inilah yang akhirnya, di setiap bisnis mantan pekerja Ferrari, selalu terdapat sudut kecil tentang Ferrari. Mereka masih mendapatkan penghidupan dari sudut-sudut yang menjual ragam merchandise Ferrari.

“Meski saham perusahaan milik Fiat dan keluarga Enzo, kami seluruh pekerja di sini merupakan bagian dari keluarga Ferrari yang mendapat limpahan keunggulan dan keberuntungan yang dihasilkan setiap produk Ferrari,” ujar Matteo yang ramah itu. Kemajuan perusahaan ini, karena terintegrasinya mimpi pemilik, pemimpin, dan pekerja di perusahaan ini, sampai ke tukang sapu yang saya lihat tak henti menjalankan tugasnya di dalam pabrik.

Apa yang diungkapkan Matteo, saya saksikan di hampir setiap sudut dan sisi kehidupan kota Maranello. Hmmhhh.... | 

 

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 315
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 169
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 167
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 335
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 419
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 591
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya