Perlawanan dari Dalam dan Tekanan dari Luar

Taliban Hadapi Tantangan Baru

| dilihat 106

Meski telah menaklukkan dan menguasai Kabul, ibukota Afganistan, Taliban masih harus terus bekerja keras dan fokus menghadapi dan mengatasi tantangan baru untuk mengelola negaranya, Afganistan. Tak hanya mempercepat proses konsolidasi untuk segera menjalankan pemerintahan, menghadapi serangan balik dari pemerintah lama binaan Amerika Serikat (AS) yang dipimpin mantan Wakil Presiden Amrullah Saleh, juga penyusupan kelompok ISIS yang ingin menangguk kesempatan.

Amrullah Saleh, menyatakan dirinya sebagai acting Presiden dan 'penjaga' Afganistan. Ia dan pasukannya, bertahan di Provinsi Panjshir, dan terus melakukan aksi perlawanan. Termasuk melakukan berbagai provokasi.

AS mengklaim, pihaknya telah membalas pemboman mematikan yang dilakukan ISIS di Kabul, melalui serangan dari pesawat tak berawak di Nangahar dan menewaskan salah seorang perancang serangan 26 Agustus itu.

Amrullah Saleh, Sabtu (28.8.21) menyatakan, Pemerintahan Taliban -- bila sudah terbentuk -- tidak akan bertahan lama. Kepada Euronews, Saleh menyatakan, Imarah Islam Taliban tidak dapat diterima oleh rakyat Afghanistan. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa pemilihan pemimpin Taliban tak dapat diterima.

Dia juga memprediksi, Taliban akan menghadapi 'krisis militer yang mendalam' di berbagai provinsi, selain Panjshir, yang saat ini meningkatkan perlawanan terhadap mereka. Pernyataannya, itu terkesan hanya untuk memelihara semangat pasukannya.

Pasukan perlawanan di provinsi Panjshir pada hari Sabtu menolak klaim Taliban, bahwa pasukan mereka sudah memasuki provinsi Panjshir dari berbagai arah. Pasukan yang berada di bawah kendali Ahmad Shah Massoud di provinsi itu, seperti diberitakan ToloNews, mengatakan, tidak ada seorang pun yang memasuki provinsi tersebut.

"Tidak ada pertempuran di Panjshir dan tidak ada seorang pun yang memasuki provinsi itu," kata Mohammad Almas Zahid, salah seorang komandang Front Perlawanan.

Meski demikian, Saleh terkesan tak dapat mengingkari daya tahan Taliban selama 20 tahun, untuk kembali menguasai wilayah yang disebut-sebut sebagai kawasan Khorasan jaman silam.

Dia tak mampu menyembunyikan kegalauannya, dan berharap bantuan Uni Eropa. Menurutnya, persekutuan negara-negara Eropa, itu  'harus memikul tanggung jawab moral dan dukungan untuk Perlawanan Nasional Afghanistan yang dipimpinnya, secara politik dan moral.

Taliban secara naluriah, membaca kegalauan Saleh. Sabtu (28.8.21) tengah hari, keluar keputusan tegas, menutup bandara Kabul, untuk mencegah kerumunan besar orang meninggalkan negara itu, saat penerbangan evakuasi terakhir NATO meninggalkan Afghanistan.

Pada waktu yang bersamaan, Taliban melakukan penguatan penjagaan dan pengawasan, dengan menambah lapisan baru check point di Kabul. Khususnya ke semua jalan menuju bandara.

Pasukan Taliban dengan berseragam Humvee dan kacamata untuk penglihatan malam yang diambil dari pasukan keamanan Afghanistan, terlihat berjaga-jaga.

Ini tindakan taktis Taliban, menyusul perbincangan mereka dengan intelijen AS dalam suatu pertemuan rahasia, Rabu (25.8.21).

Presiden AS Joe Biden tak mengubah tenggat (31.8.21) bagi warga negaranya secara besar-besaran sudah harus meninggalkan negara yang berbatasan dengan Iran, Pakistan, Tajikistan, itu. Inggris juga secara maraton, membawa pulang pasukannya dari Afghanistan, yang merupakan bagian dari kontingen 1.000 yang telah berbasis di Kabul.

Sebelumnya, Taliban mengklaim bahwa pasukan mereka memasuki provinsi Panjshir. “Tidak ada pertempuran yang terjadi, tetapi mujahidin Imarah Islam Afghanistan maju dari berbagai arah tanpa menghadapi perlawanan. Pasukan Imarah Islam telah memasuki Panjshir dari arah yang berbeda,” kata Anaamullah Samangani, anggota Komisi Kebudayaan Taliban, lapor Tolo News .

Badan PBB untuk urusan pengungsi menyebutkan, ketidak-pastian di Afganistan, dapat memaksa sekitar 500.000 warga Afghanistan meninggalkan negara itu dalam empat bulan ke depan. Hal itu dinyatakan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada hari Sabtu.

Menurut siaran UNHCR, dari Jeneva, sampai saat ini belum ada migrasi massal, tetapi situasi yang berkembang akan menyebabkan sejumlah besar orang meninggalkan negara itu.

Kelly T Clements, Wakil Komisaris Tinggi UNHCR, Sabtu,  menyatakan, "Meskipun kami belum melihat arus keluar besar warga Afghanistan pada saat ini, situasi di dalam Afghanistan telah berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun." Ia juga meminta, negara-negara yang berbatasan dengan Afganistan, membiku pintu perbatasan mereka bagi pengungsi Afganistan.

Presiden, Biden dari Washington, 'memperingatkan' Taliban untuk membuka kembali bandara internasional Hamid Karzai, Kabul, bagi pemulangan warga negaranya di Afganistan. Dia, dengan gaya khas AS,  berjanji untuk melanjutkan serangan udara terhadap kelompok ISIS yang menyelusup dan meledakkan bom bunuh diri di bandara Kabul, Kamis lalu.  

Ledakan bom, itu telah menewaskan puluhan warga Afghanistan dan 13 anggota layanan Amerika. Ia memprediksi, serangan teror lain,  sangat mungkin terjadi akhir pekan ini, saat AS menghentikan evakuasinya.

"Serangan ini bukan yang terakhir," kata Biden dalam sebuah pernyataan. "Kami akan terus memburu siapa pun yang terlibat dalam serangan keji itu," lanjutnya. "Komandan kami memberi tahu saya bahwa serangan sangat mungkin terjadi dalam 24-36 jam ke depan," tambah Biden.

Ia dikabarkan, telah menginstruksikan mereka untuk mengambil semua tindakan yang paling mungkin untuk melindungi pasukan AS, yang masih mengamankan bandara, dan membantu membawa ke lapangan terbang.

Ditutupnya bandara internasional Hamid Karzai, Kabul sudah menggalaukan warga Amerika dan warga asing lainnya.

Presiden Perancis Emmanuel Macron yang anti Islam, menyatakan dari Paris, Prancis dan Inggris menyerukan penciptaan 'zona aman' di Kabul, sejak Senin (30.8.21). Menciptakan 'zona aman' itu diperlukan untuk kelanjutan operasi kemanusiaan.

Macron, seperti dikabarkan Sputnik, mengatakan bahwa Prancis dan Inggris sedang mengembangkan "draf resolusi" yang "bertujuan untuk mendefinisikan zona aman, di bawah kendali PBB."

Macron menjelaskan bahwa "zona aman" seperti itu akan memberikan kerangka kerja bagi PBB untuk bertindak dalam keadaan darurat. Untuk itu, dia mengatakan, Prancis mengandalkan bantuan Qatar dalam hal operasi pengangkutan udara.

Perancis dan Inggris sedang berdiskusi dengan Taliban melalui Qatar, untuk "melindungi dan memulangkan" warga Afghanistan yang berisiko, sejak pengambilalihan kekuasaan. Sejak 17.8.21, Prancis telah mengevakuasi 2.834 orang dari Afghanistan sebagaimana diberitakan SamaaTV.

 Evakuasi yang akan dilakukan Prancis dan Inggris, direncanakan bersama dengan Qatar dan mungkin melibatkan "operasi pengangkutan udara."

Di saat AS dan sekutu NATO sibuk memikirkan kepentingan evakuasi warga negaranya, Perwakilan Khusus Presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, menginformasikan, bahwa Taliban sedang mengadakan diskusi internal yang serius tentang pembentukan pemerintahan baru. Salah seorang pemimpin Taliban, Sher Mohammad Abbas Stanikzai memainkan peran penting sebagai telangkai, matchmaker.

"Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan akhir, tetapi ada sinyal yang menggembirakan, seperti proses pembentukan kepemimpinan baru sementara atau setidaknya mengumumkan komposisinya," kata Kabulov.

Dia menambahkan, bahwa hal itu menunjukkan, bahwa kepemimpinan gerakan Taliban sedang mengalami masalah serius. Dalam diskusi, itu Mullah Abdul Ghani Baradar, yang merupakan pemimpin de facto Taliban, sekaligus 'Presiden in waiting,' mengembangkan proses pemikiran, pembentukan kepemimpinan baru, yang akan mencakup perwakilan dari kekuatan etnopolitik lainnya.

Mullah Abdul Ghani Baradar diharapkan menjadi pemimpin Taliban sekaligus Presiden Afganistan berikutnya. Dia akan mengemban beban tak ringan, setelah berperang melawan Rusia dan Amerika. Yakni, meyakinkan dunia, bahwa pemerintahan Taliban akan menjadi kekuatan yang lebih moderat. | Jeahan, Tique, Haedar.

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 127
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 152
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
29 Agt 21, 17:01 WIB | Dilihat : 107
Taliban Hadapi Tantangan Baru
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 166
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 655
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1571
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya