Wapres AS Kunjungi Singapura dan Vietnam

Senyum Kamala Harris Isyarat Amerika Serikat untuk ASEAN

| dilihat 152

Sejak Ahad (22/8/21) Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris berkunjung ke Singapura, kemudian ke Vietnam, dalam kunjungan kenegaraan selama sepekan ke Asia Tenggara, menguatkan kembali hubungannya dengan ASEAN (Association South East Asia Nation).

Harris tak terlepas dengan gayanya yang rileks, bersahaja, dengan senyum dan gelak yang memburai. Karib.

Di tengah pemerintahan Biden - Harris yang sedang berjuang keras mewan krisis, menyusul keputusan Biden menarik pasukan dari Afghanistan, kunjungan Harris ke Singapura dan Vietnam, tanpa berkunjung ke Jakarta, Kuala Lumpur atau Manila.

Tentu menarik dicermati, karena kunjungan Kamala Harris sebagai kunjungan resmi kenegaraan ke Asia Tenggara, tak menyempat diri 'mampir' ke Jakarta. Atau memang sedang berlaku prinsip kunjungan resmi kepresidenan, "effective and efficient visit directly to the destination benefits."

Menurut Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, dalam konferensi pers di Istana, Senin (23/8/21) kunjungan Wapres ini menyusul kunjungan Menteri Pertahanan Lloyd Austin sebulan yang lalu.

Ini, kata Lee, menekankan komitmen Pemerintah AS untuk wilayah ini. Ini menunjukkan bahwa AS memiliki kepentingan strategis dan ekonomi di Asia Tenggara. Kami menghargai AS yang memperbarui hubungannya dengan teman dan mitranya di sini, terutama dengan Singapura.

Weak Up Call

Gedung putih memandang, ketika sedang digebrak Taliban di Afganistan -- sambil membaca aksi Taliban yang sedang menjalin hubungan dengan China, Juli 2021 lalu -- menempatkan  ASEAN dalam posisi strategis orientasi baru Asia Pasifik, adalah kebijakan politik luar negeri paling pas.

Karenanya, ASEAN menjadi fokus dan prioritas yang luar biasa dari Joe Biden dan Kamala terkait Indo-Pasifik yang sangat penting.

ASEAN dibentuk di Bangkok, Thailand (8 Agustus 1967) oleh para menteri luar negeri Narciso Ramos (Filipina), Abdul Razak Hussein (Malaysia), Adam Malik (Indonesia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand). Kemudian bermarkas di Jakarta. Di kota raya yang masih menjadi ibukota Republik Indonesia inilah kepala perwakilan negara-negara Asia Tenggara berkumpul.

Dari argumen tersebut kita membaca kunjungan resmi Harris ke Asia Tenggara, kawasan di mana pengaruh ekonomi dan politik China telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, merupakan weak up call bagi negara-negara ASEAN.

Singapura dan Vietnam dipandang Gedung Putih sebagai pintu masuk yang paling strategis daam memastikan prioritas Joe Biden untuk memperkuat posisi AS di Asia, sekaligus memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, yang sangat penting dari tujuan Washington untuk menghadang ambisi China.

Berbagai sumber di Washington DC memberikan gambaran informasi, bahwa Asia Tenggara dihuni lebih dari 660 juta orang, Singapura dan Vietnam merupakan dua negara dengan pertumbuhan tercepat.

AS Memperjelas Posisi

Kedua negara ini, juga lebih relevan dengan kepentingan strategis mempertahan pengaruh di kawasan ini. Posisi strategisnya yang dekat dengan  Laut Cina Selatan, sebagai rute pelayaran komersial penting yang dilewati triliunan dolar perdagangan global setiap tahun.

Dalam konteks ini, Indonesia, Filipina dan Malaysia, bukan sesuatu yang prioritas. Asumsi demikian, agaknya mengemuka, selepas Menteri Luar Negeri Antony Blinken 'hadir dalam pertemuan virtual ASEAN, awal Juli 2021, lalu.  

Angle Mancini mitra konsultan Control Risks yang mengepalai pasar Asia Pasifik, memandang kunjungan Kamala ke Singapura dan Vietnam, sebagai manifestasi kebijakan Biden yang lebih "terukur" dalam keterlibatan AS di negara-negara Asia Tenggara.

Menurut Mancini, Pemerintahan Biden sangat ingin memperjelas, bahwa keterlibatannya dengan Asia Tenggara jauh lebih luas dari hanya persoalan persaingan Amerika - China. Karenanya dengan pemimpin pemerintahan di Singapura dan Vietnam,   Harris akan melibatkan para pemimpin Singapura dan Vietnam dalam berbagai isu mulai dari keamanan regional, pandemi Covid-19, dan perubahan iklim.

Biden dan Harris melihat peluang, justru ketika China lebih agresif di kawasan ini, dan berusaha mendominasi ruang di Indonesia dan Malaysia, melalui program-program investasi infrastruktur di bawah inisiatif OBOR (one belt one road) Presiden China Xi Jinping, yang disebut juga sebagai New Silk Road, Jalur sutra baru.

Kunjungan Harris, nampak sekali akan fokus pada keamanan regional dan peluang ekonomi, karena Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam lebih punya taji dan terukur dalam menghadapi China, dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara lainnya dalam ASEAN.

Bisnis Digital

Singapura  mendorong keterlibatan AS yang lebih besar di Asia, sambil memperingatkan, bahwa upaya 'mengendalikan' kebangkitan China merupakan sesuatu yang kontraproduktif, seperti terungkap dalam laporan Congressional Research Service, yang melakukan penelitian dan analisis untuk Kongres AS, April 2021.

Kunjungan Harris ke Singapura dan Vietnam, membawa isyarat Amerika Serikat kepada ASEAN. Tak hanya dalam konteks politik ekonomi berbasis sumberdaya alam yang usang dan tak ajeg, seperti terjadi di Indonesia, Filipina, dan Myanmar.  

Lebih jauh dari itu juga terkait dengan perdagangan digital (digital trading) yang berfokus pada ekonomi digital, dengan menetapkan aturan dan standar perdagangan digital di antara negara-negara peserta, seperti penyimpanan data lintas batas dan perlindungan data pribadi.

Karena itu, masuk akal, bila Harris dan Lie Hsien Loong bersepakat menandatangani perjanjian terkait dengan perdagangan digital berbasis block chain system. Paling tidak, untuk menetapkan aturan di jalur ekonomi digital.

Ini juga pintu masuk untuk memasuki lanskap yang semakin ramai, merambah perjanjian multilateral di masa depan, menerobos masuk mengimbangi China yang kini memimpin kemitraan ekonomi koprehensif regional kawasan Asia Tenggara dan Trans Pasific Partnership (TPP).

Melalui kerjasama bilateral dengan Singapura, Amerika Serikat bisa memantau perjanan aksi The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) - yang ditandatangani di Santiago, Chili (8.11.18).

Lindung Nilai Politik Efisien Biden-Harris

Perjanjian perdagangan bebas ini melibatkan Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Peru, Selandia Baru, Singapura dan Vietnam.

Kunjungan Harris ke Singapura, selain berbincang dengan Presiden Singapura Halimah Yacob dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong, juga mengunjungi Pangkalan Angkatan Laut Changi dan mengunjungi USS Tulsa - kapal tempur Angkatan Laut AS. Singapura memang bukan sekutu perjanjian AS, namun merupakan salah satu mitra keamanan terkuat AS di kawasan Asia Tenggara dengan hubungan perdagangan yang mendalam.  Singapura memainkan peran sebagai lindung niai atas kebijakan efisiensi dan efektivitas Biden - Harris.

Ilmuwan politik dari National University of Singapore, Ching Ja Lan, mengemukakan, baik Lee maupun Harris akan sangat cermat memperhatikan ASEAN, sekaligus sebagai bagian dari upaya menghindari kesan bahwa Beijing mungkin menemukan alasan untuk bermusuhan.

Kunjungan Harris ke Singapura dan Vietnam, tak luput dari pantauan Beijing, yang menangkap signal balas, ketika China membuka ruang bagi Taliban, yang mencolok mata AS.

Akan hanya Curtis Chin dari Milken Institute, bekas Kepala Perwakilan AS di Bank Pembangunan Asia, memandang AS memang poros bisnis, dan Singapura dan Vietnam dapat menjadi mitra kunci dalam upaya itu.

Dalam konferensi pers usai perbincangan dengan Harris, Lee menyatakan, keduanya menegaskan kembali kemitraan yang kuat dan langgeng antara Singapura dan AS. Singapura mengapresiasi peran aktif AS di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di Asia Tenggara diapresiasi.

Singapura Rumah Investor AS

Singapura - AS saling mendukung untuk tatanan yang stabil dan berdasarkan aturan di kawasan, sesuai dengan hukum internasional, dimana semua negara dapat bekerja sama dan bersaing secara damai satu sama lain, dan makmur bersama.

Lee juga mengemukakan, kerja sama ekonomi antara AS dan Singapura dinamis dan berkembang. Free Trade Agreement dengan AS,  yang ditandatangani pada tahun 2004, merupakan yang pertama antara AS dengan negara Asia.

Sejak itu perdagangan bilateral kedua negara, yang seimbang dan saling menguntungkan, meningkat lebih dari dua kali lipat.

Menurut Lee, Singapura merupakan investor Asia terbesar kedua di AS, dengan saham investasi langsung US$65 miliar. Dikemukakan oleh Lee, investasi Singapura di AS bersama dengan ekspor Amerika ke Singapura, mendukung lebih dari seperempat juta pekerja di Amerika.

Saat ini, Singapura merupakan 'rumah' bagi hampir 5.500 perusahaan AS, yang merupakan investor asing langsung (froreign direct invesment - FDI) terbesar di Singapura.  Saham FDI AS di Singapura adalah US$315 miliar – lebih banyak dari gabungan investasi AS di China, India, dan Korea Selatan.

Kunjungan Harris ke Singapura kali ini, memantik kesadaran, pergerakan ekonomi di negara kota itu dan Vietnam dan taji-nya di kawasan Asia Tenggara, sedang bergerak cepat. Negara kecil dengan pengaruh besar. Tak terpengaruh dengan jurus jurus politik 'mengeruhkan kolam untuk menangkap ikan besar' ala China. | SHAHNON

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 203
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 323
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 213
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 581
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 367
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1210
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1464
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya