Semua Orang Bisa Jadi Pahlawan Anti Hoaks

| dilihat 98

AKARPADINEWS - JAKARTA | Perkembangan teknologi digital saat ini memungkinan setiap orang dapat mengakses informasi dari manapun dan kapanpun. Tentunya, banjir informasi itu membuat seseorang sulit membedakan mana informasi berbasis fakta dengan hoaks.

Demi membekali warganya dari bahaya hoaks yang tersebar di internet, khususnya di media sosial, Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik (Diskominfotik) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menyelenggarakan Webinar Jakarta Sadar Olah Literasi Digital (SOLID) Makin Cakap Digital, 10 November 2022, dengan tajuk “Semua Bisa Menjadi Pahlawan Anti Hoaks.”

Bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan, webinar ini relevan bagi insan digital bangsa untuk berjuang menciptakan ruang digital yang berisi informasi berkualitas. Jika dahulu para pejuang bangsa bertumpah darah melawan penjajah, kini masyarakat bergotong-royong melawan kebohongan.

Pada webinar kali ini, Diskominfotik DKI Jakarta menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi muda pemberantas hoaks, yakni Bentang Febrylian dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Wulan Fitria Ramadani dari Fact Checker UI, Helmi Fadhillah Dwi Putra dari Literasi Pemuda Indonesia, serta Dian Muhtadiah Hamna, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar.

Plt. Kepala Dinas Kominfotik Provinsi DKI Jakarta, Raides Aryanto berharap masyarakat digital bisa terus menerapkan berbagai pengetahuan digital yang diperoleh dari webinar kali ini, khususnya untuk memberantas hoaks yang terus beredar.

“Mari bersama-sama mendorong kemampuan literasi digital Indonesia menjadi lebih baik ke depannya dan siap menghadapi berbagai tantangan digital di masa depan,” pungkas Raides dalam sambutannya.

Fenomena yang Mengkhawatirkan

Interaksi dalam dunia digital begitu masif, bahkan melebihi interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari secara langsung. Dalam berinteraksi, kesopanan atau tata krama tentu menjadi hal yang harus dikedepankan agar tidak menyinggung dan menyulut konflik.

Begitu pun dengan dunia digital. Dalam konsep literasi digital, pilar etika digital menjadi vital karena menyangkut tentang cara kita berinteraksi dengan sesama di dunia maya. Maraknya informasi palsu atau hoaks di ranah digital merupakan dampak dari rendahnya penerapan etika digital di masyarakat.

Bintang Febrylian menjelaskan bahwa beredarnya hoaks di dunia digital adalah fenomena yang mengkhawatirkan. Secara mendasar berita bohong atau hoaks bisa dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Misinformasi, Disinformasi, dan Malinformasi. Ketiga jenis berita bohong tersebut memiliki motif dan tujuan yang berbeda.

Dengan memahami berbagai motif dari hoaks, kita akan lebih mudah untuk mengidentifikasi keaslian dari informasi atau berita yang kita dapatkan di media sosial maupun media massa.

Secara umum, ada beberapa ciri dari informasi hoaks yang tersebar di dunia digital. Kelima ciri tersebut adalah diawali dengan kata sugestif dan heboh, tidak muncul di media arus utama, mencatut nama tokoh atau institusi terkenal, disertai dengan huruf kapital dan tanda seru, serta terdengar tidak masuk akal dan disertai penelitian palsu.

Berbagai tips di atas merupakan cara mengidentifikasi hoaks yang tersebar dalam bentuk tulisan atau informasi di media sosial dan media massa. Narasumber selanjutnya, Wulan Fitria menekankan cara termudah untuk terhindar dari hoaks dan tidak menjadi pelaku penyebar hoaks adalah dengan menahan diri.

Tahan Jempol

“Mulailah dari kita dulu menjadi warganet yang bijak. Setiap membaca informasi sebaiknya dibaca hingga tuntas. Ditahan jempolnya dan jangan FOMO (Fear of Missing Out),” ujar Wulan seputar cara agar tidak mudah terperangkap hoaks.

Ruang digital yang didominasi oleh generasi muda menjadi tempat yang sangat rentan dalam penyebaran hoaks. Karenanya, peran dari anak muda sangat besar sebagai agen pemberantas hoaks.

Helmi Fadhillah Dwi Putra dari Literasi Pemuda Indonesia selaku narasumber menekankan bahwa anak muda sebenarnya bisa menjadi pilar terdepan dalam memberantas hoaks. Melalui kreasi konten kreatif, anak muda mengambil peran untuk menyebarkan berbagai konten penangkal hoaks di media sosial.

Media sosial dan media massa merupakan corong utama media digital di Indonesia. Masifnya penyebaran informasi yang tidak disertai dengan filter kurasi media bisa menjadi bumerang tersendiri bagi media massa yang justru bisa terjerumus menyebarkan hoaks.

“Saya melihat ada degradasi jurnalisme, intisarinya adalah verifikasi informasi dan jangan melakukan manipulasi,” Papar Dian Muhtadiah Hamna selaku narasumber menjelaskan latar belakang banyaknya hoaks yang beredar di media massa.

Dian menjelaskan ada beberapa faktor penyebab terjerumusnya media massa yang semula adalah kanal informasi aktual dan faktual menjadi kanal informasi sesat. Faktor-faktor tersebut adalah lemahnya jurnalisme, tren tidak adanya reportase langsung, daur ulang berita lama dengan narasi yang berbeda.

Karenanya, peran para jurnalis profesional begitu penting dalam mencegah masifnya peredaran hoaks. Kita patut bersyukur karena beberapa media daring nasional sudah tergabung dengan International Fact-Checking Network, yaitu asosiasi pemeriksa fakta internasional yang memberikan sertifikasi bagi beberapa media yang layak menjadi kanal pemberantas hoaks.

Dalam konteks legal, melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, profesionalisme dalam profesi jurnalis adalah aspek utama, khususnya dalam menegakkan kode etik dari profesi kewartawanan yang terbebas dari berita bohong dan manipulasi.

Tugas Bersama Berantas Hoaks

Penyelenggaraan webinar Jakarta SOLID Makin Cakap Digital dengan tema Semua Bisa Menjadi Pahlawan Anti Hoaks,” ini merupakan bentuk upaya serius dari Pemprov DKI Jakarta untuk melawan persebaran hoaks di internet.

Keseriusan itu tak hanya terlihat dari penyelenggaraan webinar literasi digital Jakarta SOLID yang sudah dilaksanakan oleh Diskominfotik DKI Jakarta sejak Mei 2022 lalu saja melainkan juga pembentukan unit kegiatan pengklarifikasian fakta Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) sejak 2020.

Jalahoaks secara rutin melakukan pemeriksaan fakta terhadap hoaks yang tersebar di internet. Dengan berbasis pada pelaporan warga DKI Jakarta, Jalahoaks mengecek kebenaran suatu informasi agar masyarakat, secara khusus warga DKI Jakarta, tidak tertipu oleh hoaks di internet.

Keberadaan Jalahoaks di DKI Jakarta menunjukkan bahwa pergerakan untuk melawan hoaks tidak bisa dilakukan oleh satu entitas saja, melainkan perlu keterlibatan masif semua unsur masyarakat. Sebab, hoaks berpotensi memecahbelah persatuan dan kesatuan bangsa.

Webinar Jakarta SOLID Makin Cakap Digital tersebut juga menunjukkan semangat kolaborasi bersama berbagai lapisan masyarakat untuk bersama melawan hoaks. Hadirnya Mafindo, Fact Checker UI (Organisasi Periksa Fakta Mahasiswa Pertama di Indonesia), dan Literasi Pemuda Indonesia (Komunitas Literasi Pemuda yang digawangi sejumlah pemeriksa fakta muda) adalah bukti keseriusan untuk kolaborasi bersama melawan hoaks.

Bukan tidak mungkin, di masa akan datang akan lahir berbagai inisiatif dari masyarakat untuk melawan hoaks yang juga kian berkembang mengikuti pergerakan zaman. Apalagi, perkembangan teknologi digital memungkinkan akan muncul hoaks dalam bentuk lebih menipu lagi sehingga masyarakat perlu berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi yang bersumber dari internet.

Untuk menjaga semangat yang sudah terjalin apik itu, kiranya masyarakat perlu turun tangan saling mengingatkan dan mengedukasi lingkungannya agar tak mudah mempercayai sebaran informasi liar di internet atau aplikasi perpesanan. Menjaga keutuhan bangsa dari derasnya hoaks di internet merupakan tugas bersama. Itulah pesan terpenting dari penyelenggaraan Webinar Jakarta SOLID Makin Cakap Digital yang diselenggarakan Diskominfotik DKI Jakarta dengan Kemenkominfo. Berbekal pengetahuan literasi digital yang cakap maka setiap orang bisa menjadi pahlawan anti hoaks. | LA Nurani

Editor : delanova | Sumber : sumber ilustrasi BBC dan LSU
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 43
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 362
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Budaya
08 Des 22, 12:21 WIB | Dilihat : 61
Seni Budaya di Mana Kau?
07 Des 22, 22:10 WIB | Dilihat : 107
Bangsa Indonesia Perlu Belajar Berpikir
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 187
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 284
Merawat Negeri Terindah di Dunia
Selanjutnya