Presiden Putin Sambut Kunjungan Presiden Joko Widodo

Rusia Terus Serang Ukraina dengan Stok Rudal Soviet

| dilihat 262

RUSIA terus menggempur wilayah Ukraina model serangan yang serampangan, menggunakan stok lama rudal Soviet Kamis (30/6/22).

Kantor berita The Associated Press (AP), mengabarkan peristiwa itu, informasi seorang brigadir jenderal angkatan bersenjata Ukraina.  

Lebih dari 50 persen serangan Rusia, itu bagian dari serangan yang meningkat lebih dari dua kali lipat selama dua minggu terakhir.

Rudal Rusia tersebut menimpa berbagai sasaran di Ukraina dalam beberapa hari terakhir, dan berlangsung beberapa jam saja, selepas Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo bertemu dan berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.

Usai pertemuan itu, dalam konferensi pers di Istananya, Putin hanya menerangkan sekilas, ihwal Ukraina. Informasi resmi dari Kantor Presiden Rusia mengutip, Putin menyatakan, "Tentu saja, selama pembicaraan kami juga membahas beberapa masalah regional dan internasional yang mendesak lainnya. Saya memberi tahu Presiden secara rinci tentang perkembangan di Ukraina."

Akan halnya Presiden Joko Widodo menjelaskan, "Saya akan tetap mengatakan bahwa penting untuk bergerak menuju penyelesaian damai dan dialog terbuka. Saya menyerahkan pesan Presiden Zelensky kepada Presiden Putin dan mengatakan saya siap membantu menjalin kontak antara kedua pemimpin."

Selanjutnya Presiden Joko Widodo menyatakan,   "Indonesia tidak memiliki kepentingan lain selain keinginan agar perang segera berakhir dan agar rantai pasokan pangan, pupuk, dan energi segera dipulihkan karena ini berdampak pada kehidupan ratusan juta bahkan miliaran orang."

Misi perdamaian dan fakta perang, memang tak selalu berjalan paralel.

Rusia melancarkan serangan ke Ukraina sejak 14 Februari 2022 lalu. Termasuk melantakkan gudang-gudang digital dan merontokkan 'tambang' kripto - sistem transaksi blockchain terbesar kedua di dunia. Serangan ini, sempat menjatuhkan nilai bitcoin, mata uang kripto yang sering diwawar sebagai mata uang masa depan.

Reuters melaporkan, sejak dua pekan terakhir, sampai Senin (28/6) sudah 18 orang warga sipil tewas, ketika rudal-rudal Rusia itu jatuh dan meledak di sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Kremenchuk. Sebelumnya, seorang warga sipil tewas ketika bom yang dilontar Rusia meledak di salah satu blok apartemen di Kyiv.

Rusia membantah menargetkan warga sipil. Menurutnya, sasaran rudal yang dijatuhkannya dan meleadak, hanya menyerang infrastruktur militer.

Paling tidak, menurut Brigadir Jenderal Oleksii Hromov pada konferensi pers pada hari Kamis, Rusia berusaha menyerang militer dan infrastruktur penting, tetapi penggunaan rudal Soviet yang lama dan kurang akurat menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil yang signifikan.

Hromov memang tak membantah berbagai analisis politisi Ukraina yang menuduh Rusia sengaja menyerang warga sipil untuk menabur kepanikan.  Analisis itu menghiasi berbagai laman media di berbagai belahan dunia, terutama di Barat dan Amerika Serikat.

Dari informasi yang diberitakan AFP (Agence France Presse) Kamis pukul delapan malam, kepanikan terjadi di Lysychansk, kota di Ukraina timur yang berada di bawah serangan Rusia.

Penembakan tanpa henti, menyebabkan warga sipil mengalami situasi "sangat sulit," karena pemerintah daerah Lugansk tidak mungkin mengevakuasi warga sipil.

“Ada banyak penembakan dan dari berbagai arah. Tentara Rusia mendekat dari arah yang berbeda menuju Lysychansk,” kata Serhiy Haidai, Gubernur Lugansk melalui video yang diposting di Telegram.

Kalangan yang dicap sebagai pemberontak oleh pemerintah Ukraina, dan bertempur bersama pasukan Rusia, mengklaim, separuh wilayah kota yang terletak di seberang sungai Sievierodonetsk, itu sudah mereka kuasai. Padahal, pasukan Rusia tetap berada di pinggiran kota ketika serangan berangsur reda. Haidai menepis klaim kalangan yang pro-Rusia, itu karena pasukan Rusia memang sudah merebut kota itu, sejak  pekan lalu.

Putin agaknya mendengar dan menyimak pesan untuk komunikasi dengan Zalensky, dengan sikap biasa-biasa saja. Tanpa atensi. Sama dengan sikapnya ketika beroleh informasi mutakhir tentang aksi Kementerian Keuangan Amerika Serikat yang pada Kamis malam itu, telah memblokir perwalian berbasis Delaware senilai $ 1 miliar, yang terhubung dengan Suleiman Abusaidovich Kerimov, pengusaha kaya Rusia yang sebelumnya diberi sanksi oleh otoritas keuangan AS, seperti diberitakan AP.

Tindakan otoritas keuangan AS, itu sebelumnya telah menyita super yacht Amadea sepanjang 348 kaki, seharga $ 325 juta yang dihubungkan dengan kepemilikan Kerimov, awal bulan Juni.

Otoritas keuangan AS agak repot melakukan tekanan dan sanksi atas orang superkaya Rusia, itu karena besarnya trust dan kerumitan investigasi atas sebaran investasi yang menjadi ladang kekayaannya di AS dan berbagai negara yang bersekutu dengan AS.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen menyatakan, seperti dikutip VoA (Voice of America), "Elit Rusia bersembunyi di balik proksi dan pengaturan hukum yang kompleks, Departemen Keuangan akan menggunakan otoritas penegakan luas kami, serta kemitraan kami melalui Satuan Tugas REPO."  Satgas REPO dibentuk untuk menginvestigasi Rusia Elite, Proxy, and Oligarky.

Satgas REPO merupakan salah satu satgas multinasional yang dibentuk pada bulan Maret, sebagai bagian dari upaya Barat untuk menekan Rusia, agar mengakhiri invasinya ke Ukraina. Sebelumnya, satgas ini   telah memblokir atau menyita aset senilai lebih dari $30 miliar yang dimiliki oleh Masood Farivar,  seperti dilaporkan VOA.

Satgas REPO juga sudah menyita jet, rumah mewah dan aset lainnya, milik sekutu Presiden Rusia Vladimir Putin, dan membekukan sekitar $300 miliar cadangan Bank Sentral Rusia.

Kesemua itu dilakukan, untuk secara aktif menerapkan sanksi terkoordinasi multilateral yang dikenakan kepada siapa saja yang mendanai dan mendapat manfaat dari perang Rusia versus Ukraina, jelas Janet Yellen dalam sebuah pernyataan.

Akankah semua itu meredakan perang Rusia versus Ukraina? Sejumlah informasi media mengisyaratkan, tak ada yang bisa memprediksi. Putin seperti pegas, kian ditekan semakin kuat daya tolaknya.

Sampai Kamis, penghujung Juni 2022, peristiwa di mal Kremenchuk, selain menewaskan 18 warga sipil, juga menambah bilangan jumlah orang hilang -- yang bahkan diduga tewas dan puluhan terluka.

Tentu peristiwa itu menambah pilu rakyat Ukraina. Free Europe - Radio Liberty mengabarkan pada Kamis petang, bahwa tuntutan dan harapan rakyat Ukraina untuk mengembalikan sekitar 2.000 anak korban perang yang telah dibawa ke Rusia setelah invasi 24 Februari, akan sia-sia.

 Radio itu mengabarkan, Moskow memperkenalkan penerapan undang-undang baru yang akan mempercepat proses kewarganegaraan Rusia untuk anak-anak Ukraina tersebut dan memudahkan prosedur adopsi untuk keluarga Rusia.

Kabar lain yang tersiar Kamis pagi menunjukan bukti lembaga Amnesty International, bahwa serangan udara kembar Rusia dengan sengaja menargetkan gedung teater yang digunakan sebagai tempat perlindungan di kota Mariupol yang terkepung.

Lembaga Amnesty International mengutuk serangan itu sebagai kejahatan perang, dan tak ada bukti, bahwa gedung Teater Daerah - Akademik Donetsk merupakan basis operasi bagi tentara Ukraina. Gedung itu, selama ini menjadi tempat bagi warga sipil yang mencari perlindungan dari pengeboman dan serangan udara selama berminggu-minggu.

Tetapi, serangan udara 16 Maret 2022, menghancurkan gedung, meruntuhkan dinding belakang dan sampingnya sampai  ke dapur lapangan yang digunakan sebagai tempat berkumpulnya warga untuk makanan, air, dan mendapat informasi langka tentang evakuasi dan perang.

Pejabat kota awalnya memperkirakan sekitar 300 orang tewas, namun investigasi AP menemukan data lain, serangan itu mungkin telah menewaskan lebih dari 600 orang di dalam dan di luar gedung. Sebagian besar dari dua lusin orang yang selamat dan saksi yang diwawancarai AP menyebutkan jumlahnya bahkan lebih tinggi. Pihak Rusia, tidak merespon informasi ini.. | tique, haedar

 

Editor : delanova | Sumber : AP, Reuter, AFP, SEMSU, AlJazeera, President of Russia Official, VOA, Free Europe, Liberty Radio
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 514
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2337
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya