Kunjungan Wapres AS Kamala Harris ke Vietnam

Politik Vaksin Ekspresi Kecemasan China

| dilihat 108

KEBERANGKATAN Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris dari Singapura ke Vietnam, Selasa (24/8/21) tertunda selama kurang lebih tiga jam.

Ketika mentari rebah, mengawali malam, pesawat kepresidenan Air Force Two pun lepas landas dari bandara Paya Lebar, Singapura. Wakil Presiden berdarah India, itu pun melanjutkan perjalanan ke Hanoi, ibukota Vietnam.

Kunjungan Harris ke negeri komunis tetangga dekat China yang sama dilintasi Sungai Mekong, itu menjadi terkesan dramatik.

Kantor berita Reuters mengabarkan, penundaan untuk terbang tersebut, lantaran kuatir oleh insiden kesehatan yang berpotensi terkait dengan sindrom Havana yang misterius.

Pasalnya, jelang meninggalkan Singapura sesuai agenda, diterima laporan, bahwa seseorang di Hanoi mungkin menjadi sasaran sindrom Havana, suatu kondisi yang tidak diketahui asalnya dengan gejala  pusing, mual, migrain dan penyimpangan memori.

Hampir saja kunjungan untuk 'memikat' bekas musuh yang berhasil menaklukannya beberapa tahun lalu (dan kini dialami AS di Afganistan) menjadi sekutu untuk menghadang dominasi China di Asia Tenggara, itu batal.

AS sengaja mendekati Vietnam, karena negeri yang pernah dipimpin Ho Chi Minh (sahabat dekat Bung Karno), itu punya taji untuk 'melawan' China. Sejak beberapa tahun terakhir, rakyat -- khasnya kaum pekerja -- Vietnam menentang kebijakan investasi  China yang membawa kaum pekerjanya.

Berulang kali unjuk rasa anti China dilakukan oleh para pekerja Vietnam.

China ketar-ketir dengan kunjungan Harris ke Hanoi. Kementerian Luar Negeri China melakukan aksi by pass, melakukan pertemuan mendadak di Vietnam, sambil memberi sumbangan 2 juta vaksin Covid-19.

Vietnam yang pada awal pandemi, berjaya menahan sebaran virus yang bermula dari Wuhan, itu dengan mengerahkan seluruh aparaturnya -- sampai tingkat Kepala Dusun -- melakukan sosialisi protokol kesehatan, sejak April 2021, 'jebol' juga pertahanannya oleh varian Delta di Kota Ho Chi Minh, walaupun hanya menjangkiti di bawah 2 persen dari 98 juta orang yang divaksinasi lengkap.

Reuters menyebutkan, sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan kasus sindrom Havana di Vietnam, dilaporkan dalam suatu informasi tak terkonfirmasi, sebelum Harris meninggalkan Singapura. Pihak Gedung Putih, kantor kepresidenan AS, segera melakukan penilaian keamanan, sebelum akhirnya merekomendasi Harris boleh berangkat ke negara yang sedang bangkit di Asia Tenggara, itu.

Kedutaan Besar AS di Hanoi menginformasikan, "Kantor Wakil Presiden diberitahu tentang laporan kemungkinan insiden kesehatan anomali baru-baru ini di Hanoi."

Sindroma Havana memang bikin risau dan kesal. William Bursna, Direktur Central Intelligence Agency (CIA) menyebut, sekitar 200 pejabat dan kerabat AS, termasuk petugas CIA, telah muak dengan "sindrom Havana."

Disebut 'sindroma Havana,' karena pertama kali dilaporkan oleh pejabat Amerika yang berbasis di kedutaan AS di Kuba pada tahun 2016. Namun, panel Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional AS pada bulan Desember 2020, menemukan bahwa teori yang masuk akal atas sindroma, itu adalah tersebar oleh sinar "energi terarah."

CIA melihat "kemungkinan yang sangat kuat" bahwa sindrom tersebut sengaja dipantik.

Insiden kesehatan itu, menjadi sisi menarik dari kunjungan Harris ke Asia Tenggara dan fokus hanya ke Singapura dan Vietnam, tanpa peduli dengan Indonesia, sesuai kelaziman selama ini. Seperti kelaziman, siapa saja pemimpin negara yang berkunjung ke New York, Markas PBB melakukan kunjungan 'say hello' ke Washington DC. Apalagi kunjungan Harris dilakukan ketika hubungan AS - China masih suam-suam, belum sungguh mencair dan hangat.

Tertundanya kunjungan Harris selama tiga jam, itu dimanfaatkan oleh China. Duta Besar China untuk Vietnam, Xiong Bo bertemu bertemu dan berbincang khas dengan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh. Menurut Chinh,  Vietnam tidak bersekutu dengan satu negara melawan negara lain.

China menyikapi kunjungan Harris itu dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Apalagi, Selasa (24/8/21), itu dari Singapura, Harris menuduh Beijing melakukan pemaksaan dan intimidasi untuk mendukung klaim mereka di Laut China Selatan.

Harris mengeluarkan komentar yang paling tajam tentang China selama kunjungan ke Asia Tenggara.

Pemerintah Vietnam, dalam pernyataan resmi menyatakan, Perdana Menteri Pham Minh Chinh menegaskan bahwa Vietnam menganut kebijakan luar negeri yang independen, mandiri, multilateral, dan beragam, serta merupakan anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab.

"Vietnam tidak menyelaraskan diri dengan satu negara terhadap negara lain," ungkap pernyataan resmi itu, sekaligus menegaskan, bahwa sengketa wilayah di Laut Cina Selatan harus diselesaikan menurut hukum internasional dan "akal sehat tingkat tinggi."

Kecemasan China yang amat berpengaruh di beberapa negara  Asia Tenggara (melalui ekspansi investasi) memang kentara. Pemerintah Joe Biden - Kamala Harris sendiri menyebut, persaingan AS dengan China sebagai "ujian geopolitik terbesar" abad ini.

Pemerintah Vietnam, pun menangkap kecemasan itu. Namun, secara diplomatis, Perdana Menteri Chinh membelokkan pembicaraan ke soal vaksin. Chinh menangkap isyarat di balik politik vaksin yang dilakukan China. Ia berterima kasih kepada China melalui duta besar Xiong Bo, atas sumbangan vaksinnya, meskipun tidak segera jelas, vaksin mana yang disumbangkan China.

Drama sindroma Havana dan politik vaksin China, berlalu begitu saja, ketika Air Force Two yang membawa Harris, mendarat di bandara No Bai, Hanoi,  Selasa malam.

Symone Sanders, juru bicara Harris, meyakinkan wartawan yang bepergian dengan wakil presiden dalam perjalanan luar negeri ke Asia Tenggara, itu dalam kondisi baik, tidak terpengaruh kesehatannya.

“Anda melihatnya naik ke pesawat. Dia baik-baik saja, semuanya baik-baik saja dan menantikan pertemuan di Hanoi besok,” kata Sanders menjelang keberangkatan Harris di Singapura. Pernyataan yang dikutip New York Times, ini sekaligus membantah isu tentang kesehatan Harris.

Setibanya di Hanoi, Harris bahkan tidak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan  seorang reporter tentang mengapa dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya setelah tersiar kabar ihwal laporan anomali kesehtan, itu. | haédar, shahnon.


Artikel Terkait : Senyum Kamala Harris Isyarat Amerika Serikat untuk ASEAN

Editor : eCatri | Sumber : reuter, new york times, vietezpressint
 
Budaya
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 200
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
14 Sep 21, 12:20 WIB | Dilihat : 161
Kelola Perdebatan dengan Cara Terbaik
11 Sep 21, 08:44 WIB | Dilihat : 200
Pelajari Bahasa Arab Sampai Ajal Tiba
26 Jul 21, 14:50 WIB | Dilihat : 168
Selarik Kata untuk Jakarta
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 302
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 391
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 558
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 541
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya