Malaysia

Politik Tahu Diri Tun Mahathir dan Parti Pejuang

| dilihat 186

bang sém

Tun Dr. Mahathir Mohammad -- apapun  julukan hendak diberikan kepadanya -- memang sosok negarawan yang punya pengalaman dan jam terbang paling lama sebagai politisi dan penguasa.

Rabu, 7 Juli 2021, beberapa waktu setelah Partai Pejuang Tanah Air (Pejuang) yang didirikannya resmi telah didaftar sebagai partai politik oleh pemerintah yang berkuasa, langsung memainkan jurus cerdas.

Tun menegaskan, pada saat ini, Pejuang fokus memusatkan perhatian, ambil bagian dalam penanggulangan penyebaran Covid-19, yang makin meluas, dan mangsa yang wafat kian meningkat bilangannya.

Pejuang juga memusatkan perhatian, berkontribusi dalam aksi penanggulangan dampak krisis kesehatan -- termasuk kesehata mental - masyarakat, resesi ekonomi, dan kondisi sosial kemasyarakatan yang kian teruk.

Pejuang tidak ambil bagian dalam carut marut politik pragmatis transaksional 'aksi ambil untung' di tengah meningkatnya jumlah mangsa Covid-19, seperti yang dilakukan oleh UMNO (United Malay Nation Organization) pimpinan Zahid Hamidi dan Pakatan Harapan (koalisi Parti Keadilan Rakyat, Parti Amanah, dan Parti Aksi Demokratik) yang dipimpin Anwar Ibrahim.

UMNO dan Pakatan Harapan (PH) sedang berlomba menjatuhkan Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri Malaysia dengan melancarkan serangan, bahwa pemerintahan Perikatan Nasional (PN) yang dipimpinnya gagal menanggulangi kondisi terkini Malaysia.

Anwar Ibrahim nampak piawai memainkan isu, mengambil manfaat atas ketidak-jelasan sikap Zahid Hamidi, yang secara partai, menarik dukungannya kepada Muhyiddin, namun secara pribadi sebagai Presiden UMNO memberi restu kepada Ismail Sabri Yaakob - Naib Presiden UMNO yang dilantik sebagai Timbalan Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan oleh Muhyiddin Yassin. Juga, menerima baik, diangkatnya Hishamuddin Husein - salah seorang petinggi UMNO, Menteri Luar Negeri yang diangkat sebagai Menteri Kanan (di Indonesia - Menteri Koordinator) dalam hal pemulihan negara.

Zahid yang belakangan disebut 'Tok Goyang' - karena tak pernah stabel -- bergoyang ke kiri dan ke kanan -- setiap kali menyampaikan pidato dan pernyataan politik, dan selalu salah ucap (seperti menyatakan 'No UMNO' dalam pidato penutupan Perhimpunan Agung UMNO 2020), memang menampakkan sosok dirinya bukan sebagai pribadi yang teguh pendirian.

Sikap Tun dan Pejuang sangat jelas. Tun dan partainya, itu mengambil jarak yang tegas dengan pusaran arus politik praktis yang sibuk berebut kuasa.

Pernyataan-pernyataan Tun dalam sidang media virtual, Rabu (7/7/21) jelas dan tegas. Dia tidak menyerang Muhyiddin - Presiden Parti Bersatu yang didirikannya, yang menghianatinya, sehingga Tun undur diri dari jabatan Perdana Menteri kedua kali paska Pilihan Raya Umum (2018-2020).

Sebagai wakil rakyat Langkawi, Tun menunjukkan sikap peduli terhadap kondisi rakyat di pulau yang menjadi bagian Negeri Kedah, itu dan seluruh Malaysia.

Menurut Tun, kini bukan masa untuk mempertikaikan apalagi merebut kedudukn Muhyiddin sebagai Perdana Menteri. Kini adalah masa semua kalangan menunjukkan kepedulian dan kesungguhannya untuk menolong rakyat.

Bagi politisi dan pemerhati politik Malaysia, sikap Tun bisa dibaca sebagai siasat politik menarik simpati rakyat, karena sebagai partai politik baru, Pejuang memang membuka diri seluas - luasnya bagi rakyat Malaysia untuk bergabung.

Tun sangat jeli dan jernih melihat situasi dan pernyataan politik yang disampaikannya tepat ruang dan tepat waktu. Termasuk gagasannya tentang Majelis Pemulihan Negara untuk mempercepat upaya menaklukkan pandemi Covid-19 yang tak akan melibatkan politisi, melainkan kalangan profesional dan pakar di bidang kedokteran sebagai ibu dari ilmu kesehatan. Juga pakar ekonomi, pakar perkhidmatan sosial, dan pakar manajemen krisis.

Tun juga menampakkan dirinya mengenal pasti partai Pejuang yang baru didirikannya dan tak mempunyai kekuatan sebesar partai lain di Dewan Rakyat (parlemen), namun dia mampu meyakinkan khalayak, akan mampu memperjuangkan gagasannya tentang majelis pemulihan negara.

Saya menyebut sikap dan pandangan politik Tun sebagai 'politik tahu diri,' politik mengenal pasti diri dan partainya, sehingga memilih jalan memainkan peran dan fungsi utama dan asasi partai, yaitu melayani dan mendidik rakyat.

Sebagai politisi yang juga paham melihat peta dan posisi 'lawan,' Tun juga tetap memainkan jurus-jurus tertentu 'memukul' lawan. Tun konsisten menyerang Najib yang disebut sebagai penyebab utama runtuhnya pamor UMNO. Tun juga menyerang Zahid Hamidi yang dipandangnya, ngotot mengganti Muhyiddin dan mempunyai 'strategi senyap' memperjuangkan PM interim pengganti Muhyiddin, hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Khalayak ramai pun membaca, Zahid Hamidi dan Najib gencar menyerang dan menerjang Muhyiddin, karena keduanya masih menghadapi kasus korupsi dan salah guna kekuasaan kala berkuasa di penghujung kekuasaan enam dekade UMNO.

Tun Mahatir boleh jadi akan terus menjadi 'ato cerewet' (chatty grandpa) untuk urusan politik praktis, namun menjadi 'ato nan bijak' (wise grandpa) dalam konteks menanggulangi keadaan rakyat dihempas pandemi.

Boleh jadi usul Tun berkontribusi menanggulangi kondisi di Langkawi dengan aksi handheld vaccination tidak dihalangi Muhyiddin. Tun memilih jalannya sendiri dibandingkan para 'kadernya' - terutama Anwar Ibrahim, jalan senyap di tengah orang bergaduh. Jalan penghujung seorang 'pejuang tanah air.' Jalan ini relevan dengan jalan perkhidmatan Yang Dipertuan Agong Malaysia, Sultan Abdullah dan para Sultan Negeri se Malaysia. | [Kada Bonjer, 10.07.21]

 

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 135
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 367
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 166
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 655
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1571
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya