Politik Suasana Hati Rakyat

| dilihat 106

Delanova Dien

Akan tiba masa, tak ada lagi oposisi di parlemen dan masyarakat, karena oposisi dipandang sebagai suatu momok yang paling menakut.

Demokrasi mati. Rakyat bungkam dan tak ambil peduli pada penyelenggaraan negara.

Arus opini melalui media, termasuk media sosial, menjadi pusaran monolog dengan dramatika yang tak mampu dimainkan oleh para aktor politik.

Apa yang bakal terjadi, ketika semua bayangan buram itu, menjadi realitas pertama dalam tata kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa.

Tak ada lagi dialektika, karena orang sudah lupa bagaimana cara berdialog. Terutama, ketika secara bersamaan, berlangsung revolusi teknologi digital. Akankah artificial intelligent mampu bekerja untuk menghadapi singularitas, transhumanisma, dan ketimpangan nalar dengan budi.

Meminjam jalan pikiran James Barlett, jurnalis Inggris yang selama lebih satu dekade memimpin pusat  analisis media sosial dari Demos Think Thank, yang akan terjadi pada saat itu adalah seluruh pilar demokrasi roboh.

Tak akan ada lagi warga negara yang aktif; budaya bersama raib; pemilihan umum yang bebas hanya kenangan; kesetaraan pemangku kepentingan, kebebasan sipil, dan kepercayaan pada institusi menjadi bagian dari lembar sejarah yang kusam.

Yang segera akan mengemuka adalah kriptografi sebagai pengganti 'filsafat' perlawanan terhadap kekuasaan, karena peran manusia dalam pengawasan aktif atas penyelenggaraan kekuasaan, terampas oleh oligarki.

Prediksi Steven Levitsky tentang matinya demokrasi dan prediksi Daniel Ziblatt tentang berakhirnya demokrasi, akan sungguh mewujud, karena sistem tatakelola kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sungguh tak lagi berdaya.

Akankah kondisi demikian, serta merta menghidupkan neo otoritarianisme. Pengalaman berbagai bangsa dan negara sampai abad ke 20, menunjukkan, neo otoriterianisme baru akan selalu hadir dalam situasi demikian.

Terutama, ketika sikap diktatorial menjadi bagian dari watak penguasa yang hanya berfikir tentang bagaimana merebut kekuasaan, seraya tak pernah paham, untuk apa sesungguhnya kekuasaan itu.

Para politisi akan terus berebut kekuasaan dengan beragam cara, bahkan dengan menafsirkan diri sendiri sebagai machiavellian, terutama karena mereka, dengan dukungan oligarki lebih berfokus pada struktur organisasi gerakan, sekaligus mengubah "ruang publik" secara de facto, sebagaimana diisyaratkan Barlett, menjadi kumpulan server pribadi, yang dikendalikan hanya oleh beberapa korporat dan konglomerat yang mengendalikan oligarki.

Boleh jadi Machiavelli sendiri tak pernah membayangkan namanya akan ramai disandang orang, khasnya penguasa dan pengusaha, yang menghalalkan segala cara dalam merebut kekuasaan dan berkuasa. Menyediakan diri mereka sebagai mangsa utama naluri penguasa binal.

Meski Barlett optimistik, bahwa ketika anarkisme krepto berlangsung melalui sistem jaringan teknologi informasi, menggerakkan singularitas sebagai bentuk ketergantungan kuat manusia terhadap artificial intelligent, perlahan enam pilar demokrasi akan kembali ditegakkan orang. Toh, situasi terburuk kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk politik akan tiba.

Berbagai negara berkembang, memerlukan waktu relatif panjang -- sekira lima sampai enam dekade -- untuk terlena oleh otoriterianisme, dan baru kemudian tersadar memahami pentingnya perlawanan terhadap penguasa dzalim, dengan pilihan sangat pahit, yakni: tercerai berai dan bubar oleh arus besar pertarungan politik manusia tanpa akal budi.

Optimisme Barlett bukan tanpa sebab. Machiavelli sendiri, lewat salah satu bab dalam pemikirannya yang terpumpun dalam The Prince, bertajuk Le Principat Civil, mengupas soal 'politik suasana hati' yang sangat romantik. Kala terjadi perubahan posisi dan peran pemimpin yang digantikan para mandor, sampai rakyat dengan caranya sendiri memilih pemimpin mereka yang sebenarnya.

Pemimpin yang dengan sukarela diminta oleh rakyat untuk memimpin sebagai manifestasi dari terpenuhinya aksesi kekuasaan, yakni: rakyat dan pemimpin berjiwa besar, yang akan menghidupkan sistem penyelenggaraan kekuasaan lebih demokratis. Membuka ruang bagi para oposan menggerakkan oposisi cerdas dan setara. Menjaga marwah aksesi kekuasaan dan menanggalkan atribusi kekuasaan.

Pemimpin itulah kelak yang akan menjadi pangeran dari rakyat dan bagi rakyat itu sendiri. Situasi itu akan terjadi ketika romantisme politik rakyat melahirkan pemimpinnya tak legi terbendung. Lalu, partai politik sebagai instrumen demokrasi yang sesungguhnya, tunduk kepada daulat rakyat, mengikuti keinsafan para petingginya yang tersedar hanya menjadi kacung-kacung oligarki dalam politik pragmatis.

Machiavelli menegaskan pentingnya oposisi, khasnya oposisi yang memainkan peran sebagai shadow dari penguasa yang formal. Kekuatan besar dan dahsyat rakyat yang sebelumnya hanya buih, berubah menjadi gelombang besar perubahan.

Saat itulah suasana hati rakyat menentukan prinsip-prinsip penyelenggaraan kekuasaan, dan menggerakkan partai yang mampu merespon perubahan itu. Sekaligus melantakkan partai apa saja yang masih terlena dalam buaian oligarki.

Politik selera rakyat akan menghempaskan politik selera partai dan memperkaya demokrasi dengan oposisi cerdas, bahkan oposisi antinomik. Oposisi yang selalu menjaga keseimbangan, mengubah tak sekadar suara-suara bising, riuh dan gaduh, menjadi ritme dinamis paduan suara rakyat yang partiturnya menuliskan komposisi keseimbangan demokrasi.

Di berbagai negara, kini sedang berkembang arus perubahan gradual, yang menghanyutkan filsafat politik klasik dengan filsafat politik kontemporer dengan imajinasi yang relevan dengan perubahan zaman.

Kondisi ini akan bergerak bersamaan dengan kembalinya filsafat ekonomi yang bertumpu pada ekuitas dan ekualitas sebagai penyeimbang utama kemanfaatan dari hanya sekadar kekayaan.

Machiavelli mengingatkan, "kita bisa bernegosiasi tentang kepentingan, tetapi tidak pada suasana hati dan selera rakyat." Politisi -- pada saatnya --  harus mengemban tugas berat, yaitu berdamai dengan oposisi antinomi paling cerdas dan tangkas. Republik tak boleh rehat, negarawan tak boleh diam membisu di pinggiran menyaksikan keterlenaan. Oligarki harus dihentikan lakonnya.. |

 

Editor : delanova
 
Budaya
12 Jan 22, 08:56 WIB | Dilihat : 119
Cermin Adab di Jalan Tol
11 Jan 22, 09:20 WIB | Dilihat : 162
Pesona Masjid Rao Rao di Sungai Tarab Bungo Satangkai
17 Des 21, 07:31 WIB | Dilihat : 239
Membaca Zaman Edan dengan Isyarat Pantun Bogor
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 439
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
Selanjutnya
Humaniora
14 Jan 22, 13:57 WIB | Dilihat : 106
Gloria Academica
20 Des 21, 13:16 WIB | Dilihat : 315
Harry Sungguh Mengemban Amanah Sampai Akhir
04 Nov 21, 07:24 WIB | Dilihat : 454
Tolak Toleransi Zina di Kampus
Selanjutnya