PM Inggris Rishi Sunak : Konservatif Bersatu Atau Punah dalam Pemilu

| dilihat 98

Rishi Sunak - Pemimpin Partai Konservatif dan Perdana Menteri (PM) Inggris yang baru mengingatkan, anggota parlemen Partai Konservatif bersatu atau akan punah dalam Pemilihan Umum (Pemilu) kelak.

Hal itu dikemukakan Sunak saat menyampaikan pidato pertamanya setelah terpilih sebagai pemimpin Partai Konservatif dan PM Inggris (24/10/22) menggantikan Liz Truss, yang hilang kepercayaan dari anggora parlemen Partai Konservatif dan mundur dari jabatannya.

Sunak memperoleh kepercayaan mayoritas anggota parlemen Partai Konservatif dan terpilih, setelah rivalnya, mantan Menteri Pertahanan Penny Mordaunt  mengundurkan diri.  Sunak maju dalam kontestasi setelah hampir dua bulan lalu dikalahkan Liz Truss, yang hanya menjabat PM Inggris selama 45 hari.

Truss menggantikan Boris Johnson yang mundur karena tak lagi memperoleh dukungan dari koleganya, sesama anggota parlemen Partai Konservatif. Truss mengalami nasib yang sama, dan lebih buruk.

Rancangan budget negara yang diajukan Truss di sidang parlemen dianggap mengada-ada dan tak langsung menjawab berbagai persoalan di depan mata.

Ketika menyampaikan pidato pengunduran dirinya di depan kantornya, Downing Street 10, Truss menyatakan, Partai Konservatif yang mempunyai suara mayoritas di parlemen, memilihnya dengan mandat memotong pajak dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lantaran itu, dia dan kabinetnya menyusun rencana aksi ekonominyadan mengajukannya ke sidang parlemen, tapi para koleganya yang paling gencar menolak rancangan ekonomi tersebut. Rancangan itu melemahkan otoritasnya sebagai PM.

Sepanjang sejarah Inggris, bahkan dunia, Truss tercatat sebagai PM tersingkat menjalankan otoritasnya. Selama masa 45 hari itu, tak ada hal menonjol yang dilakukan PM itu.

Boris Johnson, mantan PM sebelumnya menerima tawaran untuk maju dalam pemilihan, berkontestasi dengan Rishi Sunak (mantan Menteri Keuangan Johnson), tapi para anggota parlemen lebih memilih Sunak sebagai PM penggantun Truss.

Truss memberikan ucapan selamat kepadanya secara terbuka, via akun twitternya. Pengukuhan Sunak sebagai PM Malaysia berlangsung Selasa, 25 Oktober 2022

 Menteri Keuangan dalam kabinet Truss, Jeremy Hunt, lewat akun twitter-nya, juga memberi selamat, sekaligus mengapresiasi terpilihnya Sunak.

Menurut Hunt, Sunak adalah tokoh yang tepat menjabat PM, ketika tiba masa untuk kejujuran tentang tantangan ekonomi besar yang sedang dihadapi Inggris. Hunt memandang, Sunak yang dipercaya parlemen dan Partai Konservatif, punya keberanian menghadapi situasi krisis ekonomi.

"Kami memiliki seorang PM yang dapat dipercaya untuk melakukan hal itu - dan memberi kami semua kepercayaan pada potensi besar negara kami,"kicau Hunt di akun twitter-nya.

Kicauan Hunt direspon banyak kalangan, yang melihat Sunak, yang datang dari etnik minoritas Asia Selatan, tak hanya berani menghadapi dan mempunyai gagasan tepat menghadapi krisis ekonomi Inggris. Juga dipandang mampu menciptakan stabilitas politik.

Sejak berkontestasi dan dikalahkan Truss pada pemilihan PM pengganti Johnson, lelaki migran asal India, itu sudah menyampaikan gagasan dan rancangan aksi ekonomi dan politik yang dipandang sesuai dengan tantangan yang sedang menghadang.

Dalam pidato pertamanya usai terpilih, Sunak berjanji untuk menjabat sebagai perdana menteri "dengan integritas dan kerendahan hati."

Ketika itu juga dia mengingatkan seluruh kalangan, termasuk rakyat Inggris, kondisi nyata, bahwa negara itu tidak sedang baik-baik saja. Tantangan ekonomi yang besar sedang menghadang Inggris.

"Hari demi hari saya akan bekerja menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat Inggris, tentang tantangan dan ancaman besar itu," serunya di hadapan anggota parlemen dari Partai Konservatif.

“Kita sekarang membutuhkan stabilitas dan persatuan, dan saya akan menjadikannya prioritas utama untuk menyatukan partai dan negara kita,” tambahnya, sambil memberikan penghormatan kepada Liz Truss yang digantikannya.

Sunak menilai, kepemimpinan Truss “bermartabat, dalam keadaan sulit di luar dan di dalam negeri.”

Anand Menon, direktur lembaga pemikir UK in a Changing Europe Initiative yang juga penasihat The House of Lords dan guru besar pada European Politics and Foreign Affairs at King's College London, menyebut kemenangan Sunak sebagai momen besar untuk mengembalikan ketangguhan Inggris.

Menon juga memperingatkan, reputasi Sunak akan bergantung pada seberapa baik prestasinya mengatasi masa tersulit dan unik sepanjang sejarah Inggris ini.

Tentang asal usul Sunak sebagai migran, Menon percaya, masyarakat Asia Selatan akan memberikan antensi dan dukungan, karena salah seorang dari mereka ada di Downing Street. Tentu, kata Menon, mereka (etnis Asia Selatan) akan menilai Sunak dari kebijakannya, dan tidak ada jaminan bahwa kebijakannya akan sesuai dengan keinginan mereka semua.”

Menon menyebut, Sunak memang bukan dari ras kulit putih, namun secara sosial-ekonomi, dia benar-benar bagian dari elit Inggris.

Sunak tak menafikan pandangan Menon. Kendati demikian, dia menyatakan, hal yang utama seluruh anggota parlemen dari Partai Konservatif harus bersatu, atau mengambil risiko 'kepunahan' pada pemilu.

Sunak dinilai mempunyai cara pandang terhadap partai Konservatif secara menyeluruh. Dengan spirit persatuan menghadapi situasi dan membangun stabilitas politik, Menon memprediksi, Sunak akan merekrut para menteri dalam kabinetnya yang mewakili seluruh faksi dalam partai itu.

Mark Lander kolomnis The New York Times  menyebut, kemenangan Sunak merupakan kebangkitan politik luar biasa yang digandakan, dan merupakan sebagai tonggak sejarah bagi Inggris,. Apalagi, Sunak merupakan orang kulit berwarna pertama yang menjadi perdana menteri dalam sejarah Inggris. Sunak juga PM Inggris termuda (42 tahun) yang karir politiknya mengalami pasang surut.

Mantan Menteri Keuangan itu, menurut Lender, diperkirakan akan menarik Inggris kembali ke kebijakan yang lebih utama setelah eksperimen Truss yang gagal dalam ekonomi trickle-down, yang mengguncang pasar keuangan dan merusak reputasi fiskal Inggris.

Sunak, boleh jadi, akan cenderung menawarkan kontras dibandingkan dengan PM Johnson yang mantan jurnalis dengan gaya flamboyan dan perilaku tidak menentu.

Para analis di Inggris dan Amerika Serikat mencermati berbagai kemungkinan langkah dan kebijakan yang akan ditempuh Sunak dalam menghadapi dan mengatasi krisis ekonomi paling parah di Inggris dalam satu generasi.

Dalam posisinya sebagai pucuk pimpinan Partai Konservatif yang retak parah dan pemimpin pemerintahan, Sunak harus melakukan dua pekerjaan besar yang menjadi prioritas. Yakni. menyembuhkan keretakan dalam partai, dan memimpin negara melalui badai ekonomi di bulan-bulan mendatang.

Artinya, sebagai Sunak mesti menunjukkan keterampilan politik dan kemampuan mengambil kebijakan negara mengatasi keadaan, sekaligus menavigasi partainya menghadapi pemilihan dan umum kontes kepemimpinan di masa depan.

Keterampilan politik Sunak telah nampak pada masa-masa menjelang kejatuhan Johnson, Juli lalu, ketika dia tetiba mundur dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan, yang dampak ikutannya adalah situasi tak menentu yang dihadapi Truss.  

Kini, sebagai PM ketiga selama tujuh pekan terakhir dan PM termuda dalam dua abad sejarah Inggris, dan penganut Hindu pertama yang memimpin pemerintahan Inggris, berbagai kalangan di dalam dan luar negeri Inggris akan melihat kemampuannya mengatasi keadaan. Mulai dari persoalan makro yang dihadapi negara sampai persoalan mikro yang dihadapi rakyat.

Khalayak Inggris tak begitu ambil peduli, bahwa Sunak adalah mantan bankir investasi dan menantu seorang miliarder teknologi India. Kendati demikian, Lander melihat kenyataan itu akan menjadi sesuatu yang rentan. Seberapa bisa Sunak merasakan apa yang dirasakan rakyat Inggris yang harus berjuang untuk membayar tagihan gas yang terus melonjak tagihan.

The Times of London tahun ini memperkirakan nilai Sunak dan isterinya, termasuk satu di antara 250 pasangan atau keluarga terkaya di Inggris dengan nilai kekayaan lebih dari $800 juta.

Tak hanya itu. Sunak juga masih akan menghadapi tuntutan merdeka Skotlandia yang terus menerus menjadi duri bagi pemerintahan Inggris.

Nicola Sturgeon, Menteri Pertama Scotlandia memang mengucapkan selamat baginya via twitter, dan meyakini Sunak akan memimpin lebih baik. Khasnya untuk membangun hubungan kerja yang konstruktif dengannya, dan demi kepentingan mereka yang kami layani (rakyat). Untuk itu, Sturgeon kembali menyerukan kemerdekaan Skotlandia.

Sturgeon menaruh harapan besar pada Sunak, yang dikemukakannya sebagai orang Asia Inggris pertama yang menjadi PM merupakan momen yang sungguh signifikan.

Sturgeon memainkan retorika politik yang 'menekan.' Menurutnya, Sunak mesti segera menyelenggarakan pemilu dini, dan tak boleh melepaskan penghematan dalam kebijakan ekonominya. "Layanan publik kami tidak akan tahan dengan kebijakan itu," ungkap Sturgeon.

Tegas Sturgeon mengatakan, bagi Skotlandia yang dipimpinnya, kemerdekaan adalah prioritas. "Itulah cara mencegah kerusakan pemerintah Westminster tanpa mandat di sini, dan mengambil masa depan ke tangan kita sendiri, Skotlandia membutuhkan kemerdekaan,” ungkapnya.

Tuntutan lain yang dihadapi Sunak adalah dari kubu oposisi, Partai Buruh yang mendesak percepatan pelaksanaan pemilihan umum. Pemimpin Partai Buruh Keir Starmer, mengatakan kepada BBC, "Negara perlu menyingkirkan kekacauan ini. Pemilihan umum adalah solusinya." | Florence Tique

Editor : delanova | Sumber : WSJ, 5NEWS, NYT, ET, YouTube
 
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya