Media Framing Adalah Game Berbahaya

| dilihat 228

Framing (pembingkaian) media adalah game berbahaya. Dalam blog pribadinya, Nicolette Papadopoulos - mahasiswi Pennsylvania State University (10.2.21) mengutip Critical Media Review, menulis, konsumen media menjadi korban framing, yakni perspektif berita dengan tendensi tertentu.

Dia mengemukakan, teknik framing media,   dapat ditemukan di mana saja; dan pada kenyataannya, ada di mana-mana. Dengan teknik tendensius semacam ini, tulis Nicolette, berita bukan merupakan unjuk realitas, melainkan cerita yang diciptakan kembali dari perspektif tertentu.

 Cerita-cerita yang “diciptakan ulang,” ini disesuaikan dengan minat dan opini suatu kalangan atas prbadi atau kelompok khalayak dari kalangan yeng berbeda.

Khalayak pada umumnya, sebagai konsumen media, memiliki pemahaman tentang keluaran media mana yang menyesuaikan cerita untuk khalayak dengan kepentingan tertentu.

Misalnya, CNN (atau Cable News Network) adalah saluran televisi yang dikenal dengan perspektif liberalnya. Sebaliknya, FOX News adalah saluran televisi berita kabel yang dikenal memiliki perspektif konservatif.

Oleh karena itu, menurut Nicollette, seseorang dapat menyimak CNN melalui FOX dan sebaliknya, karena informasi yang disajikan sejalan dengan pandangan pribadi mereka.

Ini tidak hanya berlaku untuk dua saluran ini saja; surat kabar seperti New York Times, Washington Post, dan Huffington Post, semuanya menjadi panas.

"Di sinilah bahaya datang," tulis Nicolette. Kita hanya mengonsumsi informasi dan cerita yang kita perlukan, dan kita tidak mendapatkan gambaran keseluruhan.

Framing media, menurutnya, mengubah cara kita memahami informasi dan terlibat dengan informasi. Oleh karena itu, rasa realitas konsumen media tercemar dengan hanya diberitahu potongan cerita tertentu, yang diceritakan oleh satu sisi.

Dia memberikan amsal sebuah foto yang sengaja dipasang untuk ilustrasi suatu berita tertentu, atau istilah untuk suatu tindakan yang sama dengan kepentingan dan tendensi berbeda. Dalam media Barat, misalnya, kata 'menjarah' selalu dikaitkan dengan kalangan kulit berwarna, dan kata 'menemukan' dipergunakan untuk kalangan orang kulit putih.

"Apa yang Bisa Kita Lakukan?" tanya mahasiswi ini.

Sebagai konsumen media, kita harus mampu mengendalikan situasi, meski sedikit. Meskipun framing media tidak dapat dan tidak akan hilang, kita dapat mengontrol dengan cara kita: bagaimana kita memandang informasi. Saran paling penting untuk ditawarkan adalah mendiversifikasi sumber informasi. Karena kini, konsumen media tidak dapat lagi terikat hanya pada satu sumber.

Selanjutnya, dia mengatakan, membaca berita atau informasi yang kita konsumsi (secara kritis), sangatlah penting, agar tak terjebak dalam potongan berita atau gambar yang dikaitkan secara tidak relevan dan tidak kontekstual dengan berita. Menurutnya, bagaimana pun keadaan masyarakat kita bergantung pada fakta itu.

Pandangan mahasiswi Pennsylvania University, ini boleh menjadi salah satu catatan, ketika di era kepentingan politik dan politicking saat ini menguasai media. Tak hanya terkait dengan media abal-abal, tetapi bahkan media arus utama.

Kualitas Intelektual

Di banyak kesempatan framing media disajikan secara insinuatif dan sarat kepentingan jahat. Bahkan, di dunia kampus dan kalangan instansi pemerintah, dipakai untuk mencemarkan nama baik. Media melahap dan memberitakan begitu saja informasi dari satu sumber dan mengabaikan prinsip etik berupa cover both side. Celakanya, pimpinan kampus dan instansi, cuek dan mengabaikannya.

Framing media dalam studi kolaboratif Patti M. Valkenburg, Holli A. Semetko, dan Claes H. De Vreese, memusatkan perhatian pada pengaruhnya terhadap pikiran dan ingatan konsumen media.

Ketiga peneliti ini mengemukakan, ilmuwan sosial dari berbagai disiplin ilmu telah berusaha  mendefinisikan konsep pembingkaian (framing). Beberapa di antaranya dengan berfokus pada bagaimana berita disajikan, dan lainnya dengan berfokus pada bagaimana berita dipahami.

Dikemukakan oleh ketiga peneliti tersebut, framing media adalah cara tertentu, dimana jurnalis menyusun berita untuk mengoptimalkan aksesibilitas khalayaknya. Penelitian ke dalam media framing menyelidiki prevalensi bingkai tertentu dalam berita dan bagaimana isu-isu tertentu dibingkai. Penelitian mereka mengasumsikan, bahwa jurnalis tidak dapat dihindari membingkai atau menyusun representasi mereka tentang suatu peristiwa (baik politik maupun office politicking) agar dapat diakses oleh khalayak yang besar.

Framing media, dari berbagai referensi, biasanya dilakukan dengan empat cara. Yaitu: dengan menekankan konflik antara pihak atau individu (konflik frame); dengan berfokus pada individu sebagai contoh atau dengan menekankan emosi (bingkai kepentingan manusia); dengan mengaitkan tanggung jawab, mengkredit atau menyalahkan lembaga atau individu politik tertentu (bingkai tanggung jawab); dan dengan berfokus pada konsekuensi ekonomi bagi penonton (bingkai konsekuensi ekonomi).

Menurut Neumanetal, seperti dikutip ketiga peneliti ini, bingkai konflik menekankan konflik antar individu, kelompok, atau institusi. Jamieson menekankan, cakupan framing media semacam ini memberi perhatian utama pada menang dan kalah; persaingan ditampilkan, dengan penekanan pada penampilan dan gaya politik atau individu.

Akan halnya Bennett, menyebut bingkai minat manusia membawa cerita individu atau sudut emosional ke presentasi suatu peristiwa atau masalah. Personalisasi sebuah isu berkontribusi pada karakter naratif berita. Karena pasar berita di mana-mana menjadi lebih kompetitif, jurnalis dan editor berusaha keras menghasilkan produk yang menangkap dan mempertahankan minat khalayak.

Membingkai berita dalam konteks kepentingan manusia adalah cara untuk mempersonalisasi dan membuat berita menjadi emosional.

Tak semua subyek korban framing media, menyikapinya dengan emosional, bergantung pada kualitas intelektual dan kedewasaannya (kearifan dan kebijaksanaan). Sekaligus daya tahan dan komitmennya pada perjuangan menegakkan keadilan.

Merujuk dari pandangan semacam ini, Anies Rasyid Baswedan, yang kerap menjadi sasaran perundungan dan framing media, terbilang pribadi matang, dewasa, dan cermin intelektual berkualitas. | masybitoch

 

Artikel terkait : Framing Kompas Dibalas Anies dengan Cerdas dan Arif

 

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 514
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2337
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Humaniora
11 Nov 22, 22:45 WIB | Dilihat : 197
Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek
10 Nov 22, 12:46 WIB | Dilihat : 123
Kang Tjetje, Kitab Kesadaran dengan Narasi Kritis
26 Okt 22, 21:15 WIB | Dilihat : 260
60 Tahun Tak Mandi, Sekali Mandi Amou Haji Meninggal
Selanjutnya