Kunjungan Perdana Menteri dan Persaudaraan Malaysia - Indonesia

| dilihat 658

catatan bang sém

 

berlayar melaju ke kota Palembang

terus melawat ke Kotabumi

meski tuan beternak kumbang

kembang lah saja kirimkan kami

 

Bila aral tiada melintang, Perdana Menteri (PM) Malaysia - Dato Seri Ismail Sabri Yakob akan bertandang melakukan kunjungan kenegaraan pertama ke Jakarta, awal pekan mendatang.

Pertemuan pemimpin pemerintahan dua negara berjiran ini, tentu akan disertai dengan protokol kesehatan yang ketat. Karena Presiden Jokowi dan sejumlah menteri baru kembali dari kunjungan kenegaraan ke Roma (menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G20) dan KTT Perubahan Iklim di Glassgow, Great Britain - United Kingdom atawa Inggris.

Biasanya, setiap kali petinggi negara melakukan kunjungan ke luar negeri, begitu pulang, harus melakukan masa karantina beberapa hari. Ismail Sabri, sempat tak datang ke Istana Negara, Kuala Lumpur, untuk menghadiri pelantikan dan pengambilan sumpah para menteri di kabinetnya, karena sedang melakukan masa karantina.

Kunjungan kenegaraan Ismail Sabri, memang kunjungan kenegaraan biasa, yang lazim dalam komunitas negara-negara asia tenggara yang bergabung dalam ASEAN. Kunjung jiran, sambil berkenalan dan memperkenalkan diri.

Hal yang sama pernah dilakukan Tun Mahathir Mohammad selepas dilantik sebagai PM Malaysia ke 7 (kali kedua menjabat PM, sehingga menjadi pemimpin pemerintahan tertua - dalam usia - di dunia. Begitu juga Tan Sri Muhyiddin Yasin, PM Malaysia ( ke 8) dengan masa jabatan terpendek sepanjang sejarah Malaysia.

Berbeda dengan Muhyiddin, Datuk Seri Ismail Sabri Yakob, anggota parlemen dari Bera - Pahang, bukan Presiden Partai. Politisi 'hemat kata,' ini sempat menjadi Ketua Pembangkang di Parlemen Malaysia -- mewakili Barisan Nasional -- semasa pemerintahan Pakatan Harapan, pimpinan Tun Mahathir. Walaupun dalam koalisi Perikatan Nasional dia selalu dihubungkan dengan Barisan Nasional dan UMNO.

Boleh jadi, Ismail Sabri akan bercerita kepada Jokowi tentang tema besar 'Keluarga Malaysia' sebagai cara rekonsiliasi Malaysia di tengah pandemi coronastrope. Tentu sambil bertukar pikiran tentang cara menangani virus Covid-19, yang mengabarkan kepada dunia, amat terbatas dan tak berdayanya kemampuan ilmuwan kedokteran modern.

Sebagai mantan Menteri Pertahanan, tentu, Ismail Sabri boleh diandai, bakal bicara soal kerjasama bilateral di bidang pertahanan dan keamanan kawasan serantau. Khasnya, di Asia Tenggara yang sedang menghadapi intervensi China. Tak hanya dalam konteks Laut China Selatan.

Tentu, bisa diduga, akan dibincangkan juga ihwal investasi di sektor perkebunan sawit, karena Malaysia sudah melakukan moratorium, namun masih pegang kendali harga sawit dunia terkait green energy, sebagaimana halnya timah.

Mungkin juga bicara soal pasokan energi listrik di sejumlah wilayah perbatasan, tak terkecuali hasil tambang 'arang batu' (batubara) sebagai bagian dari black and brown energy. Tentu soal investasi Malaysia lainnya di Indonesia (seperti industri keuangan dan bank).

Merujuk pada kunjungan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto ke Malaysia beberapa waktu berselang, mungkin dalam kunjungannya, Ismail Sabri Yakob akan didampingi Menteri Pertahanan Malaysia, Hishamuddin Hisham - yang sebelumnya menjabat Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri. Tentu akan ada kunjungan juga ke industri pertahanan, khasnya Pindad - yang memproduksi alat utama sistem senjata TNI (Tentara Nasional Indonesia), terutama untuk matra Darat.

Indonesia, bagi Ismail Sabri adalah bagian dari keluarga (bati) Malaysia secara denotatif, karena menantunya, Jovian Mandagie berdarah Minahasa dan berhulu pada Daniel Mandagie, Johannes Mandagie, dan Johan Mandagie yang hidup pada dekade 1800-an.

Saya berharap, kunjungan Dato' Seri Ismail Sabri Yakoob selama beberapa hari, kian menguatkan batang tegak dan persaudaraan dua negara, yang kini menjadi saudara serumpun di rantau Asia Tenggara.

Hubungan Malaysia - Indonesia selama ini, tak hanya diwarnai oleh pertukaran daerah jajahan (Bengkulu, Batavia, Melaka) yang dilakukan sesuka hati oleh penjajah Portugis, Belanda, Inggris dan Jepun.

Tak juga diwarnai oleh penghianatan komunis, konfrontasi emosional era Soekarno - Tengku Abdurrahman, dan kemesraan saudara sebatih era Soeharto - Mahathir, serta cèkcok pasal-pasal tètèk bocèk - rabun masalah, sehingga muncul narasi pertikaian tentang batik, barongan, pendatang haram, lagu rakyat, dan sejenis yang dihidupkan diaspora Indonesia di Malaysia.

Suka atau tak suka, beragam suku dan etnis di Malaysia - minus China dan  Hindia (India, Pakistan, Banglades, Nepal) adalah bangsa Melayu dengan beragam etnis dari Indonesia (Bugis, Aceh, Minang, Banjar, Dayak, Jawa, Madura, Boyan, Sunda, Banten, Tapanuli, Minahasa, dan lainnya) dan Champa.

Hubungan Malaysia dan Indonesia dengan segala atmosfir dan dinamikanya, macam piring, gelas, spoon - sudu, fork- garpu, dalam rak. Mudah berbenturan dengan bunyi pecahan yang terdengar nyaring.

Karena itulah kedua pemerintahan, dalam konteks menjaga dan memelihara kondisi rantau Asia Tenggara yang aman, selesa, damai, sejahtera, tanpa kehilangan dinamikanya, perlu selalu memelihara hubungan bilateral dua hala yang hangat, mesra, dan intim laiknya hal memperkuat dan memperkokoh ketahanan kawasan, merespon orientasi baru geo politik ke wilayah Asia Pasifik.

Sejak April 2021, Duta Besar Malaysia dan berkuasa penuh untuk Indonesia yang berkedudukan di Jakarta, sudah mengakhiri masa perkhidmatannya.

Untuk itu, diperlukan seorang figur yang piawai dalam diplomasi, matang dalam politik (sosok idealnya antara mantan Duta Besar Tan Sri Muhammad Rakhmat dan Dato Sri Zahrain Mohammed Hashim, yang mampu 'menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, menghidupkan persaudaraan, kreatif serta konsisten memelihara komitmen untuk saling memuliakan.'

Di sisi lain, perlu diperhatikan perkembangan cepat teknologi informasi dan pola komunikasi sosial dan khalayak yang cenderung riskan menghadapi proses penghancuran nalar publik, menangkal ghibah (rumors), buhtan (hoax), dan fithan - termasuk namimah - dengan perkembangan komunikasi multi media, multi channel, dan multi platform.

Untuk itu, adalah ideal bila sosok atau figur yang disiapkan sebagai Duta Besar Malaysia di Jakarta adalah dari kalangan profesional dengan daya diplomasi tinggi, matang dalam politik, cendekia, komunikatif (karib dengan kalangan media) dan mendalam menguasai seni budaya.

Figur yang mempunyai gairah 'keluarga malaysia, persaudaraan serantau,' serta mempunyai jaringan luas persahabatan. Bukan figur politisi kontroversial. |

 

Penulis, penasihat ISWAMI (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia.

 

Editor : delanova
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 389
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 286
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 263
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 339
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 179
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 418
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya