Keprihatinan Johan Jaaffar Ihwal Kemerdekaan Pers dan Wartawan Malaysia

| dilihat 183

Nota Sempadan Bang Sèm

Wartawan veteran - tokoh Wartawan Negara - Malaysia, Tan Sri Johan Jaaffar tak pernah berhenti menyuarakan dengan lantang kemerdekaan pers di Malaysia.

Sepanjang hari Selasa (13/9/22), keprihatinannya atas kemerdekaan pers, menghiasi lama media (arus utama, digital, dan media sosial) Malaysia. Khasnya isu tentang 'intimidasi' atas pemberitaan The New Straits Times (NST) dan The Edge,  

Berita yang mengungkap keprihatinannya, yang semula diterbitkan juga di The New Straits Times (NST) dan The Edge, kemudian 'raib,' dan tak lagi bisa dibaca sejak Rabu (14/9/22) jelang pagi. Ada media yang memberitakan hanya dua paragraf, ihwal zaman yang sudah berubah.

Dalam pernyataannya, Johan yang mantan Chairman Media Prima Bhd - sekaligus pemimpin eksekutif kelompok New Straits Times Press (NSTP) dan kolomnis NST (sampai 2015), itu menyatakan, "media harus diberi kemerdekaan untuk beroperasi secara bebas dan adil dari campur tangan partai politik."

Dia prihatin atas campur tangan partai politik yang sudah masuk ke ranah manajemen jurnalisme media, terutama penunjukan editor. Khasnya, terkait pemberhentian Ahmad Lokman Mansor sebagai Group Editor NST yang akan berlaku  Kamis (15/9/22). Lokman digantikan oleh Farrah Naz Karim, yang sebelumnya sudah menjabat Redaktur Eksekutif di NST.

Diduga, pergantian Lokman karena bersiteguh dengan prinsip independensi jurnalistik dan menolak intervensi dari salah satu partai politik lama yang masih ikut berkuasa di Malaysia.

Johan juga prihatin atas pemberlakuan pasal 500 Penal Code (undang undang pidana) tentang pencemaran nama baik oleh Pengadilan kepada wartawan senior Ahmad Azam Mohd Aris, mantan Pemimpin Redaksi The Edge.

Azam Aris didakwa di Pengadilan Negeri Selangor di Petaling Jaya atas dua laporan berita tentang lonjakan tidak normal dalam saham penny, yang dterbitkan The Edge pada tahun 2020 dan 2021.

“Zaman telah berubah, begitu pula dinamika bisnis media. Bisnis media adalah bisnis para praktisi media," tegas Johan Jaaffar. "Sekarang adalah waktunya untuk memperkuat komitmen jurnalistik untuk memastikan (Pers sebagai) Pilar Keempat demokrasi."

Menurut Johan, wartawan harus dibiarkan beroperasi tanpa takut dalam menjalankan tugasnya.

"Saya merasa benar-benar tidak dapat menerima, bahwa seorang editor yang menghidupkan kembali New Straits Times, menghadapi kapak," tegas Johan sebagaimana disiarkan berbagai media.

Menurut Johan, Lokman Mansor telah membuat NST, kini, sebagai surat kabar (berbahasa Inggris) yang lebih enak dan perlu dibaca.

Tentang Azam Aris, Johan menyatakan, "Saya juga prihatin bahwa Azam Aris, mantan editor The Edge, telah didakwa dengan pencemaran nama baik berdasarkan Pasal 500 pidana atas dua artikel yang diterbitkan selama dalam pengawasannya."

Johan yakin, potongan-potongan (berita) yang membuatnya kini didakwa di pengadilan, merupakan representasi dari peristiwa dan pemberitaan yang adil terkait manipulasi penny stock.

Johan yang juga masih terlibat dalam Deklarasi Melaka - Hari Wartawan Nasional (HAWANA), tentang kemerdekaan pers dan wartawan yang dibacakan di hadapan Perdana Menteri Malaysia, Ismail Sabri Yakoob, penghujung Mei 2022 lalu.

Peristiwa yang menimpa dua wartawan senior, itu menjadi ironis.  "Perdana Menteri Datuk Seri Ismail Sabri (Yaakob) berulang kali memberikan jaminan, bahwa media harus tetap bebas beroperasi tanpa campur tangan pihak lain," ungkap Johan.

Tan Sri Johan Jaaffar yang berpengalaman luas di dunia media. Dia seorang jurnalis dan editor, penulis kreatif pemenang berbagai penghargaan, dan kolumnis yang banyak membaca.

Mantan peneliti dan pemimpin Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia, Pemimpin Redaksi kelompok Utusan Melayu, ini tak pernah lelah menyuarakan kemerdekaan pers di negeri jiran.

Dalam pidatonya pada Malam Wartawan Malaysia 2022 yang digelar MPI (Malaysia Pers Institut) - Petronas di Kuala Lumpur (24/6/22), Tokoh Wartawan Negara ke 12, itu menyatakan, perlunya kemerdekaan pers dan ruang untuk para wartawan bekerja tanpa ragu dan takut.

Dikemukakannya pada kesempatan tersebut, dirinya pernah menulis di kolomnya (pada The Star), tentang ironi dalam dunia media kini.   

"We are supposed to live in a freer world. The Internet is democracy at its best. But then, as we are unshackling ourselves from the yoke of media control, more and more leaders around the world are eying the press with scorn and distrust," tulisnya.

Kita harus hidup di dunia yang lebih merdeka. Internet adalah demokrasi yang terbaik. Namun, ketika melepaskan diri dari kelakar kontrol media, semakin banyak pemimpin di dunia yang menatap pers dengan cemooh dan ketidakpercayaan.

Johan berpandangan, penting bagi wartawan, keperluan untuk melihat ulang pendekatan bekerja dan berkarya, serta pembangunan modal insan yang diperlukan untuk menghadapi keperluan masa kini dan masa depan.

Sekaligus menerima kenyataan bahwa pers dan wartawan bersaing dengan media sosial yang langsung, real-time dan tidak terkendali. Tidak terkecuali, juga mengakui (dalam Resolusi Hawana) bahwa media arus utama harus hidup berdampingan dengan media sosial. Namun, juga menyadari bahwa tuntutan akan kebenaran dalam konteks media arus utama tidak dapat dikompromikan.

Johan yang menerima gelar Tokoh Wartawan Negara ke 12 di MPI-Petronas Malaysian Journalism Awards 26 April 2019, itu mengingatkan: "Media yang bebas adalah pilar demokrasi, demokrasi tidak akan subur dan matang tanpa media yang bertanggungjawab. Wartawan menjadi mata dan hati rakyat dan memainkan peranan sebagai conscience sebuah negara bangsa.

Dikemukakakannya pula, "Kadangkala para wartawan sendiri lupa peranan yang boleh kita mainkan, beban tanggungjawab yang perlu kita galas dan harapan rakyat kepada kita. Kadangkala juga kita lupa bahawa kita  boleh (mampu) membuat perubahan  dalam menentukan hala tuju negara ini."

Johan mengungkapkan pula introspeksi ke dalam dunia jurnalis dan media. Dia menyinggung kasus 1MDB yang kini membawa mantan Perdana Menteri Malaysia ke 6 Dato' Seri Mohammad Najib ke hadapan mahkamah dan menjadi banduan (narapidana).

"Sebagian besar dari kita gagal menyuarakan kepedulian kita ketika skandal 1MDB terkuak. Saya rasa itu adalah tamparan di wajah media yang meromok. Itu adalah panggilan untuk bangkit bagi kita. Kesopnanan yang menyebalkan. Ketika saya mengatakan "kita", saya berbicara tentang kita semua, termasuk saya," ungkapnya.

Dalam pidatonya, itu Johan berkata, "Marilah sama-sama kita mengingatkan diri kita, bahwa orang politik akan datang dan pergi. Kita kekal di sini. Banyak kali saya mengingatkan bahwa kita tidak diukur oleh  “kesetiaan” kita, tapi dari profesionalisme kita. Kerajaan boleh berubah, begitu juga slogan dan jingoisme. Tetapi kita akan terus diukur dari peranan yang kita mainkan dalam negara yang semakin  kompleks ini." |

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 205
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 278
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
22 Jun 22, 06:31 WIB | Dilihat : 311
Spirit Sirih Pulang ke Batang Kaum Betawi
Selanjutnya
Lingkungan