Hanya Keledai Jatuh di Lubang Petaka yang Sama

| dilihat 288

Bang Sém

Dalam kewajaran, anak-anak jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi. Dalam kepandiran, orang-orang dewasa jatuh berulang kali.

Dalam politik, seringkali orang dewasa jatuh berulang kali, karena tak pernah punya kemauan dan kemampuan mengenali sekaligus mencari tahu kelemahan diri sendiri.

Boleh jadi, karena terlalu lama hanyut dalam arus pemikiran yang keliru, menganalisis sesuatu dengan dimulai oleh kegetunan melihat kekuatan dan keunggulan diri, baru kemudian melihat kelemahan, peluang dan tantangan.

Masih kuat kecenderungan untuk tidak mau dan tidak mampu merumuskan tantangan apa yang akan dihadapi, peluang apa yang tersedia, sehingga harus obyektif mengenali kelemahan dan kekurangan diri, agar paham merumuskan kekuatan apa yang kudu diperlukan untuk menaklukan dan menjawab tantangan.

Dinamika politik selalu menghadapkan suatu masyarakat, negara, dan bangsa dengan berbagai fenomena politik, agar berkembang arus pemikiran paradigma politik.

Salah satu fenomena politik yang menjungkirkan suatu masyarakat, negara, dan bangsa dalam keterpurukan, adalah pragmatisme politik yang menjungkirkan politisi -- bahkan kemudian rakyat -- dalam politik transaksional.

Sejumlah partai politik hanyut dalam situasi fenomenal semacam ini, sehingga abai melakukan tugas pokok dan mission sacre-nya: mendidik rakyat. Untuk itu, mereka, semestinya kudu melakukan proses kaderisasi yang terencana, sistemik, dan terukur.

Ironi Partai Politik

Hanya sedikit partai politik yang berani mengubah minda dan melakukan perubahan nyata, meski mengklaim diri sebagai gerakan perubahan dan demokrasi.

Hanya sedikit partai politik yang mempunyai neracara keadaan dan jeli menginventarisi persoalan masyarakat, negara, dan bangsa, yang harus diselesaikan.

Hanya sedikit partai politik yang mempunyai cara menghampiri dan menyelesaikan masalah, dan sungguh mampu tampil sebagai solusi atas bangsa. Bukan justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Partai-partai politik baru muncul dan tersemai sebagai cendawan musiman, dan sebagian di antaranya, merupakan partai politik yang dibentuk oleh para politisi yang tak punya daya tahan berada dalam partai mereka sebelumnya.

Politisi-politisi yang terpental dari ajang konflik internal partai sebelumnya inilah yang kemudian melahirkan partai-partai baru dengan beragam retorika politik dan atribut baru, yang boleh diduga, kelak akan sama saja dengan partai-partai politik sebelumnya.

Situasi ini, sering dibincangkan orang, sebagai salah satu musabab, partai politik terperosok hanya menjadi ajang berebut kekuasaan dan membuka pintu lebar-lebar kepada oligark.

Ironisnya, partai politik, hanya melahirkan banyak petinggi dan sedikit pemimpin, banyak politisi dan sedikit negarawan.

Sudah terbayangkan, dalam situasi demikian, berbagai hal asasi dalam keseluruhan konteks penyelenggaraan demokrasi yang matang dan sungguh sebagai cara mencapai keseimbangan kebangsaan, akan selalu kehilangan daya.

Tantangan Masa Depan

Prinsip semak dan imbang (check and balances) dengan sendirinya akan lemah. Koalisi partai politik yang tidak konsisten dan tidak menyeluruh, tak ubahnya sebagai lubang-lubang persekongkolan kaum yang tak mampu keluar dari kubangan fantasi (fantacy trap) -- yang mereka sebut sebagai visi politik.

Di tengah situasi inilah, kemudian pusaran arus besar fantasi yang mengemuka adalah membicarakan figur, yang digadang-gadang paling pas -- dan seolah-olah -- merupakan representasi aspirasi mereka.

Media dan lembaga survey politik (bayaran), yang semestinya memainkan peran semak dan imbang, sekaligus memberikan gambaran tantangan asasi yang akan dihadapi bangsa, pun nampak ikut arus.

Lantas, khalayak terbawa arus besar kejumudan, kecupetan, stagnansi sosio budaya, dan kepandiran kolektif untuk membicarakan figur, tanpa melihat konteks dan koneksinya dengan masalah besar yang sedang mengepung bangsa ini.

Autisme politik belangsung dan berkutat dengan persoalan-persoalan kepentingan sesaat politisi dan oligark belaka.

Tentu abai dengan krisis ekologi yang disebabkan oleh merosotnya daya dukung alam, peningkatan pemanasan global, krisis air, krisis energi, krisis pangan, krisis pendidikan, titik balik globalisme, pandemi global, rontoknya kapitalisme, gamangnya sosialisme, singularitas, ancaman iming-iming bonus demografi yang bergerak menjadi petaka demografi, kemiskinan struktural dan kultural yang saling kait berkait, transhumanisme, dekadensi sosio budaya, konflik sosial yang melebar dan meruyak, ketidak-adilan, kejahatan kemanusiaan (dehumanitas), dan percepatan pergerakan teknologi informasi digital yang menggerakkan multimedia - multi channel dan multi platform, penguasaan dan pengendalian moneter yang tak terjangkau dengan otoritas fiskal, dan banyak lagi.

Hanya Keledai

Dinamika politik pada setiap menjelang tiba musim demokrasi, berada pada jarak budaya yang amat jauh dengan proses perkembangan peradaban baru internet on think.

Imajinasi bangsa tak terhampiri, karena dinamika politik praktis menyeret kita ke dalam arus deras ketidakpastian, kegamangan, kompleksitas, dan kemenduaan. Meski, di depan mata, kompetisi kecerdasan insani dengan kecerdasan buatan sudah menampakkan sosoknya.

Masih akan adakah partai politik yang mau dan mampu merumuskan tantangan kebangsaan dan tantangan semesta, yang mampu membawa kita keluar dari pusaran globalisme, dengan tawaran-tawaran visionery politik kebangsaan?

Seberapa banyakkah partai politik yang mau dan mampu melakukan transformasi gerakan perubahan cepat keluar dari jebakan fantasi, sehingga ketika menyeleksi figur calon petinggi, sungguh akan mendapatkan sosok pemimpin yang pas dengan zamannya?

Kita perlu mengenal pasti tantangan masa depan kita, minimal untu sepuluh tahun ke depan, agar kita tak terperosok ke dalam lubang petaka yang sama.

Untuk itu partai politik wajib dipimpin oleh sungguh pemimpin yang mampu mengubah paradigma berpikir, bersikap dan bertindak, yang berorientasi peoples centric. Bukan pada politicking centric.

Hanya keledai terpersosok di lubang petaka yang sama. |

 [PaDu, Bonjer: 12.05.22]

Artikel terkait: Kapal Patah Kemudi

 

Editor : delanova
 
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 281
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 358
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 159
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 248
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 261
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya