Emanuel Macron Menunggang Badai

| dilihat 390

Bang Sém

Emanuel Macron adalah meneruskan tradisi sosok Presiden yang unik bagi Prancis. Dia beroleh julukan yang mirip dengan Jean Casimir Perier (1894-1895), Presiden Prancis termuda. Perier menjabat Presiden Perancis pada usia 46 tahun, tetapi hanya menjabat sebagai Presiden selama 6 bulan 20 hari. Tapi, Macron dan Perier sama-sama berjuluk Presiden Borjuis, representasi orang-orang kaya.

Macron adalah Presiden kedelapan Republik Prancis Kelima. Lelaki kelahiran Amiens, 21 Desember 1977 anak tertua seorang dokter saraf dan dokter anak, ini memiliki ikatan emosional yang kuat dengan nenek dari pihak ibunya, mantan Rektor di salah satu perguruan tinggi Prancis. Dari neneknya dia belajar sastra.

Macron sekolah di Yesuit of Providence di kota kelahirannya, tempat dia bertemu dengan Brigitte Trogneux (Bibi), gurunya, yang kemudian menjadi isterinya.  Bibi, profesor aksara klasik.

Kedekatan emosional dirinya dengan sang nenek, mungkin yang menyebabkan dia menjadi seorang lelaki oedipus complex. Menyukai perempuan yang jauh lebih tua. Macron menikahi Bibi, istrinya, lebih tua 25 tahun, pada tahun 2007. Bibi, janda tiga anak dengan beberapa cucu.

Macron melanjutkan sekolah di Lycée Henri-IV di Paris. Lantas belajar di Science Po Paris, sebelum mendalami public services (pelayanan publik) dan mendalami filosofi Machiavelli di Universitas Nanterre dimana dia memperoleh gelar DEA (Diplôme d’études approfondies) dan menjadi asisten filsuf Paul Ricoeur.. Dari situ, Macron fokus pada public services dan sektor perbankan di ENA (Ecole Nationale d'Administration) - Strasbourg dalam promosi Léopold Senghor dan lulus tahun 2004.

Pada masa ini dia berkampanye untuk Gerakan Warga (civil society) dan partai Jean-Pierre Chevènement, kemudian karib dengan Michel Rocard (2002) tokoh sejarah sayap kanan Partai Sosialis.

Karirnya melejit. Dimulai dengan menjadi pegawai di Inspektorat Keuangan sebagai wakil inspektur (2004), kemudian menjadi inspektur keuangan (2005). Pada usia 30 tahun, ia direkrut oleh bank Rothschild, bankir investasi yang terkenal di dunia sebagai pendukung kuat kebangkitan Yahudi di Israel.

Di bank Rothschild, karir Macron melejit, sehingga dia ditunjuk sebagai mitra pengelola pada tahun 2010. Dua tahun kemudian oleh François Hollande -- ketika itu Perdana Menteri -- dia diminta bergabung ke dalam pemerintahan, sebagai Wakil Sekretaris Jendral Kepresidenan Perancis. Macron yang bergabung dalam Partai Sosialis pun gencar berpartisipasi dalam kampanye elektoral kemenangan yang mengantarkan Hollande ke istana Elysee sebagai Presiden Prancis.  

Agustus 2014, Hollande mengangkatnya sebagai Menteri Ekonomi, Industri, dan Urusan Digital dari Agustus 2014 hingga Agustus 2016 dalam Dewan Menteri yang dipimpin Perdana Menteri Manuel Valls.

Inisiatifnya melakukan pengembangan undang-undang di tahun 2015 menimbulkan kontroversi, sampai akhirnya disahkan oleh Majelis Nasional.

Sebagai machiavellian yang juga ditempa dalam jaringan Rothschild dia bersiasat, pada 6 April 2016 mendirikan gerakan En Marche! dan berhenti - meninggalkan jabatannya sebagai Menteri pada Agustus 2016.

November 2016 dia mendaftarkan diri dalam pemilihan Presiden 2017. Macron menumpahkan kisah tentang dirinya, inspirasinya, visinya tentang Prancis dan masa depannya, dan tentang dunia baru yang sedang mengalami transformasi "seperti saat mesin cetak pertama kali ditemukan dan Renaissance," dalam bukunya yang memikat bertajuk Rèvolution.

Buku ini menjadi platform perjuangannya dan memikat begitu banyak kalangan, khasnya kaum muda, kaum perempuan, intelektual, jurnalis, seniman, buruh dan para perindu kebebasan.

Buahnya, Macron memenangkan 66 persen suara pada putaran pertama. 7 Mei 2017 dia melenggang ke Elysium (istana Elysee) sebagai Presiden Prancis, lantas mengubah gerakan En Marche! menjadi partai politik République En Marche atau LREM, yang tidak ke kiri dan tidak ke kanan, tapi kemudian menjadi sangat ekstrim tengah.

Dia menunjuk Édouard Philippe sebagai Perdana Menteri, dan Bibi pun menjadi Ibu Negara yang dicandai, sekaligus merangkap sebagai 'ibu pengasuh Presiden.'

Di awal pemerintahannya, Macron masih sangat memikat. Dukungan buruh kereta api, misalnya mengelu-elukan dia ketika mentransformasi kode perburuhan dan perombakan Undang Undang Reformasi Perkeretaapian (SNCF).

Belakangan hari, banyak kalangan melihat Macron menjauh dari apa yang dia sampaikan melalui retorika dalam pidatonya yang langsung berkaitan dengan kehidupan dasar rakyat.

Ketika pemerintahannya menaikkan harga bahan bakar, protes pun terjadi. Bahkan kemudian menjadi protes besar yang dikenal dengan aksi unjuk rasa 'Rompi Kuning' yang brutal.

Macron memainkan situasi ini. Dia tidak meredam aksi itu, kecuali memerintahkan perdana menteri untuk terjun ke lapangan berhadapan dengan para demonstran dengan membawa 'janji manis.'

Demo yang kemudian melumpuhkan Prancis, itu berlangsung berhari-hari sampai penghujung tahun 2019. Dia masih mencoba ambil untung dengan aksi kekerasan dalam demo yang luas, itu.

Sebagai machiavellian, dia memainkan strategi komunikasi politik yang sangat klasik, menghitung ekses dari berbagai tuntutan politik rakyat mayoritas."

Ujungnya dia bertindak keras lewat polisi, dengan melontarkan tuduhan klasik, bahwa demo besar, luas, dan keras itu dilakukan oleh ekstrim kiri dan ekstrim kanan.

Ketika berkunjung ke Puy-en-Velay, rakyat mencemooh dia. Rakyat menganggap dia tak mampu mengatasi krisis yang mulai merangsek Prancis. Rakyat mendesak dia mundur.

Para demonstran kian solid dengan "Rompi Kuning" berhasil menyatukan berbagai pemikiran dalam perdebatan.  Kemarahan rakyat kia meningkat. Mereka menilai Macron mengidap kelambanan yang hampir bawaan, ragu-ragu.

"Rompi kuning" menjadi fenomena tantangan terberat bagi Macron karena menghambat gerakan Macronian. Orang yang putus asa, yang berjanji untuk tetap berada di jalur reformasi dengan segala cara, melalui penggunaan kekuasaan vertikal, sekarang kewalahan oleh berbagai peristiwa.

Emmanuel Macron membual di Puy-en-Velay. Dia, yang telah membuat pemulihan otoritas Presiden Republik salah satu cap dari mandatnya, telah dikalagkan. Perubahan haluan seperti itu spektakuler. Ini pasti akan mengkondisikan sisa masa lima tahun.

Rakyat mempertanyakan, "Apakah Emmanuel Macron orang yang tepat untuk pekerjaan itu?" Menunggang badai.

Tapi, Macron terus 'menari di atas gelombang,' dan memainkan situasi. Ketika pandemi Covid-19 menerjang yang sekaligus meredakan situasi dan menghentikan aksi demosntrasi 'Rompi Kuning,' dia muncul dengan gagasan imunitas kolektif.

Eksesnya,  banyak korban terpapar, petugas kesehatan angkat tangan dan melakukan aksi demo, rumah sakit tak mampu menampung korban. Di rumah sakit darurat militer, banyak korban yang mati, termasuk dosen dan para intelektual. Resesi ekonomi yang kemudian merangsek lebih kuat, pun dimanfaatkan.

3 Juli 2020 dia merombak kabinet. Dia mengangkat Jean Castex sebagai Perdana Menteri, menggantikan Édouard Philippe. Sejumlah menteri dia ganti, dan sindroma OC-nya nampak, ketika dia mengangkat beberapa perempuan berusia menjadi menteri dalam kabinet baru.

Berbagai rumors berkembang. Tak hanya tentang Castex, tapi juga Gérald Darmanin -- yang pernah berkasus pelecehan seksual -- sebagai Menteri Dalam Negeri. Keduanya adalah engkoan alias macronian yang bersedia menjadi tameng bagi gagasan-gagasan dan kebijakan Macron yang kontroversial.

Melihat ketidak-mampuan Macron mengatasi situasi pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi yang terus menjepit, Macron memilih taktik usang machiavellian, memainkan isu agama. Terutama, ketika sejak September 2020, tabloid busuk Charlie Hebdo kembali melecehkan nabi Muhammad dengan kartun yang sangat kasar.

Dia memainkan isu tentang kebebasan berekspresi dan sekularisma yang dianutnya dengan kuat. Tidak lagi memainkan isu rasial, karena dia telah memanfaatkan seorang feminis, novelis berdarah Maroko, Leïla Slimani, pemenang Goncourt 2016, yang ditunjuknya sebagai representasi pribadi Macron untuk Francophonie.

Penistaan Charlie Hebdo terhadap nabi Muhammad dia manfaatkan dengan menyampaikan pidato (Jum'at, 2.10.20) di Les Mureaux, kota kecil di tepian sungai Seine yang menghubungkannya dengan Paris. Langsung atau tak langsung pembiaran atas Charlie Hebdo sejalan dengan rencana yang dia siapkan, pembahasan dan pengesahan undang undang 'perang terhadap separatisme.' Undang-undang itu tersurat dan tersirat, menekan umat Islam di Prancis. Undang-Undang itu diharapkan sudah dapat disahkan Desember 2020.

Les Mureaux selama ini terkenal karena kerukunan dan kedamaian multi ras dan agama. Di kota tempat peluncuran satelit Ariadne, terdapat pusat Islam berbasis masjid.

Asosiasi komunitas Islam Mureaux  (ACIM) telah meluncurkan, proyek konstruksi ambisius yang bertujuan untuk mempromosikan budaya Muslim dan karena itu berkontribusi pada pengayaan warisan dan lanskap des Mureaux, bekerja menuju toleransi dan integrasi.

Proyek berskala besar ini, akan menjadi landmark utama di Les Mureaux, akan terdiri dari tempat ibadah dengan kapasitas 1300 orang, yang mampu menciptakan ketenangan yang sempurna (kekhusyukan) beribadah dan menyempurnakan salat mereka.

Kedamaian itu belakangan hari agak terusik, karena perlakuan tak adil atas sejumlah kaum muslim, yang sering dituding terkait dengan women trafficking dan narkoba.

Dalam pidatonya di hari Jum'at itu, Macron menegaskan, sebagai Presiden dia harus mengumumkan rencananya melawan politik Islam dan komunitarianisme. Semua yang bertentangan dengan prinsip sekularisme dan kesetaraan akan dilarang, termasuk hijab, niqab, dan lainnya.

Macron mengemukakan,"Yang perlu kita atasi adalah separatisme Islamis. Ini adalah proyek sadar, berteori, politik-agama, yang diwujudkan oleh penyimpangan berulang-ulang dari nilai-nilai Republik, yang sering menghasilkan konstitusi kontra dan masyarakat, yang manifestasinya adalah anak-anak putus sekolah, perkembangan budaya dan praktek olah raga yang dikomunikasikan, dalih prinsip pengajarannya yang tidak sesuai dengan hukum Negara Republik. Itu adalah indoktrinasi dan melaluinya menegasikan prinsip-prinsip kita, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, martabat manusia."

Dia juga katakan, "Kami tahu bahwa kami memiliki 70 orang muda yang berangkat ke Suriah, yang sering menjadi anak-anak Republik mengikuti arus ini, bahkan melangkah lebih jauh dengan mencoba menumpahkan darah atau terkadang sampai yang terburuk. Dengan cara ini juga kita melihat kembali demonstrasi Jumat lalu, di dekat tempat Charlie Hebdo."

Di bagian lain pidatonya, Macron menyatakan, "Ekses-ekses yang datang dari Islam radikal, bagi yang lain, di perbatasan psikiatri dan radikalisasi politik-agama, kadang dengan individu-individu yang kita kenal sangat terisolasi, yang bisa radikal dalam beberapa jam. Karena itu kita harus melanjutkan dengan tekad, kekuatan. Ini adalah misi, komitmen Menteri Dalam Negeri dan di sisinya, dari semua pejabat yang bekerja dengannya, juga misi imigrasi untuk terus menggagalkan, maju, memenangkan kembali."

Di bagian lain pidatonya Macron menyebut sebuah pusat Islam di Prefek Seine - Saint-Denis, anak-anak datang pukul delapan pagi, pulang pukul tiga sore, mereka dididik ajaran tertentu, do'a dan kursus tertentu secara tertutup, disambut perempuan-perempuan berniqab.

Dua pekan kemudian terjadi peristiwa, terbunuhnya Samuel Pay, seorang profesor, oleh mahasiswanya Abdullakh Anzorov asal Chechnya. Macron pun meradang, mengeneralisasi tentang radikalisme Islam. Dia tak mau tahu, Pay kerap memperlihatkan kartun Charlie Hebdo yang menista nabi Muhammad.

Dalam renungan untuk Pay, di halaman Sorbonne Universitè, Macron menyatakan, tangannya tidak akan gemetar menghadapi tantangan yang dilancarkan oleh terorisme Islam. "Para Islamis tidak boleh tidur nyenyak di negara kami," tegasnya.

Undang-Undang yang disiapkannya, yang ramai disebut sebagai Undang Undang Anti Teror, menjadikan masjid sebagai sasaran. Dan, Menteri Dalam Negeri, Gerald Darmanin, segera bergerak. Dia meminta kepada Prefek Seine-Saint-Denis untuk menutup Masjid Pantin."

Friksi sosial terpantik. Di Nice, terjadi peristiwa penyerangan di gereja.

Sikap dan tindakan Macron kemudian menimbulkan reaksi di mana-mana, di seluruh dunia. Presiden Erdogan menasihatinya untuk memeriksa kesehatan jiwanya. Dan, Tun Dr Mahathir Mohammad dari Malaysia menyebut Macron tidak beradab.|

Artikel Terkait : Boomerang Radikalisme Menghantam Balik Presiden Macron

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 359
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 203
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 196
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 182
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 422
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya