Sarasehan Kaukus Muda Betawi

Betawi Kudu Bersatu Menjemput Jakarta Baru

| dilihat 493

JAKARTA | Kaukus Muda Betawi yang terdiri dari intelektual, akademisi, dan penggiat kebudayaan Betawi, mengambil inisiatif merespon masa depan Jakarta, selepas Undang Undang Ibu Kota Negara disahkan DPR RI pada Selasa, 18 Januari 2022.

Selasa, 1 Februari 2022, Kaukus Muda Betawi menggelar sarasehan "Jakarta tanpa Ibu Kota: Gerak dan Peluang Masyarakat Betawi" di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat.

Dalam sarasehan itu mengemuka pandangan, kaum Betawi kudu bersatu menjemput Jakarta Baru.

Kaukus Muda Betawi  dimotori oleh Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi Beky Mardani, Imbong Hasbullah, Ikhwan (Boim) Ridwan, Usni Hasanuddin, Dorry Herlambang, dan Subhan Anshori.

Ketika memberi pengantar sarasehan, Becky Mardani, menyerukan agar warga dan para tokoh Betawi tidak berdiam diri menyusul dicabutnya status ibu kota negara (IKN) dari Jakarta.

Becky yang juga mantan Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Betawi, itu menyatakan, "Sebagai anak Betawi, kita harus mendorong dan berpartisipasi penuh dalam pembahasan revisi UU 29/2007 tentang Pemerintahan DKI Jakarta, sehingga turut andil dalam menentukan Jakarta ke depannya ingin seperti apa."

Beky juga menegaskan, pemerintah dan DPR harus melibatkan serta memperhatikan aspirasi warga Betawi sebagai penduduk asli Jakarta dalam proses penyusunannya Undang Undang yang baru tentang Jakarta.

Setidaknya, menurut Beky, ada empat hal dasar yang harus diperhatikan dalam Undang Undang Pemerintahan DKI Jakarta, itu. Yakni ekonomi, sosial, politik, dan budaya masyarakat Betawi.

Menurut Beky, jangan seperti UU 29/2007 yang hanya menyinggung Betawi di dalam Pasal 26 ayat (6). Itu pun sebatas pengembangan budaya.

Dalam sarasehan itu hadir sejumlah tokoh, intelektual, akademisi - guru besar beberapa universitas - asal Betawi, baik yang aktif di dalam maupun di luar sistem pemerintahan.

Prof. Dailami Firadus - Anggota DPD perwakilan Jakarta, menyerukan agar kaum Betawi bersatu menghadapi perubahan ini. "Ibarat sapu lidi, kalo bersatu, jadi kuat," kata Ketua Yayasan Universitas Islam As Syafi'iyah, itu.

"Kebersatuan Betawi untuk memajukan Jakarta ke depan, sangat penting," ujar Dailami Firdaus. "Kalau kita punya ghirah yang kuat, insyaAllah kita berjaya," cetusnya lagi.

Dailami memandang penting dikukuhkannya wadah bagi warga Betawi sebagai masyarakat adat, sebagaimana Nangroe Aceh Darussalam mengatur tentang Majelis Adat Aceh (MAA).

"Keberadaan Majelis Adat dapat menegaskan kekhususan dan atau keistimewaa Jakarta," ujar Bang Dai.

Pemikiran yang sama mengemuka dari Sekretaris Majelis Adat Betawi, Abdul Chair Ramadhan, yang juga mengingatkan peserta sarasehan konstelasi Jakarta dalam konteks dimensi keibukotaan yang bersumbu pada keberadaannya sebagai kota tempat dilahirkannya ideologi dan weltanschauung kebangsaan, yakni Pancasila. Pun, Jakarta dalam konteks Undang Undang Tata Ruang yang mengatur tata ruang nasional, regional, dan lokal (provinsi, kabupaten, dan kota).

Abdul Chair memantik pemikiran historis, yang menyebabkan Jakarta, menurut Agus Suradika - guru besar Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagai pusat sejarah dan kesejarahan bangsa ini.

Disahkannya UU IKN, menurut Beky, Dailami, dan Agus Suradika, merupakan kesempatan bagi kaum Betawi untuk terus mengembangkan Jakarta sebagai Pusat Kebudayaan dan Peradaban, Pusat Perdagangan, dan Pusat Pengembangan Ekonomi.

Agus, yang sempat berkarir lama sampai menjadi petinggi di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, itu memandang penting dilakukannya judicial review atau uji material UU IKN ke Mahkamah Konstitusi. Setarikan nafas Agus memandang, perlunya melakukan revisi menyeluruh UU No. 29/2007 tentang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Agus melatari pandangannya ini, lantaran filosofi sejarah Jakarta, filosofi interaksi budaya di Jakarta, dan filosofi perlunya membangun kemitraan antara pemerintah daerah dengan Majelis Adat Betawi.

"Uji konstitusi itu penting, tapi biarkan itu dilakukan oleh Betawi yang lain. Tapi, revisi UU jauh lebih penting karena menyangkut posisi orang Betawi, menyangkut generasi Betawi ke depan. Untuk itulah, kedua kajian ini harus berjalan seiiring dan dilakukan secara serius, memperhatikan berbagai faktor, seperti geopolitik, kesejarahan, kebudayaan, peradaban, serta ekonomi," bebernya.

Kyai Lutfi Hakiem, Ketua Umum  ormas terbesar Betawi Front Betawi Rempug (FBR), menyoroti pentingnya revisi UU 29/2007 tidak mengulangi lagi kesalahan dalam mentransfer nilai kebetawian.

"Revisi UU menjadi momentum bagi warga Betawi untuk membangun sistem transfer nilai kebetawian untuk anak dan cucu Betawi. Melalui revisi UU ini, saya berharap, nantinya ada metode yang efektif agar nilai kebetawian dapat dipelajari setiap generasi ke depan," tegas Lutfi. "Bahkan melalui revisi UU, diharapkan juga akan mengubah regulasi di tingkat provinsi," tambahnya.

Tokoh Betawi lainnya, Aziz Kafiya mantan Anggta DPD RI Perwakilan Jakarta mengemukakan perlunya langkah-langkah politik dalam melakukan berbagai aksi perubahan Undang Undang tentang Jakarta ke depan.

Ia memandang perlunya pendekatan dan lobi dengan para petinggi partai politik untuk memberi perhatian atas perubahan UU tentang Jakarta kelak. Menurutnya, kaukus muda Betawi perlu menyusun academic draft awal tentang perubahan undang-undang, itu.

Ketua Komite III DPD RI, mantan None Jakarta dan Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni melihat, kelak Jakarta akan makin bersinar. Jakarta tak akan kehilangan dimensdi fungsionalnya.

Guru besar di UHAMKA Jakarta itu memperdengarkan pandangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang menyatakan, bahwa Jakarta akan terus berkembang sebagai pusat kebudayaan dan perekonomian bangsa ini.

'Perempuan jingga' yang biasa dipanggil Mpok Sylvi, dalam paparannya, memantik optimisme dan gairah kaum Betawi menyongsong Jakarta baru sebagai kota yang berdimensi global.

Akan halnya tokoh Betawi lain, N. Syamsuddin Ch. Haesy yang biasa dipanggil Bang Sém, mengemukakan, empat hal pokok perlu mendapat perhatian kaum Betawi untuk menguatkan perannya kini dan mendatang. Yakni, pendidikan, kebudayaan dan religi, ekonomi, dan kesehatan.  

"Allah sudah mentakdirkan Jakarta sebagai kota berdimensi kesejarahan dengan beragam fungsinya dari masa ke masa yang tak bisa dihapuskan oleh siapapun. Pindahnya ibukota negara ke luar Jakarta adalah berkah Allah kian menaikkan martabat bangsa Betawi," tegasnya.

Terkait revisi UU 29/2007, Bang Sem mengingatkan, kaukus muda Betawi memberi perhatian khusus pada dimensi ideologi, nilai dasar budaya politik - ekonomi - sosial - ekologi - dan demografi yang sebelumnya disinggung Chaer.

Dia juga mengingatkan, ke depan Jakarta akan menjadi simpul Megapolitan yang sesungguhnya yang dihubungkan oleh trans Java, ketika Tangerang Raya, Bekasi Raya, Bogor Raya, dan Cirebon Raya akan tumbuh sebagai metropolitan baru, menyusul Bandung, Semarang, Yogya, dan Surabaya. "Bukan sebatas jabedetabogpunjur - Jakarta Bekasi Depok Tangerang Bogor Puncak Cianjur," tegasnya.

Dia juga mengemukakan, bangsa Betawi mempunyai akar dari beragam perkembangan budaya dan peradaban dunia, terkait Zangdes sebagai pusat peradaban timur sebagaimana diisyaratkan Al Balkhi, yang kemudian berkorelasi dengan pandangan dua guru besar berkaliber dunia Stephen Oppenheimer dan Arisio Santos  yang melakukan penelitian tentang Atlantis. "Bawalah pusat masalah ke manapun pergi, sehingga Jakarta utuh sebagai pusat peradaban," pungkasnya.

Di luar forum, para tokoh menyatakan pandangannya melalui saluran YouTube Bang Dai, termasuk sikap pelaku usaha kreatif mandiri (UKM) Betawi, Doel. "Kaum Betawi sudah terbiasa dengan perubahan. Makanya, enjoy aja.., sambil terus berjuang," tukasnya.| hasanal, haedar.

Editor : Sem Haesy | Sumber : sumber foto: Bang Dai Channel YouTube, Boim
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Sporta
02 Okt 22, 12:46 WIB | Dilihat : 269
Tragedi Kemanusiaan di Kanjuruhan
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 465
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
Selanjutnya