Bukan Cuma Jual Kavling.. Men

| dilihat 159

Masybitoch

Kapling siap bangun di kawasan kota mandiri itu sudah mulai dipasarkan. Perhelatan pemasaran pun digelar. Calon-calon investor antusias memenuhi undangan.

Seorang pemasar utama tampil ke pentas. Mulai memasarkan berbagai peluang investasi.  Mulai dari blok yang akan menjadi pusat layanan kesehatan dan pendidikan, pusat layanan keuangan dan perbankan, pusat perdagangan dan hiburan, pusat perkantoran dan bisnis, pusat interaksi khalayak, pusat kegiatan olah raga, pusat permukiman, tak terkecuali aero city yang terletak di sekeliling bandara, dan lain-lain. Hanya pusat pemerintahan dan politik yang tak ditawarkan.

Investor tak usah kuatir banjir, karena akan ada bendungan yang akan menghempang dan menyerap air hujan. Beragam infrastruktur penduduk, juga akan dibangun. Selain jalan, jembatan, jembatan layang, underpass, sky line, commuter line, train line, dan tentu jalan tol. Semuanya akan menguatkan akses atau koneksitas kota mandiri itu dengan kota-kota lain di sekelilingnya dan berbagai infrastruktur transportasi dan logistik.

Investor juga tak perlu kuatir dengan percepatan teknologi informasi yang merupakan proyeksi masa depan. Di kawasan kota mandiri, itu para investor juga dapat menanamkan modal mereka untuk membangun cybercity.

Sang pemasar utama juga menjanjikan fasilitas investasi, mulai dari kecepatan prosedur investasi yang memungkinkan tercapainya efisiensi tinggi, kenyamanan dan keamanan. Termasuk hak kepemilikan lahan. Tak terkecuali fasilitas diskon pajak dan keringanan kontribusi.

Para investor terkagum-kagum. Apalagi, di layar LED yang melatari sang pemasar utama, tampil video animasi imajinatif rekacita dan rekabentuk tata ruang dan tata bangunan.

Di layar itu juga tergambar bagaimana mass rappid traffic (MRT), dan light rail transport (LRT) lalu lalang, juga angkutan publik massal berupa bis dan kendaraan listrik.

Tampak juga suasana kota yang diambil secara helicopter view yang dinamis. Nampak, kota itu berada di tengah kawasan hutan hujan tropis yang dikelilingi oleh hutan monokultur yang dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memelihara herbalium.

Tak seorang pun investor beroleh kesempatan untuk mendapat informasi lebih jauh dan mendalam, karena di meja masing-masing sudah tersedia satu set lengkap informasi videotik dan beragam buku tentang sisik melik kota masa depan itu.

Acara usai. Cocktail party berlangsung. Para pemasar madya menghambur ke berbagai kelompok investor.

Salah seorang pemasar madya berada di tengah kelompok investor melayani pertanyaan beberapa investor di situ. Khasnya ihwal investasi dalam infrastruktur perkotaan untuk mencapai visi baru yang dikemukakan pemasar utama.

Di dunia, rata-rata investasi dalam infrastruktur kota, diperkirakan akan mencapai nilai sampai US$375 miliar pada tahun 2030. Karenanya, investor tersebut bertanya tentang koneksi kota mandiri dalam hutan hujan tropis, itu dengan sentra-sentra keuangan global. Tak terkecuali, koneksinya dengan kota-kota lain, sentra pertumbuhan ekonomi yang berada di pulau lain yang infrastrukturnya jauh sudah lebih lengkap.

Berbagai argumentasi dikemukakan untuk meyakinkan sang investor, namun agak terkendala ketika harus menjelaskan proyeksi populasi penduduk dan strata ekonominya. Pertanyaan ini mengemuka karena berhubungan erat dengan urban infrastructure, humanized and sustainable living, urban foot print, dan digital transformation.

Pun, dalam keseluruhan konteks ekologi yang bertalian antara citizen centric dengan keamanan dan kenyamanan, keuletan penghuni dalam meningkatkan kemampuan ekonomi mereka kelak, inklusivitas dan keadilan, dampak rendah ekosistem dan gaya hidup lestari (sustainable life data-style), sirkularitas dalam konteks ekonomi mikro dan makro, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Tak terkecuali pertanyaan ihwal konsistensi terhadap model pembagian ruang perkotaan untuk kepentingan konservasi dan budidaya.

Akankah kota mandiri yang baru dipresentasikan dapat dibandingkan secara proporsional dengan desain pembangunan The Line di Saudi Arabia, Singapura, Dubai, dan Abu Dhabi?

Bagaimana pula dengan isu-isu yang bertalian dengan berbagai tantangan global yang mengharuskan setiap generasi baru memikul tanggungjawab dalam melestarikan bumi, membalik kemiskinan, mengendalikan demografi, pengendalian efektif planet, pemeliharaan biosfeer, pengembangan nano teknologi, dan perancangan peradaban dan keadaban baru. Termasuk perlindungan terhadap masyarakat adat yang wilayah hidup mereka diubah fungsinya menjadi kota mandiri tersebut.

Semuanya aspek tersebut menjadi pertimbangan penting dalam memutuskan investasi bagi pembangunan kota baru di masa depan.

Pemasar madya tak dapat menjawab sejumlah pertanyaan asasi yang diperlukan investor. Antara lain, ihwal konsep forest city sendiri, yang kini sedang dirancang sedang berproses pembangunannya meliputi 150 kota di 40 negara. Termasuk di Malaysia, Saudi Arabia, Syria, Mesir, Korea Selatan, dan lain-lain.

Para investor tak hendak, kota mandiri yang ditawarkan akan bernasib sama seperti Nay Pyi Daw (Myanmar), Masdar (Uni Emirat Arab), Song Do (Korea Selatan), dan beberapa kota lain yang lantas menjadi 'kota hantu.'

Pemasar madya yang lain juga menghadapi persoalan yang tak siap untuk dijawab. Tak hanya soal proses urbanisasi cepat dan kelangkaan sumberdaya. Terutama, karena beberapa tahun ke depan masyarakat dunia akan menghadapi krisis urbanisasi yang cepat, sumberdaya yang langka, serta peluang bisnis yang tak mudah dieksekusi.

Pengembangan promosi dan fasilitas investasi dalam bentuk pemangkasan birokrasi, tak cukup sebagai pemikat investor. Apalagi, ketika dalam horison fantasi akan selalu terbayangkan suatu kota global baru (bahkan mungkin megacity) yang akan terbayang adalah berkembangnya kota menjadi sentra populasi urban baru yang tidak mampu menyerap semua arus migrasi.

Keberadaan dan peran investor memang pilihan yang tak terhindari, ketika pembangunan megacity harus dipercepat pembangunannya. Terutama yang dibangun dalam konsep forest city.

John Macomber, dosen senior Harvard Business School, pernah mengajukan pertanyaan, mengapa kota-kota baru dalam skala megacity, baik forest cirty maupun water front city tidak diproyeksikan untuk tumbuh secara organik seperti London dan Jakarta? Tentu dengan berfikir logis - realistis dengan way of solve city problem, katimbang intuitive reason membangun kota baru.

Kalaupun harus membangun kota baru, seberapa matang pertimbangan, bahwa kota yang dibiayai investor tersebut, kelak sepenuhnya menjadi kawasan yang dikelola dan dihuni oleh manajemen dalam kendali investor. Kota yang sungguh mandiri.

Pemasar madya berbisik dengan sesamanya: "Kudu keluar dari keribetan nikh..  tugas kita kan bukan cuma jualan kavling.. men.. !" |

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 42
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 362
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Sporta
02 Okt 22, 12:46 WIB | Dilihat : 271
Tragedi Kemanusiaan di Kanjuruhan
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 466
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
Selanjutnya