Negara Bertanggungjawab Prioritaskan Kaum Tuna

| dilihat 414

Negara mesti bertanggungjawab dan memberi perhatian terhadap kaum tuna (disability community) dan memberi prioritas untuk membantu mereka dalam situasi krisis, seperti yang kita alami ini.

Ketua Umum Lajnah Tanfidiziah Syarikat Islam (SI) - Ketua Mahkamah Konstitusi (2013-2015) menyampaikan hal itu dalam gunemcatur (talkshow) dan konser amal yang digelar Salam Radio dan Rumpud (Rumah Peduli Usaha Disabilitas) di The Bosss Cafe, Jakarta Utara, Sabtu (4 Juli 2020).

Dalam gunemcatur bertajuk 'Membangun Akses Disabilitas' yang juga menghadirkan Budayawan Sèm Haèsy, dan dipandu Rauda Sabila, itu Hamdan mengemukakan krisis kesehatan yang ditimbulkan oleh virus COVID-19 dengan protokol lembaga kesehatan dunia (WHO), menempatkan kaum tuna (dissability community) telah berdampak pada krisis sosial dan krisis ekonomi.

Kaum disable, yang rata-rata menggantungkan hidup pada kedekatan dan kontak fisik antar personal dan kontak sosial, menurut Hamdan, tentu memerlukan bantuan ekstra. Yang mereka perlukan, tidak hanya bantuan sosial dalam konteks social security, tetapi tetap terjamin dapat melakukan ikhtiar dan usaha. "Sebagai manusia, tentu tidak akan selamanya akan menggantungkan hidup dari bantuan sosial, walaupun bantuan sosial itu sangat membantu," sambung Hamdan.

Meskipun tanggungjawab negara melalui pemerintah sangat diperlukan, menurut Hamdan, tanggungjawab sosial berbagai kalangan, tak terkecuali komunitas seperti Rumpud dan Salam Radio, sangat diperlukan.

Hamdan yakin dalam situasi krisis seperti yang sedang dialami saat ini, inisiatif-inisiatif kreatif akan terus bermunculan dan berkembang. Karena dari inisiatif, kreativitas, itulah akan muncul inovasi-inovasi, termasuk menciptakan peluang usaha yang sesuai.

Sebagai warga negara, kaum tuna mempunyai hak yang sama dengan warga negara lain, mendapatkan perhatian prioritas dari negara. Baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Diperlukan cara, supaya kaum tuna diperkuat aksesnya ke berbagai aspek yang dapat menjamin kehidupan mereka secara wajar.

Sem Haesy menyebut dua langkah yang bisa dilakukan, yaitu penguatan akses mereka terhadap modal - lebih spesifik lembaga keuangan dan jejaring sosial. Terkait dengan ini program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Corporate Community Responsibility (CCR) Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan kalangan swasta besar -- yang tak terlampau terguncang -- perlu mengambil perhatian kepada kaum tuna.

Sejalan dengan pandangan Hamdan, Sem Haesy mengemukakan, upaya-upaya kreatif yang dilakukan oleh pemerintah dan komunitas bisa saling berpadu harmonis satu dengan lainnya dalam menguatkan kaum tuna, sehingga dapat terus betahan dan berkembang.  Mereka dapat diberikan peran fungsional sesuai dengan kapasitasnya, termasuk dalam beragam aktivitas pengembangan jejaring sosial.

Alhasil, baik Hamdan maupun Sem Haesy meyakini, bahwa inisiatif-inisiatif kreatif akan mampu memfasilitasi kaum tuna untuk dapat terus bertahan hidup, dan kemudian menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan protokol kesehatan. Terutama, karena krisis kali ini, intinya adalah krisis kesehatan, melawan nanomonster COVID-19 yang tak nampak kasad mata.

Agustian, pimpinan Salam Radio yang lama bergerak dalam aktivitas sosial setiap terjadi bencana, mengemukakan, ikhtiar penguatan akses kaum tuna menjadi perhatian radio streaming dan Komunitas Rumpud, karena mereka melihat fakta di lapangan, bahwa kaum tuna, terbilang bagian dari anak bangsa atau warga negara yang paling merasakan dampak krisis kesehatan yang berkembang menjadi krisis sosial dan ekonomi ini.

Di sisi lain, menurut Agustian, justru karena ada krisis inilah, pihaknya melihat sebagai peluang untuk membangun solidaritas dan soliditas sosial. Konser sosial sesuai dengan standar protokol kesehatan dilakukan untuk membuka peluang berbagi bagi siapa saja untuk beramal. | willy

 

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 303
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 472
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 466
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 404
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya
Lingkungan
04 Feb 21, 08:23 WIB | Dilihat : 341
Dahsyatnya Ular Betina
02 Feb 21, 09:26 WIB | Dilihat : 357
Anjing
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 343
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
Selanjutnya