Bincang Vaksin Petang Hari

Masih Jauh Jalan Menuju Kekebalan Kawanan

| dilihat 107

Haédar Muhammad

Perbincangan petang via platform zoom dengan beberapa kolega di Malaysia dan Singapura, Kamis (27/5/21) tentang vaksinasi yang tak sepenuhnya dipatuhi rakyat di Indonesia dan Malaysia (karena berbagai alasan), menarik dan menambah wawasan saya tentang banyak hal.

Terutama dalam konteks Indonesia dan Malaysia, merebak berbagai isu lain yang sangat politis, dan menjadi ajang politisi saling 'bersilat lidah' untuk meyakinkan khalayak, paling tidak konstituennya, yang mengesankan mereka 'bekerja' untuk rakyat.

Meskipun begitu, upaya mereka mengedepankan citra diri, tak sepenuhnya mampu menghadang beragam informasi deras seputar vaksin dan vaksinasi.

Apalagi di belakang hari, berbagai isu mutakhir dari berbagai platform media sosial lebih menyita perhatian. Di Indonesia, antara lain, isu seputar komitmen kongkret pemberantasan korupsi, yang mengalami pelemahan,  seputar alih status pegawai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menjadi aparatur sipil negara, lebih menarik perhatian.

Begitu juga dengan penggunaan pasal-pasal suap dalam tuntutan kasus korupsi bantuan sosial (bansos) yang merupakan kejahatan kemanusiaan.

Di Malaysia, isu seputar kasus Presiden UMNO A. Zahid Hamidi di Mahkamah dan merebaknya jumlah paparan nanomonster Covid-19 yang 'mencekam' lebih menarik perhatian khalayak. Hanya Singapura yang relatif lebih fokus pada politik pengendalian kesehatan rakyat, karena secara politik tak ada geliat yang lebih berarti.

Isu-isu tentang rally demonstrasi membela Palestina dan kutukan kepada resim zionis teroris radikal Israel, juga menyita perhatian. Terutama, karena Palestina menjadi satu-satunya negara jajahan yang masih tersisa di dunia.

Kami berbincang tentang proses vaksinasi yang terus digencarkan oleh masing-masing pemerintah, yang berpacu dengan isu-isu pemanfaatan vaksin untuk mengubah data DNA (deoxyribonucleic acid) - nama kimiawi untuk molekul yang membawa instruksi genetik pada semua makhluk hidup. Materi keturunan pada manusia (yang terkait dengan nasab) dan hampir semua organisme lain.

Isu Identitas Tunggal Manusia

Bila benar vaksinasi dimaksudkan untuk mengubah DNA yang sebagian besar terletak di inti sel dan di mitokondria - struktur di dalam sel yang mengubah energi dari makanan menjadi bentuk yang dapat digunakan sel, maka informasi yang tersedia untuk membangun dan memelihara suatu organisme, akan berubah. Hal ini, sangat merisaukan, sekaligus 'mengerikan.'

SEJAK 2018 dan kemudian terdeklarasikan pada tahun 2020, mengemuka gagasan tentang identitas digital (ID2020) dengan blockchain dan biometrik, terkait dengan data diri manusia sejagad.

Isu ini berkembang dan mempengaruhi sikap Dr. Nevers Mumba, Presiden Zambia yang menolak dan melarang vaksinasi di negaranya, sebelum semua vaksin yang ditawarkan diverifikasi dan divalidasi oleh peneliti dan laboratorium negaranya.

Vaksinasi massal dan massif di seluruh dunia, dicurigai sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya identifikasi data tunggal diri manusia yang terintegrasi dengan sistem super komputer.

Pandemi Covid-19 dipandang sebagai momentum strategis untuk melakukan single identity manusia sejagad yang terhubung dengan jaringan super komputer sesuai dengan kebutuhannya, tak terkecuali yang berurusan dengan transaksi kebutuhan dasar dan keuangan.

Bill Gates dan mitranya dalam klub 'Orang Kaya Sejagad,' dikabarkan secara luas (April 2020) berada di balik proses dinamis dan cepat singularitas ini. Antara lain dengan menggunakan reason atau mengacu kepada  Pasal 6 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang menyatakan, "Setiap orang berhak atas pengakuan di mana pun sebagai pribadi di hadapan hukum."

Tetapi, aksi Bill Gates cum suis, disontok oleh Alex Jones (23/10/2020) lewat situs InfoWars yang menuding proyek percontohan terkait ID2020, menanamkan "chip" ke para tunawisma di Texas.

Jones menggunakan cara pandang teori konspirasi dalam merespon gerak aksi singularitas a la ID2020, yang dibangun oleh koalisi Microsoft, Accenture, akademisi, perusahaan blockchain, lembaga swadaya masyarakat, dan lainnya. ID2020 sudah beraksi, menasihati pemerintah Bangladesh soal sistem catatan vaksinasi.

Jones kemudian menghadapi reaksi balik. Dia diblokir pada beberapa platform media sosial. Alasannya, sejumlah klaim Jones dianggap menyesatkan. Dia juga dituding sebagai "hampir pasti ahli teori konspirasi paling produktif di Amerika kontemporer."

Pandangan dan sikap Jones, kemudian disambut sejumlah akademisi dan peneliti yang lama berkutat di laboratorium menangani vaksin. Lantas merebaklah informasi, bahwa vaksin imunisasi kepada anak-anak, misalnya, akan terkait dengan informasi biometrik orang tua mereka - termasuk (kemungkinan besar) sidik jari digital. Hal ini, bakal menimbulkan kontroversi besar di kalangan masyarakat negara berkembang dapat menarik kontroversi nyata.

Isu lantas berkembang, ID2020 dan Bill Gates dituduh sebagai bagian dari rencana fantastik, vaksinasi massal wajib sebagai pengganti cara implantasi microchip (di Indonesia bisa dipahami sebagai bentuk lain dari 'susuk KB') atau "tato kuantum dot" ke setiap orang.

Pemeriksa fakta (fact checker) di jaringan kantor berita Reuters, membantah tudingan, itu. Namun, koalisi ID2020 tidak terdaftar dalam database terkemuka pembongkaran COVID-19. Apalagi, belakangan, Direktur Jendral World Health Organization (WHO) Tedros, memuji  “komitmen luar biasa” dan ketulusan Bill dan Melinda Gates. Tedors, bahkan berterima kasih atas kontribusinya.

Herd Immunity a la Swedia

Dalam perbincangan santai, itu seorang teman dari Malaysia mengemukakan pandangan dan sikapnya, bahwa menerima suntikan vaksin - bagaimanapun dampaknya terhadap imunitas, kini, merupakan cara terbaik dibandingkan harus menghadapi sejuta kemungkinan terburuk menjadi 'mangsa' nanomonster Covid-19.

Sikap yang sama dikemukakan oleh teman dari Singapura, meskipun dia menyatakan, herd immunity yang akan dijangkau pada capaian prosentase tertentu vaksinasi massal dan massif, tidak dengan serta merta membawa kembali kita ke kehidupan sebelum virus corona ini merebak pertama kalinya di Wuhan (Januari 2020).

Mengacu pada tindakan pemerintah Swedia yang sempat menghebohkan, karena meyakinkan warganya tentang herd immunity alamiah, ketika vaksin sedang diteliti dan diuji-klinis di berbagai negara produsen, kami sama pandangan memusatkan perhatian pada basis perlawanan terhadap virus: menguatkan kesehatan lingkungan.

Epidemiolog Swedia wajar mempunyai keyakinan tentang herd immunity alamiah, karena budaya hidup sehat masyarakat Swedia termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Mulai dari kebiasaan makan yang sehat, antara lain asupan buah dan sayur yang tinggi dan rendahnya konsumsi lemak jenuh, garam dan gula.

Pemerintah Swedia memberi perhatian khas terkait dengan kebiasaan makan, mulai dari aspek budaya, aksesibilitas dan pasokan, serta harga dan pemasaran. Fokus perhatian ini mengemuka, karena asupan buah dan sayuran yang rendah termasuk dalam daftar faktor risiko beban penyakit WHO di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Badan Kesehatan Masyarakat Swedia memantau perkembangan dan pengetahuan tentang kebiasaan makan penduduk, termasuk berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya, dalam kerangka menciptakan kondisi kebiasaan makan yang sehat.

Ketika pandemi virus corona merebak, pemerintah menggiatkan kampanye untuk memakan buah dan sayuran, sampai lima kali dalam sehari, sesuai dengan perbedaan usia, jenis kelamin dan posisi sosial yang dapat berkontribusi terhadap ketimpangan kesehatan.

Tercatat, kaum perempuan lebih banyak memenuhi konsumsi buah dan sayur lima kali dalam sehari, dibandingkan laki-laki. Begitu juga dengan kalangan masyarakat berpendidikan tinggi mempunyai kebiasaan memakan sayur dan buah sesuai dengan standar kesehatan yang ditetapkan.

Apa yang berlaku Swedia dan negara-negara Skandinavia lainnya, melakukan perubahan besar dalam budaya hidup sehat mereka, merujuk pada peristiwa yang pernah terjadi tujuh abad lampau. Khasnya, kala terjadi epidemi black death (akibat pes dan pneumonia) yang sempat melantakkan sebagian Eropa dan Timur Tengah, dan dalam banyak hal mengubah budaya hidup masyarakat.

Pengalaman lain yang dipetik dari epidemi black death, sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran, adalah fakta bahwa virus yang menimbulkan komplikasi penyakit bermanifestasi dalam pandemi, siklus wabah berulang yang berlangsung selama beberapa ratus tahun. Termasuk dampak sosialnya berupa pola kerusakan jangka panjang dan dislokasi sosial yang memerlukan perhatian serius kita.

Halaalan Thayyiban

Black death juga memantik berbagai studi, termasuk studi yang dilakukan  Michael W. Dols, terkait dengan pendekatan demografi  dan kecerdasan lokal dari peradaban Timur, termasuk Asia,  dalam mengatasi wabah, baik epidemis maupun pandemis.  

Perkembangan kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, baik di Barat maupun di Timur, terguncang dan tertantang untuk menaklukkan pandemi nanomonster Covid-19. Namun, 'riuh beragam isu' tentang vaksin, segera mengingatkan kembali kita pada masa berabad lalu, tentang kegamangan yang mirip di wilayah Timur Tengah dan Mediterania, seperti yang tercatat dalam risalah wabah Ibn Hajar al-'Asqalani (1449), yang mengacu pada cara yang ditempuh Rasulullah Muhammad SAW dan Umar ibn Khattab dalam menghadapi wabah tha'un. Melalui cara stay at home yang diikuti dengan pertobatan kepada Allah, melalui i'tikaf.

Selain dengan cara memutus mata rantai tularnya virus, juga dengan herd immunity dengan kembali memberi perhatian pada kendali diri. Mulai dari pola dan gaya hidup sehat, pola konsumsi makan, dan mengenali virus dan penyakit melalui profilerasi (Ibnu Sina dan al-Khalil ibn Ahmad), yang terkorelasi dengan sejarah wabah tho'un yang melanda Kufah dalam catatan al-Balidhuri (892).

Kata kuncinya adalah pola dan gaya hidup islami berbasis aqidah, syariah, muamalah dan akhlaq. Kesemuanya dalam satu kesatuan cara: halaalan thayyibah. Termasuk dalam hal vaksin dan vaksinasi. Masih jauh jalan menuju kekebalan kawanan - herd immunity.|

Editor : eCatri | Sumber : foto berbagai sumber