Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek

| dilihat 199

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Manusia diciptakan dengan realitas perbedaan, termasuk perbedaan pandangan, sikap, dan tindakan sebagai bagian tak terpisahkan dari perbedaan nilai dan budaya yang dianut.

Tidak untuk hanyut dalam perbedaan itu, namun untuk saling membangun kesadaran melakukan musyawarah (urun rembug), mempertemukan persamaan-persamaan.

Juga melakukan muzakarah, berdiskusi memecahkan masalah dengan menghormati perbedaan-perbedaan. Muaranya adalah mendahulukan tercapainya persatuan. Baik dalam konteks komunal - komunitas, organisasi -- maupun sosial kemasyarakatan, kenegaraan, dan kebangsaan.

Prinsip dasarnya adalah menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, guna membangun dan mengikat komitmen saling memuliakan.

Dalam konteks demikian, kesadaran untuk mengendalikan dan menaklukan hasrat, kehendak, dan kepentingan yang menyebabkan terjadinya polarisasi ekstrem antar pribadi dan komunitas yang seringkali memacu dan memicu terjadinya daya leading sector. Baik dalam konteks fungsi maupun otoritas.

Kesemuanya mesti dimulai dari kesadaran yang didorong kuat oleh sikap entusias dalam membangun simpati, empati, apresiasi, dan respek, yang bermuara pada sikap welas asih (cinta kasih), sebagai pangkal dari prinsip dasar kemanusiaan dan keadilan.

Kegagapan

Belakangan hari, sensitifitas dan perbedaan persepsi yang bermula dari presumsi-presumsi, kecurigaan-kecurigaan, salah tampa, salah tafsir, dan perbedaan cara pandang (perspektif) tentang sesuatu masalah, juga norma, kaidah-kaidah, juga ideologi dalam kehidupan bersama, kian mengemuka.

Situasi demikian nyaris tak terkendali di tengah kegagapan dalam menyikapi percepatan teknologi informasi yang menghadapkan kita dengan sarana massa multi media, multi channel, dan multi platform.

Kegagapan tersebut diperkuat dengan ketidakmampuan menghadapi banjir atau tsunami informasi yang dibawa serta oleh perkembangan media sosial yang nyaris kehilangan arah.

Singularitas yang ditandai dengan ketergantungan yang tinggi terhadap sarana massa seperti gadget, yang seharusnya memberikan nilai tambah dalam proses interaksi dan komunikasi sosial, justru menjadi batu sandungan proses interaksi dan komunikasi sosial.

Masalah-masalah yang semula kecil dan dapat diselesaikan dengan mudah, justru berkembang menjadi ribet. Egosentrisma masing-masing individu manusia, menafikan keseimbangan nalar, naluri, rasa, dan dria -- sensitivitas batin --, kemudian menghela manusia ke dalam firqah-firqah - pengelompokan komunitas yang saling berhadapan satu dengan lainnya.

Di zaman yang tidak menentu - diayun ketidak-pastian, kegamangan, keribetan, dan kemenduaan sebagai salah satu ciri fase budaya post truth yang mengikis rasa saling percaya dan saling hormat satu dengan lainnya, friksi dan konflik sosial mudah meruyak ke mana-mana.

Mendahulukan Cara

Dalam situasi demikian, semestinya, kalangan intelektual (akademisi, seniman, wartawan -- yang merupakan budayawan -- dan ulama) memainkan peran penting melakukan moderasi sosial. Tentu, mesti dimulai dari diri sendiri.

Kita memang tak bisa lari dari realitas terjadinya ironi di mana-mana, kala peran-peran kaum intelektual tak sepenuhnya berfungsi. Kita juga tak bisa lari dari realitas terbentangnya jarak budaya antar manusia dan komunitas yang berpengaruh besar dalam ironi sosial. Khasnya, ketika di lingkungan sosial kita, mulai dari tingkat lingkungan permukiman, kampus, organisasi bisnis (perusahaan), organisasi profesi, organisasi sosial kemasyarakatan, terjadi friksi dan konflik yang terjebak dalam katastrop.

Namun demikian, kita mesti berfikir dan bersikap, tidak ada masalah tanpa solusi. Apalagi ketika kita menyadari, bahwa setiap kita adalah manusia yang mengemban amanah dan tanggung jawab sebagai penceari, penemu, dan pemberi solusi atas sesuatu masalah. Bukan bagian dari masalah itu sendiri.

Apa yang mesti kita lakukan? Langkah awal adalah menyadari, bahwa pemecahan masalah memerlukan cara (the way of trouble shooting) dan bukan alasan mempersoalkan masalah (the reason for trouble).

Dalam konteks ini manajemen diri dalam memelihara keseimbangan nalar, naluri, nurani, dan rasa menjadi penting. Terutama, kala kita mengacu pada norma dan sistem nilai yang berlaku dan telah disepakati bersama.

Modalnya adalah keseimbangan keterampilan (skill) dengan kearifan (wisdom), dengan menghidupkan kejernihan berfikir dan bersikap dalam mempertemukan perspektif. Tentu dengan kemauan dan kehendak menanggalkan presumsi-presumsi negatif yang menafikan simpati dan empati.

Apresiasi dan Respek

Pada banyak pengalaman yang saya alami selama ini, cara demikian -- meski berat dan tidak mudah --, bahkan kadang harus 'meledakkan' konflik, harus ditempuh. Setelah itu strategi ishlah -- yang bermakna memperbaiki, mendamaikan dan mengakhiri perselisihan -- dilakukan.

Kata kuncinya adalah komitmen kolektif untuk melakukan perbaikan -- atau menghindari kehancuran -- yang merupakan tugas atau kewajiban manusia atas sesamanya. Khasnya untuk mewujudkan pencapaian kualitas insaniah sebagai pemberi solusi.

 Dalam konteks organisasi, misalnya, strategi ishlah ditempuh untuk menghindari berkembangnya friksi dan konflik menjadi konfrontasi dengan jalan merujuk kembali pada persepsi yang sama tentang peraturan organisasi dan berbagai keputusan formal yang menyertainya. Antara lain dengan menelusuri ulang sumber maswalah dan sumber perbedaan pandangan dalam memahami peraturan organisasi.

Bila cara ini sudah ditempuh dan tidak berbuah kesepakatan atau komitmen yang kuat untuk berdamai atau mengakhiri konflik, baru dapat ditempuh cara lain, yakni melepaskan diri dari tanggung jawab fungsional dan menyelesaikannya dalam forum pengambilan keputusan tertinggi.

Pada kasus-kasus konflik dalam keluarga, islah dilakukan oleh hakam, pihak yang dituakan dan mumpuni dalam menjalankan mediasi para pihak, khasnya suami dan istri. Bila tak tercapai kesepahaman dan kesepakatan berdamai, ditempuh jalan cerai sebagai pintu pelepasan tanggung jawab.

Kendati demikian, jalan atau cara penyelesaian konflik semacam itu merupakan cara yang tidak dianjurkan, karena menimbulkan kehancuran sekaligus meruntuhkan integralitas. Karena itulah keseimbangan antara kecerdasan dan kearifan amat sangat diperlukan dalam mengatasi konflik.

Menghidupkan apresiasi dan respek sangat diperlukan, dengan memelihara kesadaran untuk memelihara kemauan dan kemampuan membuka diri. Termasuk memberi prioritas lebih tinggi dan utama pada keutuhan organisasi (sebagai keluarga). |

Editor : delanova
 
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 161
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 251
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 266
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya
Budaya
08 Des 22, 12:21 WIB | Dilihat : 61
Seni Budaya di Mana Kau?
07 Des 22, 22:10 WIB | Dilihat : 107
Bangsa Indonesia Perlu Belajar Berpikir
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 188
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 284
Merawat Negeri Terindah di Dunia
Selanjutnya