
JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | PARA desainer Indonesia boleh bersukacita. Penutupan perhelatan mode terbesar “Indonesia Fashion Week” (IFW) di Jakarta Convention Center (JCC) – Jakarta pada hari Minggu (1/3), disesaki pengunjung. Bahkan antrian panjang di loket tiket masuk dengan tarif Rp 25.000, sudah terlihat sejak beberapa jam sebelumnya, meskipun panitia menyediakan undangan khusus untuk masuk panggung utama pagelaran busana.
Para pengunjung tidak ingin ketinggalan barang-barang fashion yang unik dari 747 merek produk kreatif lokal dan 750 peserta pameran yang datang dari seluruh Indonesia dan luar negeri seperti Jepang dan Korea. Mereka adalah para desainer, pengusaha mode, pengrajin pakaian dan aksesoris.
IFW diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) berlangsung selama satu minggu (26 Februari-1 Maret 2015) mengusung tema “ Fashionable People Sustainable Planet”, dengan maksud pada keberlangsungan mode dan kelestarian budaya Indonesia.
Selama seminggu, terdapat 230 desainer yang memamerkan kehebatan design mereka dalam 2.522 karya dalam bentuk produk tekstil, pakaian perempuan, laki-laki, anak hingga pakaian muslim. Selain itu terdapat tas, sepatu, perhiasan, dan pernak-pernik aksesoris yang unik. Menurut Sofie sebagai kepala produksi IFW 2015.
Keseluruhan produk yang dipamerkan adalah hasil kurasi tim IFW yang dinilai dari foto yang dikirim, yang selanjutnya ditentukan layak atau tidak masuk IFW.
Menariknya, di Hall Cendrawasih terdapat 160 kios khusus busana muslim, sesuai dengan mayoritas Indonesia yang beragama muslim.
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia menjelaskan bila penempatan kios muslim ini dengan tujuan menarik kerja sama business to business dengan pasar luar negeri, khususnya ASEAN.
Ketika Akar Padi berkunjung, pakaian muslim yang dipamerkan terlihat lebih dinamis. Seperti salah satu stand yang mememarkan pakaian muslim dengan desain pop art. Alhasil, kios ini penuh dan banyak diminati anak-anak muda karena lebih terlihat trendi. Esensi hijab dan menutup aurat saat ini lebih bergeser pada konteks kekinian yang mengikuti life data-style.

Selain itu, ada pula stand yang memajang kerajinan sepatu dari sisik ikan dengan harga berkisar di atas Rp 500 ribu. Penjaga standnya dengan tegas mengatakan “Ini produk asli Indonesia yang kreatif, ngapain juga beli dari luar kalau banyak yang keren di sini” jelasnya.
Karya-karya dalam IFW memiliki kualitas internasional dengan cita rasa lokal. Salah satu pengunjung, Maria Bernadetta yang berkunjung beberapa kali di IFW mengatakan ketertarikannya untuk melihat produk fashion dari asal daerahnya.
“Saya ingin melihat pakaian atau pernak pernik dari Flores, selain itu sebagai penari tentu saja kita perlu melihat trend fashion yang berkembang saat ini yang mungkin bisa digunakan di atas panggung” jelas Bernadeta.
Sofie menuturkan bila, selanjutnya Indonesia Fashion Week diharapkan bisa menjadi kiblat mode di Asia dan sekaligus bisa menjadi wadah pembuka jalan desainer dan pengusaha mode untuk kian melebarkan sayap mereka.
Para desainer ternama seperti Agnes Budhisurya, Ivan Gunawan, Lenny Agustin, Peggy Hartanto, Anne Avantie, hingga desainer Jepang Steven Tach mempresentasikan koleksi terbaru mereka di catwalk.
IFW adalah ajang industri kreatif dalam fashion sukses menyedot perhatian khalayak ramai terutama di kota Jakarta, di mana fashion adalah bagian dari gaya hidup yang utama. | Ratu Selvi Agnesia