Hidup Berpangkal Keadilan dan Kemanusiaan

| dilihat 370

Bang Sêm

Tuhan menciptakan manusia tidak untuk sesuatu yang sia-sia. Karenanya diberikan kelebihan dan perangkat sebagai makhluk yang sempurna, nalar dan rasa yang memandu naluri dan dria.

Dengan perangkat asasi itu, Tuhan menempatkan manusia sebagai insan, makhluk terhormat yang memiliki daya kreatif (khuluqiyah) yang memungkinkannya menjadi inovator dan menghadirkan berbagai invensi. Termasuk temuan sains dan teknologi yang memungkinkan manusia menjalankan fungsi utama sebagai pemimpin yang layak dan patut mengemban amanah sebagai representatif (khalifah)-Nya.

Dalam kapasitasnya sebagai representatif Tuhan, itulah manusia sebagai insan diberikan tanggungjawab utama melaksanakan tugas pemeliharaan atas semesta, termasuk terhadap sesamanya (rububiyah), sebagai manifestasi dari kewajibannya untuk berdedikasi dan loyal kepada-Nya.

Karenanya, manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk plural, berbagai etnis, ras, suku, dan bangsa juga berkewajiban saling berhubungan satu dengan lainnya (ta'aruf) dalam konteks relasi - interaksi personal dan sosial (hablum minannaas) untuk memahami hakikat perbedaan, guna menciptakan nilai (creating value),  yang mampu menciptakan keseimbangan guna mewujudkan harmoni. Baik harmoni antar personal, harmoni sosial, harmoni kebangsaan, dan harmoni kemanusiaan (antara bangsa).

Harmoni kemanusiaan adalah sumber kebahagiaan dan kedamaian, tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat, yang membebaskannya dari petaka.

Harmoni kemanusiaan menjadi asa insani, sejak Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, akibat tulah iblis yang melakukan aksi pembangkangan kepada Tuhan.

Aksi pembangkangan iblis merupakan manifestasi dari sikap semena-mena menggunakan hak interpelatif dan hak inkar yang diberikan Tuhan kepadanya.

Iblis berhasil memainkan aksinya dengan menggoda Kabil dan Habil, sehingga berseteru dan bersengketa, serta saling berusaha merampas hak hidup (sebagai hak dasar manusia) masing-masing.

Dalam konteks mencapai harmoni, berbasis keseimbangan, itulah manusia memerlukan sistem nilai dan sistem aturan (order, regulasi) sebagai hukum yang harus ditegakkan (law enforcement).

Tanpa aturan dan hukum, manusia dengan modal kebebasan yang dimilikinya (freedom of expression, freedom of choice, freedom of will, dan lainnya) dengan kelemahannya, akan menjadi sasaran empuk bagi iblis untuk mempengaruhinya, sehingga timbul kekacauan. Tidak menjadi rahmat, tetapi menjadi laknat bagi semesta.

Dalam konteks menempa dan mengembangkan dirinya sebagai insan, dengan perangkat nalar, rasa, naluri, dan dria, manusia diberikan ruang pemahaman atas indikator hidup damai tenteram dan bahagia, yakni etika dan estetika, yang kemudian berkembang menjadi budaya.

Untuk mampu mewujudkan harmoni, manusia diberi daya rasa, dan dengan kecerdasan nalar mempunyai kesadaran menanam, menyemai, dan mengembangkan budayanya. Khasnya untuk menghidupkan simpati, empati, apresiasi, dan respek yang kelak berujung pada cinta.

Tetapi, penegakkan hukum saja tidak cukup, untuk itu manusia diberi ruang untuk mewujudkan keadilan yang berkaitan dengan sifat ilahiyah. Artistika dan estetika saja tidak cukup, karenanya disempurnakan dengan etika, sehingga budaya dan adab bersublimasi menjadi peradaban.

Cinta saja pun tak cukup, karena manusia mudah tergelincir oleh syahwat, nafs -- nafsu - yang mudah menjerat manusia dengan asmara. Karenanya manusia diberi daya kasih sayang - rahman dan rahim, yang lantas berkembang menjadi kemanusiaan.

Dalam konteks itulah Tuhan memilih sejumlah insan utama sebagai row model sekaligus pembawa risalah keilahian, yaitu Musa alaihissalam (as), Daud as, Isa as, dan Muhammad Salallahu alaihi wa salam. Utusan utama dengan prophetic mission, sehingga memungkinkan manusia hidup dan terjamin haknya dalam keadilan dan kesejahteraan, sebagai pilar utama peradaban berkemanusiaan.

Peradaban berbasis keadilan, berorientasi keselamatan (bahagia, sejahtera, damai, tenteram), dengan core kemanusiaan,  inilah yang dari masa ke masa menjadi parameter pencapaian kebudayaan.

Khasnya, kebudayaan sebagai suatu sistem kehidupan dengan idealistic frame pencapaian kualifikasi manusia sebagai insan utama (ahsanit taqwim). Kualifikasi representasi ilahiyah (kreativitas, inovasi, invensi untuk pemeliharaan semesta) yang berjarak dengan kekerasan. Inilah nilai inti , marka kebebasan akal budi yang memandu manusia untuk mengembangkan dan mengaktualisasi pemikiran dasar (ideologi inti) tentang hak dan kewajiban insani.

Nilai inti memandu manusia mengenali hak-hak dasar (asasi) kemanusiaannya dan membatasi kebebasan aksi ideologi hanya di dalam idealistic frame. Termasuk mengenali jarak antara ketegasan dengan kekerasan, persatuan dengan persekutuan, perhimpunan dan komunal, integrasi dengan polarisasi, dan berbagai hal lain, yang memungkinkan manusia mempertemukan persamaan dan menghormati perbedaan.

Peradaban hidup yang dikelola dengan kebudayaan, akan harus berpangkal keadilan dan kemanusiaan, dan pemenuhan hak asasi manusia dapat dipahami sebagai modal utama untuk melaksanakan kewajiban asasi manusia. Yakni sebagai rahmat atas semesta dengan fungsi sebagai pemelihara semesta (kehidupan).

Karenanya, kita menolak segala kekerasan dan segala laku yang dapat menimbulkan kehancuran peradaban, yang akan mengubah manusia hanya menjadi hewan yang berakal. |

 

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 401
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1287
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1496
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 354
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 199
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 192
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya