- Sekadar Renungan

BIBIR

| dilihat 2145

Bang Sem

SUDAH kenal bibir? 

Secara fisik, pasti kita kenal bibir. Bagian dari mulut yang multi makna. Sekali-sekala cobalah bercermin. Pandangi bibir kita masing-masing. Lakukanlah berbagai cara kita menggunakan bibir. Saat bicara serius, mencemooh orang, bersedih, tersenyum, dan saat menyanyikan sebuah lagu.

Terbayangkah, bagaimana bibir kita juga menyimpan keburukan dan kebajikan, menyimpan pahala dan dosa. Cobalah tersenyum, tengoklah dengan seksama, bibir memberikan aksentuasi yang luar biasa pada keelokan wajah. Seolah-olah di wajah kita keseluruhan memancar cahaya keindahan. Ketika senyum adalah ibadah, ketika itu juga bibir memproduksi dan menyimpan pahala.

Cobalah cembetut, bibir menjadi alat paling ekspresif untuk menampakkan kekumuhan hati, keburukan segera hinggap. Ketika bibir cembetut alias cemberut, seluruh raut wajah kontan tak nyaman dilihat. Cahaya kelam keburukan hati segera mengalir, keindahan terpadamkan.  Lantas, cobalah memerat-merotkan bibir untuk mengekspresikan kebencian, mencemooh dengan energi buruk yang meletup dari sisi gelap hati. Keburukan paling teruk, nampak di wajah.

Lantas, cobalah perhatikan bibir kita saat kita menangis kecewa, kesal, dan sedih. Perhatikan baik-baik, betapa bibir menyimpan kesedihan dan luka dalam segala pesona dan getarnya. Sebagaimana ketika bibir mengekspresikan kemarahan tak tertahankan.

Bagi perempuan, bibir tak hanya mengekspresikan suasana hati, kualitas emosi dan ekspresi perasaan belaka. Sensualitas perempuan juga diletakkan Tuhan pada bibir. Sex appeale tersimpan, dan menjadi bagian dari pesona yang tak bisa dideskripsikan dengan baik oleh siapapun.

Dari keseluruhan konteks tentang bibir, agaknya kita perlu sering bertanya dalam hati: Seberapa sering kita menggunakan bibir untuk berbagai kebaikan dan kebajikan berimbal pahala?  Seberapa sering juga kita menggunakan bibir untuk menimbun diri dengan dosa, lantaran menebar gosip dan fitnah, serta melampiaskan nafsu amarah dan syahwat di luar kepatutan dan kehalalan?

Bagaimana kita telah mensyukuri nikmat diberikan bibir yang sempurna oleh Allah, dan kemudian kita pergunakan untuk kemaslahatan multi dimensional? Jawaban atas pertanyaan ini, boleh jadi jauh lebih bermakna, dari hanya sekadar ketika sebagian kita (kaum perempuan, utamanya) memulas bibir dengan lipstick. Atau ketika bibir kita gerakkan hanya sekadar untuk lip service, menyembunyikan realitas dengan kepura-puraan.

Kemampuan kita mengelola bibir secara fungsional dan proporsional, boleh jadi akan memberi makna yang lebih hakiki atas seluruh perilaku kita. Dan ketika perilaku atau perangai elok yang selalu mengalir diri kita, akan menempatkan kita sebagai buah bibir yang baik. Katimbang perilaku atau perangai buruk yang hanya akan menyebabkan kita menjadi buah bibir yang buruk dan nista.

Bibir yang selalu basah oleh dzikir, selalu bergetar untuk menyampaikan kebenaran dan sukacita, selalu mengalirkan senyum keikhlasan, dan terjaga dari segala yang diharamkan tentu akan menciptakan suasana yang indah dalam kehidupan sehari-hari. 

Jangan risaukan bentuk bibir kita, biarkanlah dia menampakkan pesonanya sendiri. Oleh sebab itu, kita juga harus selalu berbagi, agar saudara-saudara kita yang bernasib kurang baik, mempunyai bibir yang tak sempurna dan menyulitkannya dalam berkomunikasi, bisa mengubah nasibnya: mempunyai bibir yang normal. Lantas bersama-sama, mengolah bibir dalam pesona keindahan: Senyum Indonesia. Senyum ramah sebagai ciri optimistis bangsa yang berbudaya, dan beradab. |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 159
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 248
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 261
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya