Memulihkan Ekonomi Malaysia dengan Berlari

| dilihat 140

Catatan Bang Sém

Ketika berbagai negara di Asia Tenggara masih sibuk membebani rakyat dengan pajak dan membenahi kembali strategi pemulihan ekonomi, Malaysia dan Vietnam  nampak sudah melangkah maju dengan berbagai policy design yang asasi.

Malaysia, bahkan nampak berlari jauh ke depan, di hamparan jalur konsep pemulihan dan kebangkitan bangsa Keluarga Malaysia, yang memberi isyarat tiga hal pokok. Yakni: stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan penguatan kesejahteraan rakyat.

Menteri Keuangan Malaysia Tengku Datuk Seri Zafrul Azis - mantan profesional perbankan, yang juga seorang pelari, memberi kesan, konsep Keluarga Malaysia memungkinkan pemulihan ekonomi Malaysia dilakukan dengan berlari.

Maknanya adalah percepatan pemulihan secara terukur, efektid, dan efisien dengan melakukan reposisi dan reorientasi dari program centric ke people centric.

Berbagai kebijakan pemulihan (cepat) ekonomi pemerintahan Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Ismail Sabri Yaakob terlihat pada kebijakan dan aksi Tengku Zafrul dalam merancang dan mengelola belanja negara.

Tengku Zafrul terkesan membangun keseimbangan kebijakan moneter dan fiskal dalam pemahaman kongkret dan mendalam tentang apa dan bagaimana kondisi obyektif rakyat, formasi dan ragam aspirasi rakjyat untuk pemulihan cepat, dengan prioritas yang bertumpu pada produktivitas, kreativitas, dan inovasi.

Strategi pergerakan paralel penanggulangan krisis kesehatan dan ekonomi, diimbangi dengan penanggulangan situasi politik aktual. Khasnya, ketika konsep Keluarga Malaysia menjadi strategi genius mengelola demokrasi sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan.

Karenanya, sangat wajar, bila dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss (22-26 Mei 2022), Tengku Zafrul dapat dengan lantang menyatakan optimisme: pemulihan ekonomi Malaysia sesuai jalur, sekaligus mempunyai ruang untuk menaikkan suku bunga.

Secara eksternal, Tengku Zafrul sebagaimana dilaporkan Bernama, sangat memanfaatkan WEF sebagai jalan bagi Malaysia untuk bekerja dengan komunitas global. Maknanya, Malaysia sangat jeli memanfaatkan forum ekonomi dunia, itu sebagai bagian dari pembentangan jaringan untuk menarik investasi.

Dalam sesi presentasi dan diskusi, Tengku Zafrul nampak ringan dan piawai menempatkan ajang WEF untuk menyampaikan suara kepemimpinan Malaysia (sekaligus kepemimpinannya di rantau Asia Tenggara) untuk mempromosikan penerapan sistem ekonomi terbuka dan berkelanjutan, bagi kebaikan semua.

Dalam sesi bilateral dan multilateral, Tengku Zahrul melakukan dialog dengan berbagai kepala negara dan pemerintahan, serta kalangan investor dan pengusaha. 

Pada sesi bertajuk 'A Digital ASEAN for All,' Tengku Zafrul memberikan informasi tentang kebijakan, inisiatif, dan arah digitalisasi negara untuk meningkatkan kepercayaan investor di Malaysia.

Akan halnya pada sesi 'Taking the Long View' ia menggambarkan capaian Malaysia dalam menyusun rencana jangka panjang negara tersebut, seperti Rancangan Malaysia (Malaysia Plan) ke-12, yang terbabit dengan strategi 'menaklukan' pandemi nanomonster Covid-19.

Pada sesi ‘Risiko Global di Era Turbulensi’ ia menggambarkan upaya Malaysia dalam menangani risiko global jangka panjang.

Satu tarikan nafas, pada lokakarya 'Membangun Ketahanan: Pembiayaan Ekonomi Lokal,' ia berbagi dan bertukar pandangan tentang kebijakan, inisiatif dan aksi bantuan pemerintah dalam ikhtiar membangun ketahanan ekonomi negara, terutama sektor usaha mikro, kecil dan menengah untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat global di Malaysia .

Tengku Zafrul merespon kuat tema besar WEF, “Working Together, Restoring Trust”, dan menjadi bagian dari pemimpin dalam arus pemikiran dan kebijakan ekonomi dengan berbagai isu strategis dan mencari solusi bersama terkait perencanaan kebijakan multi-stakeholder untuk mengatasi masalah ekonomi, lingkungan, politik dan sosial, terutama sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Menyimak berbagai gagasan dan inisiatif yang dikemukakan Tengku Zafrul di forum ekonomi dunia, tersebut saya memandang, watak seorang pelari yang percaya diri melekat pada diri pria, putera pasangan Tengku Abdul Azis Tengku Harris dan Raja Datuk Zaharaton Raja Zainal Abidin.

Pelari kelahiran Kuala Lumpur (25 Juni 1973) yang sebelumnya seorang bankir profesional ini, sejak mengemban amanah sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan Tan Sri Muhyiddin Yassin memang nampak mempunyai visi baru yang melampaui pemikiran politik ekonomi para pendahulunya, seperti Anwar Ibrahim dan Dato' Seri Muhammad Najib. Bahkan dalam banyak hal berbeda dengan orientasi kebijakan yang pernah ditempuh Tun dr. Mahathir Mohammad.

Tengku Zafrul terlihat melakukan paradigma pemikiran kebijakan dan aksi ekonomi dan keuangan yang bertumpu pada pencapaian modal dasar loyalitas rakyat, dengan mendahulukan total layanan keuangan (total financial services) bagi kenyamanan hidup rakyat.

Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Ismail Sabri Yaakob sangat tepat memilih dan melantiknya kembali sebagai Menteri Keuangan, karena Tengku Zafrul berkomitmen kuat pula dalam upaya 'mencapai hasil, menghargai proses' meningkatkan kemampuan rakyat mengelola uang (financial viability).

Sebagai Menteri Keuangan, Tengku Zafrul sangat paham dan berhitung matang, ketika membaca isyarat zaman dari masa ke masa tentang tiang dan pasak.

Ia mendahulukan tiang (pertumbuhan ekonomi dan investasi), tanpa harus terkecoh pada pasak (dinamika harga komoditas dan kebijakan moneter). Karena pasak selalu dapat ditegakkan untuk memperkokoh tiang.

Kepada Anisah Shukry dari Bloomberg, (25/5/22), Tenku Zafrul mengemukakan,  ekonomi Malaysia tumbuh kuat berkat kenaikan harga komoditas dan gubernur bank sentral "masih memiliki ruang" untuk memperketat kebijakan moneter guna mengatasi percepatan inflasi jika diperlukan.

Kebijakan Sultan dan PM Malaysia melakukan pembatasan penyebaran virus dan mempercepat pemulihan (dan peralihan) dari pandemi ke endemi, Tengku Zafrul melakukan aksi 'turun padang' selain menguatkan koordinasi dengan sejumlah menteri, mitranya.

Hasilnya? Ekonomi Malaysia memperoleh kecepatan pada kuartal pertama tahun ini. Dari sisi moneter, kondisi ini, memungkinkan ruang bank sentral untuk menaikkan biaya pinjaman bulan ini untuk melawan inflasi terlebih dahulu, meskipun harga konsumen naik pada tingkat paling lambat di Asia Tenggara.

Ini semua meyakinkan Tengku Zafrul untuk menyatakan, “Kami pikir kami berada di jalur yang benar,” kepada Haslinda Amin dari Bloomberg Television di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Menteri Keuangan yang hensem ini, lantas mengatakan,“Suku bunga kami naik 25 basis poin, terutama karena kekuatan ekonomi. Saya pikir kami dapat meningkatkannya tanpa memiliki banyak dampak buruk pada ekonomi karena di mana kami berada. Namun sekali lagi masih akomodatif karena berada pada 2 persen dibandingkan sebelumnya 3 persen, meski 2 persen adalah yang terendah dalam 10 tahun.”

Ketika kebanyakan politisi masih sibuk dengan intuitive reason untuk melihat realitas, Tengku Zafrul justru menunjukkan the way of solution.

Pandangan ini memberi pengaruh pada kebijakan pemerintah menghabiskan lebih banyak belanja untuk mensubsidi harga (dibandingkan tahun lalu) guna mendukung rakyat Malaysia yang paling rentan. Namun, dampak pada anggaran pemerintah telah disangga oleh lonjakan harga komoditas.

Tengku Zafrul berseru, "Kantong kami akan baik-baik saja." Ini adalah kata kunci yang sering diabaikan orang, bahwa kala krisis sedang berubah menjadi ribut (beliung), jangan simpan dana di kantong orang.

Tengku Zafrul mengikuti irama langkah PM Ismail Sabri Yakoob 'berlari' dengan mengatur nafas, speed, dan relaksasi yang terus menyegarkan stamina ekonomi Malaysia.

Soalan yang tertinggal adalah: sejauhmana politisi di parlemen memahami keadaan, sehingga mau dan mampu memberikan sokongan (support) supaya pemulihan sekaligus kebangkitan ekonomi bergerak lebih cepat, dalam irama lari sehat yang terukur.

Termasuk melakukan perubahan cepat terminologi usaha kecil menengah menjadi usaha kreatif mandiri, yang bertumpu pada penguatan ketahanan pangan, produktivitas komoditas usaha tani, industri pengolahan, pengendalian import komoditas, dan menghidupkan kembali ghirah sekaligus ghairah Keluarga Malaysia, "Malaysia Boleh !"

Bukankah Malaysia mempunyai pengalaman mengatasi krisis 1996 - 1998 dengan semangat, itu? Kata kuncinya adalah bertindak. "Siapa boleh memasak telur dadar, bila telur tak dipecahkan dahulu." |

 

Editor : delanova | Sumber : bloomberg, bernama, IG@tzafrul_aziz, berbagaisumber
 
Sporta
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 302
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 542
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya