Wayang

Widura, Penasehat Penuh Rasa Keadilan

| dilihat 8164

AKARPADINEWS.Com - Cerita wayang biasanya dihiasi dengan tokoh-tokoh baik yang gagah perkasa dan sempurna secara fisik. Namun, tidak sedikit tokoh-tokoh baik digambarkan memiliki cacat fisik atau rupa yang tak sempurna. Salah satunya ialah tokoh Yamawidura atau dikenal umum dengan nama Arya Widura. Tokoh tersebut berasal dari Epos Mahabharata.

Widura merupakan adik dari Drestarata dan Pandu Dewanata. Mereka bertiga merupakan saudara satu ayah, yakni Resi Abiyasa. Ibu dari Drestarata ialah Ambika, ibu dari Pandu ialah Ambalika dan ibu dari Widura ialah seorang emban bernama Datri. Meskipun berbeda ibu, ketiganya saling mengasihi satu dengan yang lain.

Widura memiliki cacat pada bagian kakinya dan ia tidak memiliki kesaktian seperti Drestarata maupun Pandu. Meskipun demikian, ia memiliki pengetahuan ketatanegaraan yang handal sehingga dirinya diangkat menjadi penasehat kerajaan Astinapura.

Selain menjadi penasehat kerajaan, Widura yang juga pakar hukum dan memiliki rasa keadilan yang tinggi juga diangkat menjadi jaksa tinggi kerajaan Astinapura. Rasa keadilan yang tinggi dikarenakan Widura merupakan titisan dari Dewa keadilan dalam dunia pewayangan, yakni Bathara Dharma.

Dalam epos Mahabharata, Widura memiliki beberapa peran penting. Di antaranya ialah menolong Pandawa dari siasat licik Kurawa yang ingin membakar hidup-hidup di sebuah gubuk. Widura menyelamatkan Pandawa dengan cara mengirim utusannya untuk menggali lubang dari bawah gubuk tersebut menuju ke tempat yang aman.

Selain itu, Widura juga menjadi penyelamat Drupadi yang menjadi barang taruhan oleh Pandawa dalam lakon pandawa dadu. Di dalam lakon tersebut, Widura mencoba menegosiasi Duryudana untuk melepas Drupadi dan tidak memasukkannya ke dalam harta yang dimenangkan dalam permainan dadu tersebut. Atas desakan Widura, Duryudana melepaskan Drupadi sehingga Drupadi pun dapat mengikuti pengasingan bersama dengan para Pandawa.

Selama perang Bharatayudha, Widura memerintahkan putranya, Sanjaya, untuk menjadi mata bagi Drestarata yang buta. Sanjaya bertugas untuk melaporkan keberlangsungan perang bharatayuda. Siapa saja yang memenangkan perang dan siapa saja yang gugur di medan laga wajib diceritakan Sanjaya kepada Drestarata.

Setelah memberikan tugas itu pada Sanjaya, Widura meninggalkan Astinapura dan memilih untuk bertapa di hutan. Setelah perang selesai, Pandawa menemukan Widura sudah meninggal dalam keadaan bertapa di hutan.

Tokoh Widura merupakan tokoh yang dikenal akan watak keadilan, kejujuran dan selalu tenang dalam menghadapi segala masalah. Meskipun dirinya memiliki cacat fisik dan tidak memiliki kesaktian yang tinggi, Widura menunjukkan dirinya dapat berguna bagi kerajaan Astinapura melalui pengetahuan dan sikap keadilan yang dimilikinya.

Widura menunjukkan, kekurangan yang dimilikinya bukanlah sebuah hambatan untuknya berbakti pada negeri. Muhammad Khairil.

Editor : Nur Baety Rofiq
 
Lingkungan
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 798
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1475
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
16 Jun 25, 13:19 WIB | Dilihat : 1695
JFF 2025 Menyegarkan Imagineering Jakarta
Selanjutnya
Humaniora
25 Apr 26, 18:31 WIB | Dilihat : 146
Dahilang
20 Apr 26, 13:48 WIB | Dilihat : 440
Perihal Wartawan Senior Indonesia 60 Plus
17 Apr 26, 08:10 WIB | Dilihat : 311
Menguatkan Fungsi BAZNAS Melayani Umat
15 Apr 26, 02:13 WIB | Dilihat : 431
Pola Pembinaan a la Haji Agus Salim
Selanjutnya