Tengah Hari di Kedai Kopi Bang Ancah

| dilihat 501

Bang Sém Haésy

Kedai kopi itu tak besar. Tapi nyaman dan unik. Terletak di ujung Bendungan Hilir Gang II yang  bertemu dengan jalan Bendungan Hilir 6 - tak jauh dari bulevar Sudirman, Jakarta Pusat.

Kopi Bang Ancah, nama kedai kopi itu. Pemiliknya Nurmansjah Lubis, politisi yang sempat menjadi Ketua Fraksi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) DPRD DKI Jakarta, namun kalah suara saat berkompetisi dengan A Riza Patria (Gerindra) untuk menggantikan posisi Sandiaga Uno, mendampingi Anies Rasjid Baswedan, sebagai Wakil Gubernur (6.4.20).

Meski kecil dan terletak di ujung gang dan mengambil setelempap ruang rumahnya, kedai kopi ini terkesan dikelola dengan serius.

Hamzah, puteranya, menempa diri sebagai pengolah kopi (sekaligus menyiapkan dan menyajikan) yang populer disebut barista. Di ruang kedai berbentuk trapesium, itu juga terdapat mesin untuk mematangkan bijih kopi ukuran besar, produk Uncle John.

Sejumlah kalangan pernah berkunjung ke kedai kopi milik akuntan lulusan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) ini, antara lain Sudirman Said, Ketua Alumni STAN yang sempat menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam kabinet Jokowi.

Saya singgah di kedai kopi ini, Selasa (8.03.22) jelang tengah hari, sebelum berangkat menengok guru dan ibu pengasuh saya yang sedang sakit.

Tak sengaja. Mulanya hanya ingin menjumpai teman masa belia, Toton, salah seorang aktivis Betawi.

Begitu masuk kedai ini, aroma kopi sudah menyergap. Di dinding terlihat beragam jenis kopi, khas Indonesia. Mulai dari Kopi Gayo dan beragam kopi lain dari Sumatera, Jawa, Sulawesi dan lainnya.

Dua pangkal jenis kopi utama (Robusta dan Arabika) tertulis vertikal. Di sudut lain ruangan, juga terlihat 'tungku pizza' yang bisa juga menjadi tungku roti gandum khas India dan Persia, dan nampak belum sempat dipergunakan.

Bang Ancah duduk dekat tungku dan mesin sangrai (pematang) bijih kopi. Kami ngobrol rileks, sambil mengenang masa belia, karena saya sering main ke daerah itu.

Kedai kopi ini memang terbilang kecil. Tapi, mendengar berbagai hal dalam obrolan kami tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan, sempat juga melintas beragam hal terkait dengan kedai kopi. Termasuk minuman yang dulu sering seliweran di daerah itu. Mulai dari sekoteng, bajigur, dan teh pait yang dijaja pedagang minuman kandar (yang dipikul oleh penjajanya).

Sempat terbayang, bila agak luas sedikit dan kerap dikunjungi kalangan bernama dalam dunia sosio politik, ekonomi, dan budaya, boleh jadi di kedai itu akan mengalir cerita a la Kafé Karnak di salah satu sudut kota Kairo. Nama kafe ini menjadi judul novel tipis yang mengantarkan penulisnya, Naguib, menerima Nobel Sastra.

Saya juga membayangkan sekilas, kedai kopi pedestrian di kawasan Masjid India, Kuala Lumpur, yang sebelum dikepung pandemi nanomonster Covid-19, menjadi tempat kongkow wartawan veteran dan sastrawan. Termasuk Wartawan Negara Malaysia -- yang sempat mengemban amanah sebagai Chairman Media Prima -- Tan Sri Johan Jaaffar yang amat produktif, itu.

Saya lupakan itu. Dengan perspektif lain, saya melihat fenomena berkembangnya kedai kopi di Jakarta dan berbagai kota lain di negeri ini, juga mancanegara selama masa pandemi. Termasuk dinamika popularitas ragam jenis kopi dengan aneka jenama dan story telling yang menyertainya.

Saya peminum kopi tradisional. Sejak kanak-kanak, ibu sudah terbiasa meminumkan kami, anak-anaknya, kopi. Ibu juga menganjurkan kami, meminumkan kopi dalam ukuran normal, satu sendok teh setiap hari kepada para cucunya. Terutama di masa pertumbuhan awal, masa rawan anak mengalami demam tinggi dan stép.

Ibu selalu menyimpan stok kopi Arabika dan Robusta, yang biasa dibelinya di Tanah Abang, sebelah masjid Al Makmur. Ibu memilih sendiri bijih kopi, memperhatikannya, menciumnya, lalu memilihnya untuk digiling menjadi bubuk kopi. Lantas dimasukkan ke dalam kantung kerta warna khaki.

Tangan ibu sendiri yang meracik, mengolah dan menyajikan kopi Robusta di pagi hari, dan kopi Arabika pada petang atau sore hari. Ibu menyebut kopi Robusta sebagai pemacu energi yang diminum selepas sarapan, dan kopi Arabika sebagai pengendali energi secara proporsional.

Biji kopi Arabika dan Robusta merupakan bagian terbesar dari produksi dan konsumsi kopi secara internasional. Menurut John Moretti (BaristaJoy, 2021), kedua jenis kopi ini terkenal dengan keunikannya. Moretti, pecinta dan pemilik kedai kopi, blogger belakang situs BaristaJoy.

Arabika lebih manis dengan nada buah. Robusta lebih pekat, lebih intens, dan lebih pahit. Arabika lebih mahal tetapi umumnya berkualitas lebih tinggi dan lebih fleksibel. Robusta digunakan sebagai pengisi dalam campuran kopi. Robusta kelas atas diinginkan untuk espresso dan memiliki kandungan kafein yang jauh lebih tinggi.

Kopi Robusta disebut sebagai energizer oleh ibu, karena kandungan gula dan minyak lebih rendah, kurang asam, bernada rasa pahit, bersahaja, mengandung 2,7 persen konsentrasi kafein, kurang serbaguna, kualitasnya sedikit lebih rendah dengan kuat rasa kayu, rasa kopinya lebih kuat, dan sering digunakan dalam campuran aneka racikan kopi, lebih antioksidan saat dipanggang ringan. Beberapa varietas kopi Robusta diketahui memiliki after taste bijih.

Kopi Robusta dihasilkan oleh pokok yang mudah tumbuh di Indonesia dan Afrika, tidak rentan hama, tumbuh di dataran rendah, bijihnya per pokok lebih banyak, lebih mudah dibudi-dayakan, menyumbang 25 persen pasokan konsumsi kopi. Mungkin karena semua itu, harganya harganya lebih murah.

Akan halnya Arabika,  kandungan gula dan minyaknya lebih tinggi, terasa lebih asam bersemu manis, dengan nada rasa lebih lembut, mengandung 1,5 persen konsentrasi kafein, menyumbang 70 persen pasokan konsumsi kopi, berkualitas lebih tinggi, digunakan sebagai kopi asal tunggal, karena aroma kopinya lebih rendah dibandingkan dengan Robusta. Lebih tinggi antioksidan kala dipanggang sedang atau pekat. Lebih serbaguna dan lebih ringan, zesty.

Arabika lebih mahal harganya, karena proses penanamannya memerlukan perawatan lebih intens. Terutama karena lebih sulit untuk tumbuh, rentan terhadap hama, tumbuh ideal di dataran tinggi, hasil bijihnya lebih rendah, per pokok. Sebagian besar pokok kopi Arabika tumbuh di Amerika Latin, meski beberapa varietas lainnya di tanam di  Afrika, Kolombia, Papua Nugini, dan India.

Kualitas kopi, menurut Moretti, jauh lebih berkaitan dengan bagaimana kopi itu ditanam, bagaimana kopi itu dipanggang dan diproses. Juga, bagaimana kopi itu diolah menjadi secangkir kopi siap minum.

Saya pesan kopi Robusta untuk diracik Hamzah, sambil saya dan Bang Ancah ngobrol tentang aktivitas seni dan peran Taman Ismail Marzuki (TIM) ke depan, yang sedang penyelesaian akhir renovasi. Dalam pengelolaannya, tanpa melibatkan seniman dan budayawan yang sejak masa Ali Sadikin sudah menjadi ekosistem tersendiri, dan hanya menggunakan pendekatan income generator sebagaimana lazimnya orientasi korporat, akan meletup banyak masalah di pusat kesenian Jakarta yang adalah sentra budaya Indonesia, itu.

Percakapan ringan kami juga menyentuh soal bagaimana kelak, pengelola TIM sebagai pusat kesenian Jakarta, sadar budaya. Mesti ada orientasi baru terkait dengan ekonomi budaya, tanpa mengurangi dimensi marwah TIM dalam konteks seni, sains, teknologi, kosmologi, dan kawasan pendidikan publik yang menegaskan Jakarta akan sungguh menjadi kota berbudaya. |

Editor : delanova
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Polhukam