Ritual Haji Virtual Memantik Perdebatan Baru Dunia Islam

| dilihat 344

Kecerdasan buatan (artificial intelligent) sebagai bagian dari evolusi perubahan teknologi, tak lagi hanya menghadirkan dunia khayali menjadi realitas pertama, melalui inovasi metaverse, yang dibangun berdasarkan konsepsi fiksi ilmiah.

Teknologi ini mempertemukan realitas khayali dengan realitas nyata melalui pengembangan intuitive reason, mendongkrak internet digital yang menjadi manifestasi realitas pertama (kehidupan nyata) berbasis dunia virtual.

Singularitas atau tingkat kebergantungan manusia yang tinggi dan kuat terhadap kecerdasan buatan, akibat keyakinan, bahwa internet sebagai lebuh (jalan) raya informasi bebas hambatan digital literal bit.

Matthew Ball, seorang penulis yang secara khas mengkaji dan mendalami ihwal metaverse, mengungkapkan, tak sesiapapun saat ini yang bisa mengurai pemahaman metaverse secara final.

"Sama seperti pada tahun 1982, kita sulit membayangkan seperti apa Internet tahun 2020 - dan lebih sulit lagi mengomunikasikannya kepada mereka yang bahkan belum pernah “masuk” ke dalamnya pada waktu itu. Kita tidak benar-benar tahu bagaimana menggambarkan Metaverse. Namun, kita dapat mengidentifikasi atribut inti," tulisnya (13/1/2020).

Ball mengemukakan, metaverse akan menjadi pengalaman hidup yang ada secara konsisten untuk semua orang dan secara real-time. Tidak ada batasan untuk pengguna inovasi teknologi yang populer disebut metaverse dan sedang hendak dikuasai pemain raksasa berbagai platform dunia maya yang menjadi manifestasi realitas pertama, seperti Facebook, Netflix, Fortnite, YouTube, dan lain-lain yang berkolaborasi dengan Google, Microsoft, Apple, dengan beragam formula yang selama ini mengembangkan iOS/iPhone dan Android.

Yang jelas adalah, metaverse memberikan tawaran apa yang disebut sebagai VR (virtual reality) sebagai cara untuk mengalami dunia atau ruang virtual. Metaverse tidak membuat rasa kehadiran di dunia digital, melainkan merasakan realitas di dalam dunia digital. Khasnya, karena berbagai norma dan kaidah yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia imajinasi juga dipenuhi.

Dari sisi ini, lantas, berkembang upaya untuk menggunakan teknologi metaverse dengan beragam alat bantunya, masuk ke dalam ritual keagamaan. Salah satunya adalah ritual ibadah haji.

Bila mulanya metaverse yang dikreasikan lebih hanya sebagai upaya 'merasakan' seluruh proses ibadah haji secara virtual yang lebih cenderung sebagai panduan melaksanakan rukun ibadah (manasik) haji. Kini tak lagi begitu.

Senin (13/12/20) Saudi Arabia meluncurkan virtual black stone inisiative alias inisiatif virtual Hajar al Aswad, yang menjadi bagian dari ritual ibadah haji dan umrah.

Pemerintah Saudi Arabia melihat realitas, bahwa menyentuh dan mencium Hajar al Aswad dalam ritual ibadah haji dan umrah, adalah mimpi dan harapan besar jamaah haji dan umrah, yang kian sulit dialami. Apalagi sejak dua tahun terakhir, pandemi Covid 19 mengharuskan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia 'menghilangkan' ritual tersebut.

Sebagai khadimul haramain -- penjaga tanah haram -- yang mengelola Masjid al Haram (di Makkah) dan Masjid an Nabawi (di Madinah), pemerintah Kerajaan Saudi Arabia mengembangkan inisiatif penggunaan VR (virtual reality), untuk mengatasi hasrat jama'ah haji menyentuh dan mencium hajar al aswad.

Melalui inisiatif virtual hajar al aswad yang telah diluncurkan dan diumumkan kepada khalayak dunia, itu kepala otoritas haramain pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sheikh Abdul Rahman Al Sudais -- yang juga imam Masjid al Haram -- penggunaan VR akan memberikan pengalaman digital yang mensimulasikan realitas nyata.”

Sudais menekankan pentingnya 'menciptakan lingkungan simulasi virtual,' untuk mensimulasikan, tidak hanya penglihatan dan pendengaran, tetapi juga indera peraba, dan bahkan penciuman, dengan memberikan pengalaman penuh yang terbaik.

Sudais juga mengemukakan, “Kami memiliki situs keagamaan dan sejarah yang hebat, yang harus kami digitalkan dan komunikasikan kepada semua orang melalui sarana teknologi terbaru.”

"Bagi mereka yang mendambakan sentuhan, bagi mereka yang ingin melihat lebih dekat hajar al aswad, mimpi yang tampaknya dibuat-buat ini tidak lagi dibuat-buat.. berkat teknologi Realitas Virtual!," ujar Sudais dengan sukacita.

Ucapan dan aksi Sudais, segera menggemparkan dan memantik perdebatan baru dunia Islam. Peluncuran inisiatif virtual menyentuh dan mencium hajar al aswad, dapat diprediksi, akan menjadi awal dari virtualisasi proses ritual ibadah umrah dan haji.

Tak sedikit yang mengkhawatirkan, kelak, pengalaman spiritual ibadah akan mengalami virtualisasi, dan dimensi imajinatif peribadatan akan menghilangkan jarak realitas dan maya. Dalam banyak hal akan mempengaruhi prinsip-prinsip dasar akidah dan syari'ah. Perkembangan zaman yang akan menantang praktik ritual ibadah.

Turki adalah negara pertama yang merespon inisitif ini. Direktorat Urusan Agama Turkiye mengatakan, bahwa meskipun kunjungan metaverse Ka'bah dapat dilakukan, hal tersebut "tidak akan pernah dianggap sebagai ibadah yang nyata."

Pimpinan Urusan Agama Turki (Diyanet) telah menyatakan, bahwa mengunjungi Ka'bah di metaverse tidak akan dianggap sebagai "haji yang sebenarnya."

Pernyataan itu dikemukakan Diyanet, setelkah diskusi selama sebulan. “[Haji di metaverse] ini tidak dapat terjadi,” ujar Remzi Bircan, direktur Departemen Layanan Haji dan Umrah Diyanet, pada 1 Februari, seperti diberitakan Hurriyet Daily News.

“Orang-orang beriman dapat mengunjungi Ka'bah di metaverse, tetapi hal tersebut tidak akan pernah dianggap sebagai ibadah yang nyata,” katanya sambil menambahkan bahwa, “kaki orang harus menyentuh tanah.”

Menurut Bircan, haji harus dan dilakukan dengan pergi ke kota suci dalam kehidupan nyata. Tak ada opsi lain.

Ibadah haji dan umrah, menurut Dinayet,  kata Bircan, tidak sama dengan kunjungan wisata ke Turki, dimana wisatawan dalam menggunakan tampilan virtual reality (VR) dari Museum Arkeologi di Istanbul.

“Seperti berkeliling museum dengan kacamata VR, orang Saudi memulai program perjalanan virtual ini untuk mempromosikan Ka’bah,” kata Birdan.

Proyek metaverse hajar al aswad maya, dibangun oleh Badan Urusan Pameran dan Museum Arab Saudi, bekerja sama dengan Universitas Umm al Qura, atas permintaan lembaga yang dipimpin oleh Sudais.

Di Jakarta, sebagaimana diberitakan media, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpandangan sama dengan kalangan ulama Turki.

Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam pun menjelaskan, kunjungan Kabah lewat metaverse tidak bisa dipraktikan dalam ibadah haji. Pasalnya, ibadah haji memerlukan beberapa ritual yang membutuhkan kehadiran fisik.

Tidak cukup dan tidak memenuhi syarat melaksanakan ibadah haji, kecuali dengan mengunjungi Ka'bah secara langsung dan nyata. Tata cara pelaksanaan ibadah haji sudah ditentukan, ada beberapa ritual yang harus dilakukan secara fisik, tanpa kecuali.

Antara lain, thawaf mengelilingi Ka'bah selama tujuh kali putaran. Karenanya, tak boleh dilakukan secara virtual. Apalagi dengan hanya mengelilingi Ka'bah digital secara virtual yang khayali.

Ka'bah dan seluruh situs-situs ritual haji dapat dilihat melalui metaverse sebagai manasik atau persiapan melaksanakan ibadah Haji dan Umrah.

Namun demikian, pejabat Kerajaan Saudi menyatakan, bahwa inisiatif 'haji virtual' dengan menyentuh atau mencium hajar al aswad virtual, memuungkinkan pengalaman sebelum pergi ke Mekkah.| delanova

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya