Pesan Idul Fitri 1433 H dari JIS

Mensyukuri Perbedaan Mengikhtiarkan Persatuan

| dilihat 317

Catatan Bang Sém

Allah tak pernah henti memberikan ruang luang bagi manusia memberi nilai atas peluang mencapai kehidupan yang damai sejahtera akhirat, seraya terbebas dari petaka di dunia dan akhirat.

Seruan untuk melakukan creating value (menciptakan nilai) atas peluang yang disediakan Allah, itu mengemuka dalam peistiwa Idul Fitri 1 Syawal 1443 Hijriah, setelah dua tahun masa pandemi, mengalami hambatan alamiah.

Dalam salat Ied di Jakarta International Stadium (JIS) - Jakarta Utara, Gubernur DKI Jakarta menyerukan pesan yang senantiasa disampaikan olehnya di berbagai kesempatan.

Kali ini lebih eksplisit. "Mensyukuri perbedaan, mengikhtiarkan persatuan," sebagai cara paling aksentuatif dalam memahami realitas kehidupan saat ini dan ke depan.

Anies memberikan tawaran edukasi yang amat bermakna dalam memahami hakikat perjuangan selama dua tahun terakhir dengan segala dinamika kehidupan yang menyertai.

Tentu bukan karena Idul Fitri kali ini jatuh pada Hari Pendidikan.

Di hadapan tak kurang dari puluhan ribu jama'ah yang memenuhi areal salat JIS yang meluber ke lapangan parkir, Anies mengemukakan, seluruh jama'ah yang menunaikan salat ied di stadion, itu merupakan pribadi-pribadi pertama yang menggunakan momentum, waktu, dan lokasi untuk bersujud di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala di monumen pencapaian kreatif dan inovatif anak bangsa, itu.

Anies menyatakan, banyak hal yang harus disyukuri bersamaan dengan Idul Fitri 1443 Hujriah ini. Mulai dari kesehatan, kesempatan, atas perlindungan yang dikaruniakan-Nya, atas kemenangan di hari yang diberikan-Nya.

Anies juga mengingatkan, dua tahun kita melalui Idul Fitri tanpa kebersamaan, tanpa perayaan besar. Kali ini, Idul Fitri merupakan momen besar dalam perjuangan mengendalikan pandemi.

Anies juga menyebut JIS merupakan mahakarya, penanda kemenangan bagi warga Jakarta setelah 13 tahun menanti memiliki stadionnya sendiri. Stadion ini menjadi mahakarya bukan karena bentuknya, melainkan karena kerja keras, atas kerja luar biasa anak-anak negeri mewujudkan visi dan cita-citanya.

"Semoga stadion ini menjadi ladang pahala, ladang keberkahan bagi semua yang memanfaatkannya," tegas Anies.

Anies juga menyinggung ihwal hidangan lebaran, yang merupakan hasil persenyawaan aneka bumbu.

"Semua yang berbeda diramu menjadi kelezatan yang dinikmati. Demikian juga Jakarta kita, Indonesia kita, terdiri dari beragam unsur yang bersenyawa yang harus kita syukuri dengan mengikhtiarkan persatuan," tegasnya.

Anies mengemukakan, persatuan tidak datang dengan sendirinya, persatuan harus terus menerus kita usahakan. Selanjutnya, Anies berharap, semangat kita terus terjaga untuk meningkatkan iman dan taqwa. Mensyukuri perbedaan, mengikhtiarkan persatuan.

Pidato singkat Anies menghantar salat Idul Fitri di JIS, sarat dengan pesan kebangsaan yang dikemas dengan mengemukakan metafor yang mudah dikenali dan dirasakan khalayak. Pesan seorang pemimpin yang senantiasa jernih melihat realitas dan bersungguh-sungguh memimpin ikhtiar untuk kembali ke garis azimuth kebangsaan. Yakni, tanpa henti mengikhtiarkan persatuan sebagai cara membangun bangsa ini.

Bagi saya, pesan yang dikemukakan Anies mengandung makna sangat dalam, mengingat selama ini, karena tersalah jalan memilih reformasi sebagai cara perubahan yang melelahkan dan kelak bermuara pada deformasi.

Di balik narasi dan diksi yang dipilihnya, Anies sesungguhnya sedang mengingatkan kita untuk selalu mengedukasi diri, sehingga mencapai iman dan taqwa sebagai puncak kecerdasan spiritual sebagaimana tersirat dan tersurat dalam sesanti Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

Juga mengedukasi diri kita untuk dengan kecerdasan intelektual dan emosional, mewujudkan cita-cita para pejuang, pendiri bangsa, dan perintis kemerdekaan, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang dengan segala kekayaannya tidak terjebak dalam jebakan fantasi. Lantas terperosok lebih dalam ke berbagai masalah.

Anies secara tersirat menggugah kesadaran individual dan kolektif kita untuk membawa kembali bangsa ini ke garis lurus menuju tujuan yang sesungguhnya. Yakni, bangsa terbaik dan senantiasa berada dalam ampunan - lindungan Allah. Bangsa yang pandai menempatkan demokrasi sebagai cara mencapai keseimbangan dan harmoni kebangsaan, keberagaman, keberagamaan, keilmuan, dan keruhaniahan, yang membentuk ke-Indonesia-an sejati.

Isyarat kemenangan hakiki dalam makna yang luas, sebagaimana dikemukakan Anies, kian terasa dalam dan asasi, kala qari yang juga tahfidz Herry Kuswanto - sebagai imam, memilih Surah Al Fath 1 sampai 5.

Ayat-ayat yang dibacakan imam, mengingatkan kita pada inspirasi lima sampai enam abad silam, ketika Falatehan menghadang dan menaklukan pasukan penjajah Portugis di Kalapa, sehingga kota ini kemudian diberi nama Jayakarta.

Ayah-ayat yang dibaca imam, menggetarkan batin kita untuk memahami hakikat, bahwa Allah memberikan kemenangan yang nyata, agar Ia memberi ampunan kepada kita, terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang, seraya menyempurnakan nikmat-Nya atas kita, dan memimpin kita kepada jalan yang lurus (azimuth kehidupan). Agar Allah menolong kita (sebagai insan) dengan pertolongan yang kuat dan beragam.

Dengan pilihan salah satu langgam dari qira'ah as sab'ah yang merasuk ke dalam batin, ustadz Herry Kuswanto, menggetarkan kesadaran kita untuk memahami hakikat asasi: Hanya Allah yang telah menurunkan ketenangan, ke dalam hati orang-orang mukmin, supaya bertambah keimanannya.

Sekaligus menyadarkan kita untuk tahu diri, bahwa Allah sajalah yang mempunyai otoritas dan mempunyai 'pasukan langit dan bumi,' dan Allah jua yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Jiwa spiritualitas kita tergetar, ketika imam sampai pada ayat terakhir, sebelum rukuk, yang mengingatkan, kemenangan yang (telah dan akan) diberikan Allah, adalah supaya Ia memasukkan mukminin dan mukminat ke dalam jannatuun na'im, kekal abadi.

Surga idaman, keberuntungan besar di sisi Allah.

Ayat tersebut relevan dengan pesan dalam khutbah yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia, Cholil Nafis, tentang tugas mulia manusia, untuk selalu memproduksi kebaikan dan kebajikan, sehingga mempunyai kemanfaatan yang luas bagi sesama insan dan semesta. |

 

Editor : delanova | Sumber : foto berbagai sumber
 
Humaniora
10 Sep 22, 12:45 WIB | Dilihat : 160
WSI Bergerak Tanpa Lelah Menjawab Tantangan Zaman
09 Sep 22, 08:23 WIB | Dilihat : 77
Pemimpin versus Penguasa
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 257
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
14 Jun 22, 09:17 WIB | Dilihat : 300
Rachmat Gobel Kritisi Lagi Soal Impor Baju Bekas
10 Jun 22, 20:45 WIB | Dilihat : 236
Memulihkan Ekonomi Malaysia dengan Berlari
09 Apr 22, 19:08 WIB | Dilihat : 347
Menghidupkan Demokrasi Ekonomi Kita
Selanjutnya