Menggumam Cindai

| dilihat 1679

Sem Haesy

SELAIN usia dan uban, menyaksikan realitas kehidupan sosial bangsa ini, yang juga bertambah pada diri saya adalah kepandiran. Optimisme dan pesimisme hanya dipisahkan oleh sehelasi cindai transparan.

Kita menuntut reformasi untuk menata ulang bangsa ini, tapi yang kita lakukan adalah aksi deformasi. Kita menuntut transformasi untuk mengelola dan menggerakkan bangsa ini lebih baik, tapi siapa saja yang melakukannya, tak pernah berhenti kita rongrong.

Beragam cara sistemik dilakukan untuk merongrong pemimpin yang, bahkan, dipilih secara demokratis. Dan kita, tak pernah berhenti membunuh rasa simpati dan empati.

Meski tak mengidap amnesia sejarah, terkesan, bangsa ini sedang terbawa arus ke simpang peradaban ironik. Senang bergelap-gelap setiap memerlukan suluh.

Mungkin, karena dulu dididik penjajah: selalu menyalakan lilin dan meniupnya kembali, setiap merayakan ulang tahun.

Bangsa ini, disadari atau tidak, tiba-tiba menjadi bangsa yang ambivalen. Merindukan otokrasi, saat menuntut demokrasi. Mengumbar benci, ketika mengharap rindu.

Menebar luka saat menyatakan cinta. Memelihara dendam saat memberi maaf. Tak hendak meninggalkan masa lampau, saat menggebu-gebu merumuskan masa depan.

Kita menuntut pemerintah dan siapa saja yang berkuasa tidak semena-mena, saat kita bertindak lebih semena-mena. Padahal kita paham: yang kurik kundi, yang merah saga.

Kita mengaku ber-Ketuhanan Yang Mahaesa sambil mereduksi nilai luhuragama. Kita meyakini nilai hidup: Kemanusiaan yang adil dan beradab, sambil melakukan dehumanisasi dan mendegradasi keadaban, akhlak. Kita meneriakan Persatuan Indonesia saat memelihara pertikaian. Kita berkomitmen pada kerakyatan berasas ‘hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan,’ dengan mengusung demokrasi liberal. Kita bercita-cita menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, sambil bersuka-cita di tengah ketidak-adilan dan kesenjangan sosial.

Dalam kepandiran saya yang terus bertambah -- bersama uban dan usia --, saya masih percaya dengan nasihat: asa mesti terus ditumbuhkan. Walaupun setiap kali gundah, saya selalu menggumam tembang Cindai: Bagailah mana hendak berhias, cerminku retak seribu.... Tilamku emas cadarnya intan, berbantal lengan tidurku... Puasku jaga si bunga impian, gugurnya sebelum berkembang... Bidukku lilin layarnya kertas, seberang laut berapi... Laman memutih pawana menerpa, langit membiru awan bertali. Bukan dirintih pada siapa, menunggu sinarkan kembali..

Bangsa ini (bersama generasi kemudian) tak boleh pandir. Harus kian cerdas dan visioner, bertegak di atas jati diri bangsanya. Dalam konteks itulah, berlaku prinsip: mawas diri untuk tahu diri agar punya harga diri.. |

 

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 332
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2021
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Budaya
12 Jan 22, 08:56 WIB | Dilihat : 119
Cermin Adab di Jalan Tol
11 Jan 22, 09:20 WIB | Dilihat : 162
Pesona Masjid Rao Rao di Sungai Tarab Bungo Satangkai
17 Des 21, 07:31 WIB | Dilihat : 239
Membaca Zaman Edan dengan Isyarat Pantun Bogor
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 439
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
Selanjutnya