KUNUK

| dilihat 124

Bang Sém

Lelaki gempal, perlente dan tak cukup tinggi berbadan tegap. Kumis tipis nangkring di atas bibirnya.

Awal dekade 70-an, sejak pindah rumah ke jalan Martapura (persis di ujung pintu keluar Stasiun Kereta BNI City, sekarang). Ia selalu datang ke rumah selama beberapa hari, dari kediamannya di Kampung Rawa - Kemanggisan - Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Bang Kunuk! Begitu saya memanggilnya. Nama aslinya sendiri Muhammad Yunus. Dia sepupu (dua kali) saya, dari allahyarham bapak.

Lelaki resik yang selalu berkemeja dan berpantalon putih, ini selama beberapa malam, melatih saya bersaudara (kakak - adik, lelaki perempuan), termasuk kakak sepupu yang sebaya, 'main pukulan' alias silat.

Sebelum berlatih, dia biasa hanya mengenakan kaos oblong putih, dan meminta kami bergelantungan di lengannya, yang dia gerakkan naik turun selama beberapa kali, sampai dia anggap cukup.

Ibu kandungnya, saudara seayah dengan ayah saya, tinggal di Kampung Bali IX tak jauh dari rumah Haji Nawi Ismail, sutradara film. Perempuan pemberani bersuara lantang. Mak Iyah, namanya.

Cerita allahyarhamah ibu saya, selama masa belia -- dekade 1950-an --, sejak orang tuanya bercerai - kemudian ibunya menikah lagi dan pindah mengikuti suaminya ke Kampung Bandan -- Bang Kunuk dengan dua kakaknya (Sakib dan Saduni), tinggal bersama keluarga kami di Jalan Kampung Bali XXX. Mereka bersama beberapa kemenakan ayah lainnya, juga ikut pindah ke mana saja keluarga kami pindah, sampai ke tinggal di Jalan Martapura, itu.

Sejak berumah tangga, ketiganya tinggal di Poris Gaga, dan kemudian di Kampung Rawa, itu. Saya dan adik-adik, sampai yang bungsu tak sempat mengalami asuhannya. Ini juga alasan, setiap akhir pekan (Jum'at sampai Ahad) dia diminta ibu datang dan melatih kami silat.

Yang masih membekas dalam ingatan saya, adalah, setiap usai berlatih silat di laman rumah, usai cooling down, dia mengajak kami duduk bersila, lantas bercerita tentang banyak hal. Mulai dari jurus-jurus silat Cingkrik, Beksi, Sabeni dan varian-varian lain, seperti Cimande dan Tarikolot yang diolahnya menjadi beberapa ragam jurus.

Selepas itu, ia mengajak kami wirid dengan membaca berulang-ulang asma'ul husna. Lantas memberi nasihat dan sanksi, bila ia mendengar dari kakak sulung saya, ada hal-hal tak elok yang kami lakukan.

Satu ketika, saya bersama kakak-kakak saya mendapat sanksi berdiri dengan satu kaki di angkat ke atas, di bawah pokok mangga, karena mendapat laporan, membuat anak tetangga (belakang rumah) yang rada songong, mengalami depresi karena kami bentang di atas rel kereta Manggarai - Tanah Abang.

***

Lantas dia menasihati, silat tidak untuk melakukan hal semacam itu. Silat silat tidak untuk membuat seseorang menjadi jagoan, melainkan menjadi jawara. Menjadi seorang ksatria, yang pantang menolak tantangan, tetapi tetap menjaga perangai, akhlak.

Kemampuan 'maen pukulan' mesti diimbangi dengan kecerdasan 'maen pikiran,' dan kepiawaian mengelola batin, supaya mampu bersikap rendah hati, dan mampu merendah tanpa harus kehilangan harga diri.

Beberapa petuah Bang Kunuk masih meresap di benak dan hati saya, dan selama ini menjadi 'pakaian kehidupan.'

Jangan marah ketika direndahkan , karena hanya mereka yang tinggi selalu ingin direndahkan. Jangan pernah marah ketika dikecilkan, karena hanya mereka yang besar selalu ingin dikecilkan. Jangan marah ketika tidak direken orang, karena dengan  begitu, ada peluang untuk terus menempa diri.

Begitu, antara lain, petuah saya ingatkan. Hal lain yang selalu dia ingatkan adalah, "perlakukan semua orang dengan baik dan setara."

Bang Kunuk tak hanya bicara. Apa yang dia katakan, itulah yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Dia enggan membicarakan dirinya. Kami lebih banyak mendapat informasi tentang dirinya, termasuk kejawaraannya, selalu dari orang lain. Tak hanya murid-muridnya. Setiap kali kami utarakan kepadanya, dia selalu mengelak, dan mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

Nasihat lainnya? "Jangan jadi jawara, apalagi jagoan kandang." Nasihat ini juga yang selalu saya ingat.

Watak Bang Kunuk menurun pada anak sulungnya, Salbini, dan cucu-cucunya.  Para cucunya, terutama yang perempuan, memilih jalan akademik sebagai pendidik dan mengasuh pesantren di Sukabumi.

Akan halnya cucu lelaki, dengan keahlian teknologi informasi, mengikuti jejak Salbini, menjadi entrepreneur, dan berkembang sangat cepat sejak terjadi pandemi. Sedangkan Salbini, selain terus mengembangkan bisnisnya, mengisi malam-malam kehidupannya sebagai imam di masjid lingkungannya.

Beberapa waktu berselang, Salbini intensif mendalami ilmu hikmah dan menggali makna di sebalik ayat-ayat al Qur'an. Termasuk dalam merespon situasi psikososial khalayak akibat pandemi yang belum juga berhasil ditaklukkan. |   

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 211
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 166
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 244
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 359
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1205
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1458
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya