Kapal Patah Kemudi

| dilihat 133

Bang Sém Haésy

Bila negara dibayangkan sebagai kapal besar -- sebagaimana  seringkali diamsalkan banyak petinggi negeri - politisi --, boleh jadi, kini dan bahkan esok, kita masih akan hidup di dalam kapal patah kemudi.

Terombang-ambing di tengah pusaran dan gelombang besar perubahan, siapapun yang didapuk menjadi kapten dan mualimnya tak kan mampu berbuat banyak.

Sistem pemerintahan sebagai kemudi atas kapal besar ini, telah patah, karena tak usai sudah diperebutkan berbagai kepentingan politik sesaat. Kepentingan politik partai dan kelompok, yang seringkali tampak dan terasa sebagai bagian dari kepentingan oligark.

Demokrasi sebagai cara mengendalikan arah dan tujuan kapal terkesan kehilangan fungsinya untuk mengelola keseimbangan hidup di dalam kapal besar ini.

Dari praktik berdemokrasi selama ini, nampak dan terasa, demokrasi hanya dipahami dan diwujudkan sebagaimana mekanisme reguler berebut kuasa.

Paling jauh, dipahami dan dipraktikan sebagai prosedur untuk menentukan figur-figur petinggi yang dikondisikan untuk menjadi kapten dan mualim kapal.

Demokrasi belum dipahami sebagai suatu sistem yang efektif dan efisien mengelola negara, sehingga mampu menjawab tantangan aktual yang dihadapi bangsa. Karenanya, demokrasi yang semestinya menjadi sistem yang membuka ruang luas bagi bangsa untuk melihat dan menemukan peluang-peluang kemajuan dan pemajuan bangsa, belum terasa manfaatnya.

Para petinggi yang terseleksi untuk mengemban amanah sebagai pengendali kemudi dibiarkan mengemudi tanpa dibekali pedoman, bagaimana menghadapi situasi dan kondisi terburuk, ketika kapal berlayar tengah malam, di lautan dalam, melintasi topan dan badai.

Mereka tak juga dibekali dengan pedoman visioneering, bagaimana mesti mengatasi keadaan paling pelik yang dihadapi seluruh awak dan penumpang kapal, ketika ancaman atas keselamatan pelayaran menampakkan sosoknya.

Kapten, mualim, dan anak buah kapal yang terpilih sebagai petinggi hanya diposisikan sebagai petugas partai, yang pada momen-momen tertentu akan kehilangan daya untuk menentukan posisi dan jarak, ketika partai bertikai.

Dalam banyak hal, tak lagi bisa dibedakan siapa kapten, mualim, dan awak kapal, siapa pula penumpang. Akibatnya, ketika berhadapan dengan masalah, sangat sulit menemukan problem solver dan pemberi solusi, karena semuanya menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Di dalam kapal patah kemudi, rakyat sebagai penumpang, seolah-olah hanya boleh memainkan peran diri sebagai obyek - penumpang pasrah. Bukan sebagai subyek yang mempunyai ruang dan peluang menemukan dan memberikan solusi. Termasuk mengingatkan kapten, mualim dan anak buah kapal untuk memutar haluan ke garis azimuth tujuan pelayaran.

Demokrasi yang dipahami dan dipraktikan belum memungkinkan kapten, mualim, dan anak buah kapal menjalankan tugas pokok dan fungsinya (melayani dan menyelamatkan penumpang) mengambil kebijakan atau keputusan politik yang tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Terutama karena praktik sub sistem semak dan imbang (check and balance) relatif rendah dan lemah. Terutama, ketika pers yang sering dialu-alukan sebagai pilar keempat demokrasi pun terasakan, tak sepenuhnya bisa memainkan peran strategisnya.

Dalam situasi semacam itu, siapa lagi yang bisa diharapkan sebagai reporesentasi penumpang kapal besar?

Di tengah situasi storm und drang, kala kita dihadapkan oleh arus besar singularitas, berisik, gaduh, tak terasakan lagi daya dan pengaruh memetika (virus akal budi), saya masih berharap pada sedikit negarawan, pemuka agama, cendekiawan, penyair, dan seniman memainkan peran fungsional sebagai pemandu arah.

Kepada mereka saya masih menaruh harapan, akan dapat terjadi perubahan untuk keluar dari pusaran arus tunggal memaknai praktik demokrasi. Sekaligus mengubah orientasi minda untuk tidak fokus pada figur. Melainkan fokus pada tantangan dan peluang yang akan dihadapi. Tak terkecuali mengenali kelemahan kita selama ini, sehingga mampu merumuskan kekuatan apa yang harus dimiliki untuk terus berlayar menembus badai.

Dari kalangan yang sedikit itu juga, saya masih berharap akan bertemu dengan kejernihan berfikir secara paradigmatik untuk mengubah orientasi kepada figur sentrik (figure centric) ke setrik khalayak (peoples centric).

Mengenali dan memahami kembali: siapa sungguh penumpang mayoritas kapal besar ini, apa dan bagaimana aspirasi mereka, untuk menentukan prioritas program apa yang kudu dilakoni, termasuk menentukan strategi berbasis integralisme dan gerak progresif, sehingga rakyat merasa terayomi dan loyal. Dengan cara demikian pelayaran dapat terus dilakukan.

Kita mesti mengalihkan fokus orientasi kepada bagaimana memperbaiki kemudi yang patah atau menggunakan kemudi cadangan yang diwariskan para pendahulu.

Setelah itu, baru fokus pada siapa pantas dan patut beroleh amanah menjadi kapten, mualim, dan juru mudi untuk mengemudikan dan mengendalikan kapal besar di tengah ketidakpastian musim, kegamangan, kompleksitas, dan kemenduaan. |

Editor : delanova
 
Polhukam
01 Jul 22, 11:59 WIB | Dilihat : 84
Rusia Terus Serang Ukraina dengan Stok Rudal Soviet
30 Jun 22, 10:03 WIB | Dilihat : 96
Jurnalisme Damai
29 Jun 22, 16:02 WIB | Dilihat : 81
Ngaca !
13 Jun 22, 09:11 WIB | Dilihat : 159
Hanya Keledai Jatuh di Lubang Petaka yang Sama
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 596
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1437
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1646
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya