PENGUKUHAN AKADEMI JAKARTA

Gubernur Anies Berharap Jakarta Diperhitungkan dalam Pergulatan Pemikiran Kebudayaan Dunia

| dilihat 253

JAKARTA  |  Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan berharap, Jakarta mampu diperhitungkan di kancah internasional dalam hal pergulatan pemikiran kebudayaan dunia.

Anies menyampaikan hal itu, Kamis (08/04/21) jelang petang, sesaat setelah mengukuhkan 17 anggota Akademi Jakarta yang dipimpin Seno Gumira Ajidarma (Ketua) dan Ratna N. Riantiarno (Wakil Ketua) di Balaikota DKI Jakarta.

Harapan itu mengemuka, karena menurut Anies, Jakarta adalah tempat di mana berkumpulnya seluruh sumber daya perwakilan kebudayaan nusantara yang sangat luar biasa banyaknya di antara semua kota yang ada di Tanah Air.

Untuk itu, Anies mengharapkan, keberadaan dan hasil pemikiran Akademi Jakarta diharapkan hasilnya tidak hanya merepresentasikan Ibu Kota  saja, namun juga bisa berbicara di kancah nasional maupun internasional.

"Itu artinya Akademi Jakarta menjadi semacam platform untuk bisa mengumpulkan referensi baru yang berguna dalam meningkatkan derajat kebudayaan Indonesia di mata dunia," harapnya.

Anies juga berharap, Akademi Jakarta dan pemikirannya,  bisa mendorong berbagai macam kegiatan, dan bisa menumbuhkan ekosistem yang sehat bagi kegiatan budaya di Ibu Kota. "Izinkan kami menyampaikan terima kasih serta apresiasi yang setinggi-tingginya, semoga anggota yang dikukuhkan dipermudah jalannya dalam menjalankan amanat tersebut," ungkap Gubernur Anies.

Gubernur Anies mengatakan pengukuhan ini bukan saja dianggap sebagai bentuk rasa tanggung jawab bagi anggota Akademi Jakarta, namun harus ditunjukkan dengan sikap serta bukti yang nyata dalam bertugas.

"Insya Allah ini akan bisa menjadi sebuah organisasi yang nanti mendorong kemajuan kegiatan berkebudayaan di Jakarta. Keberadaan Akademi Jakarta ini bisa menjadi wadah terbuka sebagai ajang kontribusi bagi kalangan intelektual serta budayawan," ujar Gubernur Anies.

Anies juga meminta, Akademi Jakarta juga menghasilkan konsep pemikiran budaya yang bisa merangsang seniman Tanah Air untuk berpikir kritis dan solutif, sehingga bisa berkontribusi serta berkolaborasi dalam membangun negeri. Bahkan, keberadaan Akademi Jakarta ini, bisa mendorong kemajuan aktivitas kebudayaan sehingga mencetak lembaran sejarah baru, khususnya di Jakarta.

Sebelumnya, Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma mengucapkan terima kasih kepada Pemprov DKI yang telah mempercayakan amanah tersebut kepada anggota yang baru dikukuhkan.

"Kami berterima kasih atas kepercayaan ini, dalam sebuah tanggung jawab baru. Hal ini tentu akan kami terima, bukan sekadar dengan rasa tanggung jawab, tapi juga dengan sikap dan tindakan yang bertanggung jawab," tegas Seno yang mengawali sambutan dengan menyebut Gubernur DKI Jakarta, "Bang Anies Baswedan."

Dalam sambutan sangat singkat, Seno juga mengemukakan, kerja sama dengan Pemprov DKI ini juga kami terima dengan senang hati dan tolong doakan agar kami juga akan berhasil menjalankan kepercayaan ini ke depannya.

17 anggota Akademi Jakarta yang dikukuhkan Anies, adalah Afrizal Malna, Armantono, Anto Hoed, Bambang Harymurti, Biem Benyamin, Dolorosa Sinaga, Hamento Kusumawidjaja, I Sandyawan Sumardi, Karlina Supeli, Kusmayanto Kadiman, Margani M. Mustar, Melani Budianta, N. Syamsuddin Ch. Haesy, Ratna Riantiarno, Seno Gumira Ajidarma, Tisna Sanjaya, dan Zeffry Al Katiri.

Akademi Jakarta, menurut Gubernur Anies, telah terbentuk sejak tahun 1970 dan dikukuhkan pertama kali oleh Gubernur Ali Sadikin tersebut memiliki anggota yang bertugas selama seumur hidupnya. Sudah lima dekade.

Karenanya, Anies mengemukakan, ketika kelak terjadi pengukuhan Akademi Jakarta, apa yang dihasilkan oleh Akademi Jakarta saat ini akan menjadi rujukan pencapaian pemikiran kebudayaan di masanya.

Akademi Jakarta merupakan institusi independen yang dalam kemitraannya. Berbeda dengan yang dikukuhkan oleh Ali Sadikin dan gubernur-gubernur sebelumnya, Akademi Jakarta yang baru dikukuhkan usia anggotanya dibatasi sampai 70 tahun.

Para anggota Akademi Jakarta memilih sendiri Ketua dan Wakil Ketua-nya, termasuk memilih calon anggota baru yang akan menggantikan anggota yang berakhir pengabdiannya.

Sejak November 2020 sampai Maret 2021, para anggota Akademi Jakarta telah bekerja, melakukan berbagai olah pikir melalui diskusi dan dialog. Mulai dari perubahan budaya yang dipicu oleh pandemi Covid-19, perubahan ekologi akibat pembangunan yang menimbulkan alih fungsi lahan, fenomena dan paradigma perubahan nilai dan orientasi budaya masyarakat global, ekosistem kesenian di Jakarta dan Indonesia, dan berbagai hal terkait strategi kebudayaan dalam konteks perancangan peradaban baru, dengan melihat perkembangan sains. Termasuk pengembangan literiasi media sejak dini.   

Akademi Jakarta juga mematangkan rancangan program menghidupkan kembali Polemik Kebudayaan sebagai bagian dari cara merespon dinamika informasi yang makin luas, sebagai konsekuensi logis dari kemajuan sains dan teknologi. Sekaligus membiasakan kembali menerima perbedaan sebagai suatu realitas kehidupan tanpa harus memicu friksi dan konflik sosial.

Akademi Jakarta juga menyiapkan aktivitas tahunan Memorial Lecture tahunan yang diakhiri dengan Pidato Kebudayaan, serta pemberian Penghargaan Akademi Jakarta kepada budayawan, seniman, dan komunitas dengan pencapaian kreativitas dan inovasi karya terbaik, tak terkecuali bagi generasi millenial.

Pengukuhan Akademi Jakarta dilakukan secara luring (dengan standar protokol kesehatan yang ketat) dan daring. Dalam pengukuhan secara luring, Akademi Jakarta diwakili Ketua dan empat anggota.

Dalam kesempatan ramah tamah dengan Gubernur Anies dan stafnya, Ketua dan sejumlah anggota Akademi Jakarta mengingatkan berbagai hal terkait dengan institusi pendidikan menengah dan tinggi kesenian, termasuk beberapa pandangan terkait kesejahteraan seniman di tengah masa pandemi.

Saat komunikasi daring dengan anggota Akademi Jakarta lainnya, Gubernur Anies merespon berbagai hal, antara lain perbaikan ekologi dan pengembangan Jakarta sebagai kota berbudaya.

Acara pengukuhan dihadiri oleh Deputy Gubernur DKI bidang Kebudayaan dan Pariwisata, Kadis Kebudayaan, Iwan Henry Wardhana; Kepala UPT Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki, dan lainnya. | PPID/delanova

Editor : eCatri | Sumber : PPID Jakarta
 
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 254
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 424
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 419
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 354
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1778
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2138
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1306
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya