Peresmian Perpustakaan dan PDS HB Jassin

Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan

| dilihat 358

Catatan Sém Haésy

 

"In the nonstop tsunami of global information, librarians provide us with floaties and teach us to swim."  | Linton Weeks

 

Pernyataan Linton Weeks, seorang jurnalis National Public Radio (NPR) yang berkedudukan di Washington DC. Pernyataan, itu bila hendak diterjemahkan secara bebas, menegaskan, bahwa di dalam tsunami informasi global, pustakawan memberikan kita pelampung dan mengajar kita cara berenang.

Gubernur Jakarta Raya Anies Rasyid Baswedan mengutip pernyataan itu,  di tengah sambutannya saat meresmikan Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (7/7/22) jelang petang.

Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang berada di Gedung Panjang (kelak akan bernama Gedung Ali Sadikin), itu bukan perpustakaan biasa.

Rancang arsitektur perpustakaan ini menawarkan imaji ruang di suatu perahu besar yang megah, nyaman dan memperluas cakrawala.

Ada spirit pendakian untuk mengembangkan kesadaran dan habitual baru tentang pencapaian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Rancangan seni bangunan (arsitektural) Andra Matin, ini memberikan ruang-ruang yang memantik imaji baru tentang bagaimana mesti merenangi transhumanisma di simpang jaman dengan arus besar transformasi dari post modernisme dan post industrian society menuju Society 5.0 yang ditopang oleh internet on think dan artificial intelligent.

Pernyataan Weeks yang ditulisnya di Washington Post (13/01/2001), terasa resonansinya di sini. Khasnya tentang pustakawan, sebagai penyedia pelampung dan mengajari kita berenang kala tsunami informasi global melanda.

Weeks menulis dalam artikelnya tersebut, "Perpustakaan terbaik menyediakan jawaban atas pertanyaan, program untuk memperluas wawasan kita dan, jika kita tahu cara menggunakan katalog, jendela Windexed yang diindeks ke seluruh dunia dan alam semesta di luarnya."

Dalam konteks ini, pernyataan Anies dalam sambutannya, menjadi penting. Dia menyatakan, perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin, tak boleh menjadi hanya tempat kumpulan buku-buku dan membaca. mesti dikelola untuk memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan tentang perubahan era, memperluas wawasan, dan harus membangun komunitas.

Pernyataan Anies dalam sambutannya, mestinya, mengusik kesadaran berbagai kalangan akan harus berbuat apa dan bagaimana di tengah perubahan dramatik yang akan terus kita alami.

Anies menyatakan, bahwa ke depan, semua institusi di DKI Jakarta mesti ikut bertanggung jawab untuk melindungi dan mengembangkan Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin ini.  

Di tempat ini, seru Anies, mesti berlangsung perubahan yang nyata keberadaan perpustakaan. Dari gudang buku ke pusat syaraf lokal untuk informasi.  Dari tempat yang penuh dengan buku cetak ke tempat yang penuh dengan web terminal.  Dari tempat yang mendapat sedikit hiburan dan pengetahuan sesudah bekerja ke ruang ketiga untuk mendapatkan pengetahuan dan hikmah.

Dari tempat anak-anak menumbuhkan minat baca ke tempat anak-anak belajar, berkarya, bahkan mengajar sesama. Dari pusat sumber daya untuk riset amatir ke tempat co-working dan kolaborasi proyek bersama.

Alhasil, perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin kudu dikelola secara bersungguh-sungguh untuk memainkan peran sebagai tempat menyelenggarakan musyawarah wilayah, menawarkan tempat bermain, layanan sosial, dan lainnya. Tempat masyarakat mendapatkan lebih dari sekadar gudang informasi.

Dalam kaitan itulah, tegas Anies, perancangan arsitektur perpustakaan sangat penting untuk mewujudkan seluruh fungsi sosio budayanya.

Untuk itu, menurut Anies, perpustakaan ini harus berbeda dengan perpustakaan yang dulu. Pustakawan juga jangan lagi menjadi penunggu katalog dan pemandu masyarakat mencari buku dan informasi.

Cara pustakawan memandang dan berinteraksi dengan publik, katanya, sangat Termasuk menjawab pertanyaan: apakah ide dan masukan dari publik dianggap sebagai gangguan atau kesempatan? Apakah pustakawan secara aktif berinteraksi dengan pengunjung dan berperilaku warga sentris?

Ketika menyampaikan pertanyaan tersebut, saya merasa, Anies sedang memandu paradigma pustakawan, juga pemerintah dalam mengelola perpustakaan. Jernih dan fokus mengenali mendalami hasrat, keperluan, dan kepentingan khalayak.

Dengan begitu perpustakaan dan pustakawan mampu merumuskan dan menyediakan program yang pas, sekaligus mampu melakukan diseminasi secara integral (melalui kolaborasi dan sinergi) dan progressif.

Tak hanya untuk mencapai kepuasan dan loyalitas khalayak terhadap perpustakaan. Lebih dari itu adalah untuk menggerakkan pertumbuhan khalayak secara berkelanjutan.

Kesemua itu relevan dengan pandangan Anies, tentang cara mendapat kunci sukses perpustakaan. Yakni,  menerima inovasi dan kolaborasi, serta mengakui kegagalan.

Terang benderang Anies menyatakan, untuk pertumbuhan dan pembaruan organisasi perpustakaan, seluruh jajaran perlu menyambut perubahan paradigma dan budaya.

Meninggalkan kebiasaan dan asumsi lama yang tak relevan, dan kemudian menempatkan manusia sebagai prioritas. "Perpustakaan dapat menjadi tempat publik yang mendorong interaksi dan kolaborasi," ujar Anies.

Peresmian Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin itu, diawali dengan laporan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta - Wahyu Haryadi,  tentang perkembangan perpustakaan di Jakarta dan program aksi yang patut diapresiasi.

Berbagai perubahan, seperti pemanfaatan teknologi digital untuk mendekatkan khalayak dengan perpustakaan (dan sebaliknya) dan penafsiran ulang tentang perpustakaan, juga inisiatif penerbitan buku sejuta puisi tentang Jakarta.

Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin dilengkapi dengan sejumlah ruang baru tempat diskusi, ruang multifungsi, ruang baca privat, bilik cerita, ruang komputer, komputer pencari koleksi buku, ruang koleksi ke-Jakarta-an, dan ruang permainan kreatif anak.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta, setidaknya, kini mempunyai 2 Perpustakaan Umum Daerah, 213 Taman Bacaan Masyarakat, 11 Perpustakaan Rumah Susun, 4 perpustakaan di Lembaga Pemasyarakatan, Perpustakaan Keliling, serta mempunyai 12.766 judul e-Book melalui aplikasi iJakarta.

Di Perpustakaan Jakarta terdapat 138.000 koleksi buku-buku anak-anak, umum, dan berbagai buku yang relevan dengan keperluan khalayak. Di PDS HB Jassin terdapat 4.395 koleksi, termasuk dokumen-dokumen dan manuskrip bertulis tangan para sastrawan besar, seperti Chairil Anwar, WS Rendra, Taufiq Ismail, dan lain-lain.

Taufiq Ismail berkisah sekejap ihwal HB Jassin yang disebutnya sebagai Wali Sastra, serta pertemuan awal dia dan para sastrawan lain dengan sang Wali, hingga jelang wafat.

Acara peresmian Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin menjadi lebih bermakna, ketika tersebut diawali dengan pembacaan puisi oleh Ayu Utami, yang dikemas apik: menghibur dan memantik perenungan bertajuk Jakarta Dulu dan Sekarang, Taufik Ismail, dan Jose Rizal Manua yang membacakan puisi terbaik dari sejuta puisi tentang Jakarta. Juga, Deavies Sanggar Matahari - spesialis musikalisasi puisi, yang terdiri dari anak cucu allahyarham H. Fredie Arsi, yang mendirikan kelompok tersebut tahun 1990.

Saya melihat dan merasakan keharuan dari sastrawan - dramawan Putu Wijaya dan  sastrawan Taufiq Ismail, ketika Anies secara khas, dengan adab yang tinggi, mengapresiasi keberadaan mereka di kancah sastra dan budaya berskala internasional.

Mengawali sambutannya, Anies sempat bercerita, bagaimana proses sangat panjang untuk sampai ke Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin, sejak sebelum terjadi kesepakatan dengan keluarga HB Jassin. Pun, tentang upaya meyakinkan allahyarham Ajip Rosidi yang kadung tak percaya kepada pemerintah untuk mengurus koleksi PDS HB Jassin.

Anies berjanji kepada Ajip Rosidi (16 Mei 2017), jauh sebelum dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, akan merawat PDS HB Jassin sebagai aset bangsa yang sangat berharga.  Janji seorang pemimpin, itu berhasil dipenuhinya. Anies bersyukur dengan pencapaian itu.

Anies juga bercerita, bagaimana pengalamannya ketika ia -- masih kelas tiga SMA sebagai peserta pertukaran pelajar ke Amerika Serikat -- dan kawan-kawan mesti menulis puisi sepanjang perjalanan dari New York ke Jakarta, karena kewajiban yang diberikan oleh Taufiq Ismail, yang menjemputnya di bandar udara.

Perintah menulis, itu otomatis mendorong keharusan membaca. Taufiq Ismail memandang dengan tekun, ketika Anies menceritakan pengalamannya, itu.

Anies berterima kasih dengan seluruh kalangan yang terlibat dalam pembangunan gedung tersebut, tak terkecuali, mereka yang boleh jadi tak pernah menginjakkan kakinya ke situ, kini atau esok. Para pekerja bangunan, yang bekerja siang dan malam. |

 

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi

 

Editor : delanova
 
Sporta
02 Okt 22, 12:46 WIB | Dilihat : 269
Tragedi Kemanusiaan di Kanjuruhan
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 464
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya