Puisi-puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy

Alor, Aku Berguru Kepadamu

| dilihat 177

Puisi-puisi N. Syamsuddin Ch. HAESY yang tersemai di Alor
 

USAH MENGHITUNG USIAMU

[ kepada Amon Djobo ]

 

usah menghitung berapa bilangan usiamu

ketika hujan dan panas membasahi

seluruh relung alor dan pantar

hitung-hitunglah berapa bilangan koral

bermandi lidah ombak dari detik ke detik

dari menit ke menit

ambil sesukamu dengan genggaman kuat jemarimu

lontarkan ke udara

perhatikan dengan seksama

batu itu meluncur ke laut

di bawah pendar airnya yang bening

ikan-ikan berenangan

mengabarkan kepadamu

hidup adalah cara mencapai harmoni

segala perbedaan sirna dalam irama persatuan

seperti laut dengan ikan-ikannya

melangkahlah ke tepian

mari santap ikan bakar dengan ramuan sukacita

ketika mentari memancarkan cahaya

dan awan memayungi tanah kerinduan

pandanglah luas tak berbatas

jauh tak berujung

ikuti garis pantai hingga ke kaki langit

dengar bisik batinmu:

 "Tuhan terlalu banyak memberi, kita terlalu banyak meminta. Tuhan tak pernah menghitung berkat yang diturunkannya ke nusa kenari, supaya kita mampu bertanya: sudah berapa banyak kita memberi kebajikan atas tnah kelahiran ini. Sudah berapa banyak benih kebajikan kita tanam dan semai di tanah kecintaan ini. Sudah berapa banyak tetes peluh kerja cerdas dan kerja ikhlas bertumbuh menjadi titian cinta kasih antara alor dan pantar, antara nusa kenari dengan nusa cendana, antara nusa cendana dengan nusa bangsa, Indonesia Raya dan Jaya."

saudaraku, jangan pernah menghitung bilangan usiamu. tapi hitunglah, berapa banyak hutang kita kepada Tuhan. Hutan cinta kasih yang tak pernah terbayar. Kecuali kita tak lelah menebar dan menyemai benih sukacita di sungging senyum rakyat.

selamat hari lahir.

[jakarta, 22 Februari 2021 ]

 

MAKLUMAT ZAMAN BARU

 

matahari memancar. geliat pagi tawarkan harapan.

jangan berubah pikiran, kawan. ingat senantiasa tujuan. fokus pada visi perjuangan. layani rakyat sepenuh pengabdian.

ingat kembali lantang suaraku di sudut stadion di tepian senja. selepas 84 purnama berlalu dulu.

cegah pertikaian dengan sukma terjaga.

pilihkan cara berdamai dengan masa depan.

dahulukan musyawarah. capai gapai mufakat.

songsong zaman baru sebentar tiba.

tanganmu, kawan. tanganmu. bentangkan.

bangun kesadaran bersama untuk alor bersatu. untuk alor yang satu, yang dipadu-padan harmoni oleh sejarah.

bentangkan tanganmu, kawan. peluk hangat seluruh rakyat.

lindungi mereka dari segala alur pikir menyimpang.

hasrat bertentang lantaran siasat tertular kepentingan sesaat. taklukan dengan niat semula menata hati.

zaman baru sudah tiba. nanomonster corona virus sudah tiba. menyerang menerjang tanah negeri mutumanikam.

mendesak kita ke sudut masa. ketidakpastian menghimpit. kerumitan menjepit. cara pandang terbelah.

ooo.. kembalikan pikiran segar. dulu kita bincangkan di tepian pantai teluk mutiara. kita gumamkan di sudut alor kecil. kala kita bercerita tentang orang-orang bijak datang dari ternate. tentang para pelaut dan pedagang datang dari mangkasara dan bulukumba. tentang pelaut majapahit. disambut para leluhur dengan cinta.

zaman baru sudah tiba, saudaraku.

ingat ingatlah lagi hasrat dulu membentang jalan kalabahi - kokar. karena pantai pasir putih selalu melambai-lambai mengundang kesadaran perubahan.

ingat-ingatlah lagi bentang hasrat tuliskan sejarah masa depan di sepanjang takpala hingga ke limboer dan taramana. supaya generasi baru membentang semangat peradaban baru sepanjang pantai agadae hingga tanjung manamoni. merawat bumi yang dicipta Tuhan laksana sekeping surga di timur matahari.

jangan pernah lelah mengelola keseimbangan nalar, nurani, rasa dan dria, karena kita harus membalik kemiskinan dari pulau marisa hingga kolane. jangan lupa cita-citamu menjaga merah putih berkibar abadi di bukit kebangsaan.

jangan pernah mudah terpancing amarah. bukankah kita pernah bercerita tentang bentang cinta sepanjang tanjung lisomu hingga pulu. supaya kita bisa berdiri tegak di puncak gunung sirung.

jangan mudah tergoda kesal. ingat-ingatlah angan asamu tentang gugusan kasih bertabur rahman dan rahim di rentang kabir hingga kalabahi.

di atas gugusan geopark pesona semesta segak indah alor menyatu gelombang tenang laut banda mengusik kesadaran: kita berdaya menaklukan penyakit, epidemi dan pandemi dengan cara kita. mendulang kecerdasan dan kearifan warisan para leluhur.

inilah maklumat zaman baru, saudaraku:

dunia ada dalam genggaman jemari anak cucu. di situ perang masa depan ditebar suwanggi zaman baru.

lindungi anak cucu kita dari kepalsuan dan igauan, dari sengketa tak usai sudah, disemai dengan racun rumors, hoax dan fithan.

jangan pernah lelah melayani rakyat.

kita mesti pelihara dan hidup-hidupkan damai

di sukma terjaga anak cucu kita.

jangan lupa bulir airmata rakyat

setiap kali amarah menggoda,

kawan !

 

jakarta, november 2020

 

ALOR, AKU BERGURU KEPADAMU

 

Alor

Aku datang ke bumimu

Manikam mengambang di samodera raya

Angin gunung berembus

Mengantar cinta yang sulit dituliskan dengan aksara

Angin laut berembus

Mengantar kasih dalam damai semesta

 

Di pulau-pulaumu

di gunung-gunungmu

di sela batang kenari yang tegak berdiri

di sela batang mente yang merimbun

di sela tamarin yang kokoh berbaris

di sela rerumputan dan padang ilalang

terhampar luas memanggil

sapi, rusa dan kambing datang

membawa sukacita mendatang

aku berguru tentang harmoni

di sepanjang pantaimu

di sela rimbun pohon lontar dan mangga kelapa

yang berbanjar tak gentar

aku berguru kepadamu

tentang bagaimana alam harus dicintai

di dusun-dusun sunyimu

di Kalabahi kota Kenari

aku belajar tentang bagaimana

mengelola hati

membangun negeri

aku berburu pada ikan-ikan yang berenang

di laut dalam mu

belajar tentang makna kehidupan

ikan bergaul dengan sesamanya’

orang baik akan bertemu dengan sesamanya

di hutan lepas Pulau Rusa

aku belajar tentang hakekat hidup

tentang bagaimana kehidupan

mesti berbagi

 

Alor

Aku datang ke bumimu

Ketika lonceng gereja berdentang

Ketika adzan di masjid berkumandang

Ketika Wangi Dupa di pura ngembara

Menggema bersama do’a-do’a

Yang berhimpun di cakrawala

Memohon Tuhan

Tak henti-henti mengaliri kasih karunia

Tak bosan-bosan mengaliri rahman dan rahim

Aku berguru kepadamu

Tentang bagaimana mengelola hati

Sukma nan senantiasa terjaga

Memberi makna atas kehidupan

Yang terus bergerak

Mengantarkan matahari

Mengantarkan rembulan

Jadi hiasan insan yang beriman

 

Alor

Aku berguru kepadamu

Tentang damai yang terpelihara

Dari masa ke masa

Seperti jemari elok para perempuanmu

Merajut benang cinta

Di hamparan ikat dan songket

Seperti jemari elok para lelakimu

Merajut benang menjadi jaring

Yang dilepas tangan kokoh para nelayan

Menjalin ruas-ruas bilah menjadi bubu

Yang diletakkan para nelayan di sela karang dasar lautan

Alor

Aku datang ke bumimu

Menyaksikan

Para pemimpin dan rakyatnya

Bergandengan tangan

Menyatukan hati

Menyatukan fikir

Menyatukan semangat

Bersatu

Menjemput masa depan

Aku belajar kepadamu

Mengenali sekeping

Surga di Timur Matahari

 

Aku belajar kepadamu

Memahami hakekat sejarah masa lalu

Sebagai titian untuk melangkah ke masa depan

Menyiapkan zaman baru

Bagi anak cucu

Yang mungkin tak pernah kita kunjungi

 

Alor

Aku datang bumimu

Bersama matahari

Ketika fajar merekah

Ketika laut tenang membentang

Luas tanpa batas

Ketika pagi mengusik kesadaran

Untuk bekerja dan berkarya

Menuliskan sejarah kehidupan

Dengan keikhlasan dan cinta kasih

Aku belajar kepadamu

Tentang cara tersenyum

Yang sudah lama dilupakan orang

Aku belajar kepadamu

Tentang cara mengasihi insan sesama

Sebagai daya hidup

Yang tak pernah redup

Cahaya yang selalu menyala

Menjadi penerang kala gelap menyergap

Menjadi genta yang bergema

memanggil semua orang

merapatkan barisan

melangkah dalam irama yang sama

menggelorakan semangat

membangun Alor tercinta

 

Alor

Aku datang kepadamu

Untuk belajar

Tentang cara memelihara alam,

Mengolah daya

Mengantar rakyat

Hidup sejahtera

Mengantar rakyat

Mewujudkan cita dan asa

 

Alor

Aku datang kepadamu

Untuk belajar tentang cara menjaga negeri

Siang dan malam

Untuk belajar tentang cara membangun negeri

Tak kenal henti

Untuk belajar tentang cara

Meneriakkan semangat

Ayo Tancap Gas !

Ayo Tancap Gas !

Surga di Timur Matahari ini

Kelak menjadi tujuan

Semua pencari cinta

 

 [ kalabahi, 17 maret 2014 ]

KALA SIANG BELUM BERUBAH PETANG

 

aku menanti pesawat tiba dari Kupang

sebelum mentari terang sinar mentari bergulir redup

tenun dari pulau buaya membebat kepala

kunikmati kopi panas

sambil membayangkan gurihnya daging jonga

dimasak gulai dengan cinta

aku duduk di lantai pintu masuk

lapangan terbang Mali

biarkan moko tersimpan di Takpala

bersama peradaban masa lampau

yang tersimpan di setiap gurat lempeng logamnya

kelak kudatang lagi ke sini

menelusuri jalan panjang peradaban

menghubungkan moko, busana kulit kayu, bunga sirih, anak panah dan merah bibir para nenek dan kakek

basah oleh do'a dan pengharapan

melepas ina dan ama pergi merantau

menuntut ilmu setinggi cakrawala se dalam dasar samodera

tuk kelak kembali memaknai surga di timur matahari

pada zaman yang mungkin tak terkunjungi

kunikmati kopi panas sambil duduk bersandar

sambil membayangkan kenikmatan kopi takpala

dihirup dalam perbincangan senja

sambil mata memandang jauh ke arah laut lepas banda

kelak kudatang lagi ke sini

merayakan asa dan harapan yang jelma jadi kenyataan

saudaraku.. jaga baik kepulauan ini

jangan putuskan cinta kasih

di titik laut antara tanjung lisamu dan dili

tempat perjumpaan dan perpisahaan tak punya makna

 

[ mali, 20 Maret 2014 ]

 

SENJA DI TAPAL BATAS MARITAING

 

senja merambat di tapal batas maritaing

biar mentari bergulir dan tenggelam di laut cinta kasih

kala remang perlahan gelap

kita saksikan dengan mata telanjang

cahaya lampu kendara bergerak hilir mudik di kota dilli

lampu pesawat kelap kelip siap mendarat

pesawat lain melesat tinggal landas

aku tegak berdiri memandang monumen tapal batas

patung jendral sudirman tegak berdiri

penanda keteguhan menjaga kedaulatan negara bangsa

kita habiskan dulu waktu di sini

sebelum bergerak ke tanjung lisomu

menikmati suara angin dan ombak

malam menawarkan misteri

ah.. jiwa tualang senja bergelora

nikmatilah malam di pantai batu kapal atau pigewa

sebelum esok kala geliat mentari memancarkan cahaya

kan kita nikmati keindahan semesta

di tanjung sawarana

di bibir laut tempat kita saksikan

perahu nelayan mengingatkan kita

tentang hakikat diri anak bahari

 

senja merambat di tapal batas maritaing

bercerita tentang sejarah hari kemarin

bekal menulis cerita hari esok

cerita yang telah berubah jadi sejarah

cerita yang kan berubah jadi rencana dan asa

dan hamparan laut yang menghubungkan

Timor Leste dan Indonesia Raya di Alor

adalah hamparan persaudaraan

tak boleh dinodai dengan dendam dan sakit hati

dari pantai kepulauan alor

sentiasa kita kabarkan salam perdamaian

harmoni kebangsaan

[maritaing, 12 februari 2014]

 

SAJAK DARI PANTAI BENLELANG

di laut tenang

ikan-ikan berenang

wajah wajah bocah riang

orang tua mengunyah pinang

ayo saling bergandeng tangan

buat hati seluruh rakyat senang

kejujuran, kebenaran dan keadilan harus menang

di tepi pantai ucapkan 'selamat datang'

jangan ragu tak perlu bimbang

segala persoalan boleh menantang

kendalikan diri tak perlu saling bertentang

meski dulu saling berperang

damai dicapai hingga sekarang

ayo tegak berdiri di atas bukit karang

pandang cakrawala dan laut terbentang

buka jalan bagi generasi mendatang

melesat jauh mencapai bintang

dipuji orang, tiada melayang

dicaci orang, marah berpantang

kuatkan iman teguh terpancang

kuasai ilmu cerdas berkalam pandang

bersih siasat damai membentang

surga di timur matahari kelak menjulang

ketika pagi berubah siang

kala siang menjelma petang

 

 [benlelang, 14 maret 2014]

NOTA ASA

[ kepada Imran duru ]

 

aku tengok segakmu gagah berpesona

cocok dengan seragam yang kau kenakan

melihat wajahmu tersenyum

kubayangkan hatimu sedang mengulang ingat nilai dasar perjuangan mengabdi rakyat

seketika semangat insan cita menggerakkan dawai sukma

kecendekiaan menghidupkan kreativitas dan inovasi

modal utama mengabdi rakyat memajukan negeri

mengalir lagi getar cita: sebersih-bersih iman di dada, ilmu pengetahuan dan siyasah  tuk bertanggungjawab

memakmurkan negeri tanah kelahiran

hingga Allah Pencipta dan Penguasa semesta

tak henti-henti mengalirkan berkah

menyediakan ruang ibadah

menebar keadilan dan kemakmuran

dalam keridhaan-Nya.

jaga amanah sepenuh tekad

jangan sampai berubah jadi khianat

supaya rahmat tak berubah jadi laknat

aku bangga melihatmu

bersanding gagah

mengawali langkah

membumikan visi menjadi realita

mengubah pulau terluar jadi beranda terdepan

Indonesia Raya

jadilah cahaya ketika gelap melintas

jadilah suluh bagi rakyat

melintasi lorong ketidakpastian dunia

 

kalabahi, 17 maret 2014.]

 

Editor : eCatri
 
Humaniora
10 Mei 21, 11:03 WIB | Dilihat : 57
Walid al Hattab Chef untuk Kaum Miskin Gaza
26 Apr 21, 04:44 WIB | Dilihat : 250
Spirit Jalesveva Jajamahe dari Dasar Samudera
24 Apr 21, 05:06 WIB | Dilihat : 311
Tujuh Siyasah Forhati Hadapi Tantangan Kebangsaan
23 Apr 21, 11:14 WIB | Dilihat : 304
Reposisi Perempuan Masa Kini dan Masa Depan
Selanjutnya
Polhukam
17 Apr 21, 15:31 WIB | Dilihat : 394
China dan Tantangan Regional Indonesia
02 Apr 21, 11:07 WIB | Dilihat : 315
Cogan Lampau Politik Lepau Malaysia
31 Mar 21, 15:06 WIB | Dilihat : 408
Kejahatan Rasial Mengancam Warga Asia Amerika
01 Mar 21, 11:09 WIB | Dilihat : 297
Fenomena Politik Miras
Selanjutnya