Alih Rupa Sejarah

| dilihat 166

Bang Sèm

Narasi sejarah bisa diedit oleh siapapun, kapanpun sesuai dengan kepentingan dan selera yang hendak mengubah.

Beragam metode itu juga bisa dicarikan oleh para editor penulisan sejarah untuk membenarkan apa yang mereka lakukan.

Termasuk, ketika mereka menambahkan karakter fiksi dengan alasan, kebebasan kreatif sesuai dengan hermeunetika yang dikehendaki. Penafsiran yang memungkinkan upaya memperkenalkan karakter fiksi untuk melengkapi karakter berdasarkan tokoh sejarah yang sebenarnya.

Dengan begitu narasi sejarah yang diedit akan leluasa menggerakkan cerita, termasuk menyuntikkan kepribadian, dan membuatnya tetap menarik untuk dibaca. Lantas, mengaburkan realitas sebenarnya dari suatu peristiwa sejarah, bagi generasi yang jauh jarak masa-nya dengan momen ketika peristiwa sejarah itu terjadi.

Karakter tokoh dalam sejarah juga bisa dipoles, seolah manusia setengah dewa tanpa cela, karena narasi sejarah menyisihkan berbagai karakter dan perilaku buruk tokoh, untuk kepentingan membangun citra ulang, bagi kepentingan cultus individu.

Para sejarawan dengan standar keilmuannya, akan saling berdebat panjang dan tak berkesudahan, ketika menelusuri kembali jejak petistiwa. Terutama, ketika perkembangan sains dan teknologi menyediakan instrumen atau perangkat aplikasi untuk menelusuri lorong dokumen sejarah yang dibiarkan kelam dan gelap.

Saya termasuk yang yakin, secanggih apapun editor mengubah narasi sejarah, mereka tak akan mampu -- secara psikologis -- mengubah fakta yang akan berpengaruh banyak dalam keseluruhan konstruksi akal budinya. Karena sehebat apapun kemampuannya, kemampuan mereka tak lebih hanya sekadar menambah dan mengurangi fakta.

Fakta dalam peristiwa sejarah, meski direduksi, akan tetap ada sebagai core, kendati narasi sejarah nyata akan berubah menjadi fiksi sejarah dan membawa pembacanya ke dimensi ruang waktu, antara sesuatu yang nyata dan imajiner.

Untuk sampai ke titik brutal mengubah fakta sejarah, pun tidak mudah. Karena memerlukan keseimbangan antara penelitian dan kreativitas. Apalagi bila editor narasi sejarah dan rewriter - penulis ulang sejarah - sebagai orang upahan -- mengambil formula unik tentang ruang, waktu, tokoh dan karakternya.

Jangankan mengubah atau mengedit narasi sejarah, menulis fiksi sejarah -- salah satu genre sastra yang mengambil cerita, lengkap dengan setting, peristiwa, tokoh dan karakter tokohnya dari masa lalu -- saja, memerlukan detail periode waktu seakurat mungkin untuk keasliannya, termasuk norma sosial, tata krama, adat istiadat, dan tradisi.

Sebutlah sejumlah nama, seperti Sir Walter Scott, Honoré de Balzac, James Fenimore Cooper, dan Leo Tolstoy - para sastrawan dunia yang terbilang sebagai novelis pertama yang mengeksplorasi latar sejarah sebagai konsep dasar karyanya.  Mereka tak bisa mengambil jarak dan lari dari peristiwa dan fakta sejarah sebelum abad ke 19, sebelum era mereka.

Pada masa berikutnya, abad ke 20, ketika genre fiksi sejarah berkembang di Amerika Serikat dengan tema cerita ihwal perang, novel-novel Arundel (Kenneth Roberts) yang berkisah tentang Revolusi Amerika, atau Absalom (William Faulkaner) tentang peristiwa perang saudara di Amerika, tak bisa berjarak dari fakta peristiwa.

Mencermati perkembangan mutakhir dialektika dan adu wacana -- yang selalu terjebak pada sentak sengor, perseteruan emosi yang menanggalkan akal budi -- di berbagai platform media, kita boleh meyakini, sedang terjadi proses editing atau penulisan ulang narasi sejarah.

Kaidah-kaidah penulisan cerita fiksi sejarah mudah tertangkap dari sikap saling ngotot sejumlah pelantang yang menjadi narasumber dalam acara gunemcatur - temu bual (talkshow) televisi atau podcast. Misalnya, ketika membicarakan topik-topik yang dianggap sensi tentang Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, NKRI, Pengkhianatan G30S PKI, dan isu-isu global ihwal radikalisme, terorisme, toleransi beragama, dan lain-lain.

Sentak sengor terjadi, lantaran perbincangan, termasuk format yang disiapkan bersifat konfrontatif, paradoksal, dan tidak mengavcu pada titik temu untuk mencapai harmoni kebangsaan sebagai esensi demokrasi.

Perseteruan wacana tanpa makna yang cenderung merusak -- dan terasa sebagai bagian dari pusaran arus besar penghancuran nalar publik -- selalu dalam bingkai alur perbincangan yang merancukan realita dengan fiksi dalam melihat peristiwa, khasnya peristiwa sejarah.

Alur itu digiring begitu rupa untuk mendapatkan aspek dramatik dengan mencampur-adukkan karakter nyata dan fiksi yang seolah-olah memainkan peran-peran strategis, dengan mengabaikan karakter dari pemeran utama dalam peristiwa.

Dengan subyektivitas (pro dan kontra) dalam memilih perspektif untuk mengenali, dan memahami interaksi tokoh dan karakter dalam peristiwa, termasuk peta friksi dan konflik dalam peristiwa, seringkali bacaan teks dan ketidak-mampuan melihat konteks mengeruhkan informasi.

Semua ini terasakan, misalnya ketika, belakangan mencuat pro kontra ihwal kamus sejarah Indonesia dan berbagai peristiwa sejarah hari kemarin dan hari ini.

Terjadi reduksi dalam peran ulama dalam keseluruhan konteks sejarah perjuangan kemerdekaan, termasuk proses pendidikan karakter kebangsaan - keindonesiaan yang dilakukan HOS Tjokrominoto kepada Soekarno (Bung Karno) yang kemudian menjadi tokoh Nasionalis, proklamator dan Presiden Republik Indonesia I; Semaoen - Alimin - Moeso yang kemudian menjadi tokoh Komunis; dan R.M Kartosoewirjo yang kemudian menjadi tokoh Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Pun demikian ihwal mosi integral Moh Natsir yang menghantar metamorfosa kebangsaan dari Negara Republik Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia - NKRI.

Bila proses editing penulisan narasi -- alih rupa -- sejarah Indonesia terjadi dan merentang jarak dengan fakta peristiwa sejarah, maka kelak akan datang generasi baru yang tak terhubung dengan sejarah bangsanya. Generasi baru yang membaca konvergensi fakta sejarah menjadi fiksi sejarah. Apalagi, bila pelajaran sejarah tak lagi utama dalam sistem pendidikan nasional kita.|

Editor : eCatri
 
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 186
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 673
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1594
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 221
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 211
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 167
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 244
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya