Menanti Peresmian Stadion Internasional Mohammad Hoesni Thamrin Jakarta

| dilihat 406

Catatan Bang Sém

Pembangunan Jakarta International Stadium atau Stadion Internasional Jakarta di kawasan Taman BMW (Bersih Manusiawi ber-Wibawa), Sunter, akan segera rampung. Dalam waktu tak lama lagi, agaknya, akan selesai.

BMW adalah sesanti yang diluncurkan Let. Jend. TNI (Purn) Wiyogo - ketika memangku amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta. Riwayat lokasi stadion di Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok itu, memang dramatis. Sejak era penjajahan dulu.

Kawasan pesisir yang merupakan beranda Jakarta di sebelah utara, memang menyimpan beragam peristiwa dan kisah, yang tak hanya herois, tetapi, bahkan melodius dan romantis. Termasuk, kisah Si Manis Jembatan Ancol.

Lapisan-lapisan perkembangan peradaban Jakarta, juga tersimpan di kawasan yang secara almiah, pada masanya memang menjadi pintu masuk bagi kota ini. Boleh jadi, sejak 3.500 sebelum masehi dan berkembang pada beberapa milenium.

Dramatika historis berkembang sejak era Kalapa, ketika kerajaan Tarumanegara berdiri dan berkiprah di Abad ke 5 Masehi, seperti ditandai oleh prasasti Tugu.

Juga kekuasaan Padjadjaran yang ditandai dengan sasakala Surawisesa, lantas penghadangan dan penaklukan pasukan portugis oleh Pasukan Ceribon - Banten yang dipimpin Fatahillah atas perintah Sunan Gunung Jati. Kemudian penyerbuan dan penguasaan VOC yang dipimpin Jan Pieterzoon Coen dan mengubahnya menjadi Batavia, nama yang mirip dengan nama bagian kota di negara bagian New York Amerika Serikat.

Akan halnya proses pembangunan stadion sepak bola berkelas dunia, di Papanggo - Sunter, yang sekelas dengan stadion San Siero di Milan atau Lipervool di Anfield, Liverpool - Inggris dan lainnya, juga dramatik.

Mulai dari mimpi Gubernur Sutiyoso, lalu mulai diwujudkan oleh Gubernur Fauzi Bowo dan gubernur-gubernur penerusnya. Gubernur Anies Baswedan, melanjutkannya dalam bentuk aksi pembangunan, dengan berbagai tantangannya.

Ada sengketa, ada air mata, ada asa, ada pula sukacita. Pembangunan fisik di mana pun jua, selalu berhadapan dengan ragam peristiwa yang tak selamanya mulus.

Pastinya, stadion internasional, itu kini mewujud nyata, dapat disaksikan oleh mata telanjang, dan 'dirasakan' oleh kedalaman rasa siapa saja.

Stadion olahraga Jakarta International Stadium (JIS) di Sunter, Jakarta Utara itu diharapkan, menjadi tempat pelaksanaan Final Piala Dunia U-20 pada tahun 2022. Berbagai uji fisik dan perangkat stadion ini sudah dilakukan.

Stadion ini, dilengkapi dengan sound system mutakhir, sehingga dapat dipergunakan untuk menggelar konser-konser besar berkelas internasional. Stadion ini juga menggunakan retractable roof atau atap buka - tutup yang akan menguatkan secara optimum sistem akustik gedung ini. Ya.. sekelalah dengan Mercedes-Benz Stadium di Atlanta, Amerika Serikat.

Stadion yang dibangun di atas lahan seluas 22,1 hektar, ini memang dirancang sebagai stadion sepakbola modern tanpa lintasan atletik, dengan kapasitas 82.000 penonton - termasuk 200 tempat duduk untuk kaum difabel, dengan tribun tiga arasy yang dirancang sebegitu rupa, agar penonton merasa dekat dengan agar tetap dekat dengan lapangan dengan hybrid turf, padu padan rumput organik dan rumput sintetis.

Dari yang saya baca melalui media, stadion ini juga dilengkapi dengan fasilitas sky-viewing deck di ketinggian 70 meter. Juga dilengkapi dengan ruang ganti bintang lima, ruang VIP, dan area fasilitas umum dan sosial yang mengutamakan seni, budaya, dan lingkungan. Dua lapangan untuk latihan yang bisa dipakai oleh warga, bahkan sudah diresmikan penggunaannya.

Yang menggembirakan juga adalah, stadion ini menerapkan prinsip pembangunan green building dengan desain tradisi yang ditandai oleh berbagai ornamentasi budaya Betawi. Tak hanya gigi balang yang merupakan ekspresi budaya tempatan. Bila dilihat dari kejauhan, penamapakan stadion ini, mirip dengan (atau memang terinspirasi) dengan ikat kepala khas Betawi, yang mencerminkan keseimbangan nalar dengan nurani, naluri, dan rasa alias kecerdasan akal budi.

Lepas dari itu semua, stadion yang dapat diakses oleh berbagai moda transportasi terintegrasi ini, mengadopsi berbagai anasir dan aspek dari SDG's - konsep pembangunan berkelanjutan.

Merujuk pada paparan dan luahan pemikiran sejarawan Betawi, JJ Rizal tentang sepak bola dalam keseluruhan konteks pergerakan kebangaan Indonesia di Jakarta, dan peran kaum Betawi di dalamnya ( yang tak pernah tergantikan dengan kisah apapun), saya membayangkan stadion megah ini kelak bernama "Stadion Internasional Jakarta Mohammad Hoesni Thamrin."

Nama pahlawan Betawi yang lahir di Sawah Besar, pada tanggal 16 Februari 1894, itu amat dangat layak melekat dan menambah muru'ah stadion ini.

JJ Rizal kerap mengungkap -- dan saya meyakininya -- pejuang pahlawan Betawi Mohammad Hoesni Thamrin, tak hanya sosok yang berkiprah memperjuangkan nasib kaumnya dan nasib rakyat Indonesia lainnya -- bahkan sampai Sumatera, ketika menjadi anggota Volksraad. Allahyarham Hoesni Thamrin juga, sosok yang sangat dekat dengan sepak bola. Rizal mengamsalkan Hoesni Thamrin, perjuangan kebangsaan, dan sepak bola ibarat gigi dengan gusi.

Paling tidak, menurut Rizal dan berbagai informasi literatif, Mohammad Hoesni Thamrin dengan Persija tak bisa dilepaskan satu dengan lainnya. Sejak mula, bahkan sebelum Persija lahir, persisnya pada tahun 1928, kala berdiri Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ).

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang tangkas, menulis di akun instagramnya,"MH Thamrin juga berperan besar dalam sejarah sepakbola nasional, dengan membuat perkumpulan sepakbola Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) dan membangun stadion sepak bola untuk rakyat di Petojo pada 1928. VIJ inilah yang menjadi cikal bakal Persija Jakarta."

Hal itu ditulisnya, terkait dengan Festival Thamrin yang digelar bersamaan dengan hari lahir pejuang pahlawan Betawi, itu di lapangan sdepakbola Petojo VIJ.

Anies kemudian mengemukakan, "Hari ini kita meneruskan semangat perjuangan MH Thamrin. Dimulai dari VIJ dan alhamdulillah kini kita sedang membangun JIS (Jakarta International Stadium). Insya allah stadion berstandar internasional ini bisa membanggakan warga Jakarta dan memberi manfaat bagi semua."

Memperingati 127 tahun lahirnya Mohammad Hoesni Thamrin, adalah juga merayakan peran besar dan jasanya sebagai Bapak Pembangunan Sepak Bola khususnya Jakarta.

Dengan uang dari koceknya sendiri, sekira 2000 gulden, Mohammad Hoesni Thamrin membangun ulang stadion VIJ di Pulo Piun - kawasan Laan Trivelli alias Tenabang, itu yang di masa penjajahan Hindia Belanda, menjadi base camp pesepakbola pribumi. VIJ kemudian berubah menjadi Persija pada tahun 1950.

Di lapangan itulah, Persija memusatkan aktivitasnya, berlatih dan meningkatkan prestasinya.

Stadion VIJ menjadi simbol persaingan dan perlawanan pribumi mengimbangi kiprah NIVB (Nederlandsch Indie Voetbal Bond yang di bentuk tahun 1918) yang anti pribumi yang punya lapangan di  Waterloo Plain alias Gambir. Juga Vios di Menteng. Klub BVC dan Hercules, berlatih pula di Gambir.

Mohammad Hoesni Thamrin mendukung perkembangan VIJ, dan merintis pembangunan stadion di kawasan Petojo, itu setelah mendengarkan sejumlah pemuda Betawi yang merintisnya, Soeri dan Alie.

Dua pemuda Betawi ini menggunakan 'Indonesische Jacatra,' dan ogah menggunakan kata Batavia, sebagai ekspresi kebangsaan dan ke-Indonesia-annya yang kental. Sikap dan spirit ini klop dengan jiwa dan spirit Mohammad Hoesni Thamrin, yang juga penggemar sepak bola. Bahkan mnenjadikan sepakbola dengan nilai sportivitas, kegigihan dalam bekerja keras dan cerdas bersiasah, sebagai salah satu medium perjuangan.

Sikap dan upaya Mohammad Hoesni Thamrin berhasil memikat dan menarik perhatian pejuang lain, seperti Dr. Kusumah Atmadja, Dr. Moewardi, Dr A. Halim (dokter pribadi Bung Karno), Iskandar Brata (tokoh pemuda Sunda di Batavia), dan Mr Hadi (anggota Dewan Kota). Belakangan kepincut juga Soeratin. Belakangan hari, semangat VIJ menginspirasi berdirinya PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).

Dari lapangan stadion VIJ, inilah mentas para bintang sepakbola Indonesia, seperti Roeljaman, Iskandar, A. Gani, Djaimin, Moestari, dan Soetarno. Informasi lain menyebut, Mohammad Hoesni Thamrin sempat memboyong Soekarno selepas keluar dari penjara Sukamiskin - Bandung, melakukan tendangan kick off pertandingan VIJ vs  PSIM.

Tepat yang dikatakan JJ Rizal, dalam diskusi 127 Tahun Mohammad Hoesni Thamrin, “Kalau kita bicara sepakbola Indonesia, tapi nggak bicarain Mohammad Hoesni Thamrin, itu kayak durhaka.” (Selasa, 16 Februari 2021)

Saya tak tahu persis, apakah Pemprov DKI Jakarta (Gubernur, Wakil Gubernur dan DPRD DKI Jakarta) telah bersepakat untuk menamakan Stadion Internasional Jakarta di Sunter itu dengan nama Mohammad Hoesni Thamrin.

Saya hanya ingin meminjam esensi pernyataan JJ Rizal setahun lampau itu, "Kalo ngomongin sepak bola Indonesia dan ngebangun Stadion Internasional Jakarta, nggak ngasih nama Mohammad Hoesni Thamrin, bisa doraka... Kuwalat.."

 

Anak Sunter maén keléréng

Keléréng dibeli di Pasar Méstér

Stadion Internasional Jakarta émang mentéréng

Disebut Stadion Hoesni Thamrin mangkin besetér

***

Tulisan ini merupakan pemikiran dan pendapat pribadi

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 369
Mata Maut
Selanjutnya
Polhukam