Sys NS Lahir – Hadir dan Mengalir

| dilihat 1121

Catatan Obituari N. Syamsuddin Ch. Haesy

RMH Heroe Syswanto NS yang lebih populer dengan panggilan Sys NS, wafat, 23 Januari 2018. Almarhum dimakamkan pada hari yang sama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut.

Sys wafat pada hari yang sama dengan ulang tahun Megawati Soekarnoputri (Mbak Mega) dan Sitti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut).

Kabar ‘kepergian’-nya ke kehidupan abadi itu, disusul dengan gempa bumi 6,1 scala richter yang berpusat di daerah Kabupaten Lebak, Banten.

Rinai hujan, pun membasahi bumi, selepas pemakamannya.

Saya jumpa Sys terakhir, ketika premier film Chrisye yang disutradarai Rizal Mantovani di Epicentrum Theatre – Kuningan – Jakarta, penghujung tahun lalu.

Di film itu, sosok Sys sebagai anak muda kreatif Radio Prambors, ditampilkan perannya. Terutama, inisiatifnya meminta Chrisye menyanyikan Solo, lagu Lilin Lilin Kecil ciptaan James F. Sundah, pemenang LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja) Prambors yang digagasnya.

Di dekade 70-an Sys memang salah satu kreator di Radio Prambors, dia ‘berpisah’ jalan dengan abangnya, RM Heroe Poernomo yang menghidupkan Radio Gembel (Gemar Belajar).

Hubungan Sys tetap karib dengan awak radio anak muda di bilangan menteng, kala itu. Termasuk dengan awak radio Queen, Jalan Halimun, di antaranya Ilham Bintang (kini pemilik Cek&Ricek Group), yang sempat memberi ucapan pelepasan di pemakaman.

Malam usai premier film Chrisye, itu – seperti biasa -- Sys selalu hangat dan menyapa lebih awal, acap jumpa dengan teman-teman. Ia malah mengingatkan isterinya, Shanti – yang kadung jalan duluan – untuk ngobrol sesaat dengan saya, Ferry Mursidan Baldan dan Hanifah (isteri Ferry), sebelum pamit pulang.

Karena berbagai kesibukan, termasuk lokasi kerja yang berbeda, hubungan saya dengan Sys cenderung on and off, seperti sakelar.

Ketika saya memimpin operasi Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Sys memimpin Radio Paramuda. Kami saling komunikasi dan bertukar gagasan untuk mengembangkan programa siaran edutainment.

Tahun 2001 jelang berdirinya Partai Demokrat, Sys giat menghubungi (sekaligus meyakinkan) berbagai teman untuk bersedia menjadi bagian dari 99 pendiri Partai Demokrat, antara lain: Deddy Mizwar, Anwar Fuady, Dindin M. Mafhudz, saya dan beberapa teman lain.

Sys juga yang mengingatkan kami untuk hadir di kantor Ventje Rumangkang – Jl. Haryono MT (seberang Gedung Film) bersama-sama almarhum Ahmad Yani dan para pendiri lain bertemu dengan notaris, kendati – untuk kepentingan efisiensi – kami sudah memberi mandat kepadanya untuk menanda-tangani akte notaris pendirian Partai Demokrat.

Sys juga yang sangat aktif dan gencar menghubungi beberapa teman dari kalangan artis, termasuk pelawak Qomar, aktris Nurul Arifin, almarhum Adjie Massaid, dan lain-lain bersedia menjadi calon anggota parlemen melalui Partai Demokrat.

Sys juga intens berdiskusi dengan semua teman yang kerap nongkrong di studio grafis milik Ghaury Nasution, Jl. Cipaku 21 – Kebayoran Baru, menyiapkan berbagai hal – termasuk mereview Hymne Partai Demokrat yang digubahnya bersama SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).

Dia ‘nongkrongin’ Ghaury membuat standar warna lambang bintang Mercy yang diciptakan SBY, sebagai bagian dari persiapan dokumen menjelang Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden / Wakil Presiden RI pertama tahun 2004.

Sys yang sangat bersimpati dengan SBY kerap menjelaskan sosok SBY kepada semua temannya, khasnya para artis yang bergabung dalam Gabungan Artis Nusantara (GAN) yang didirikannya bersama Deddy Mizwar, Anwar Fuady, Farouk Afero, Roy Marten, Dwi Yan, Camelia Malik, Harry Capri, dan lain-lain.

GAN dibentuk dan didirikan sebagai reaksi atas pemaksaan kehendak monolitik atas PARFI yang menjadikan kongresnya sebagai ajang ‘melanggengkan’ kepemimpinan Ratno Timoer. Sebelumnya, lewat Radio Muara (yang diubahnya menjadi radio dangdut), kami bergantian menjadi penyiar.

Bersama Farouk Afero, Sys meminta saya memandu acara Pawang Cinta, dan bersama Anwar Fuady memandu acara Penyiar Penyair, yang khas menyajikan musik Melayu, puisi dan pantun.

9 September 2003, Sys dan Deddy Mizwar membawa sejumlah artis (termasuk Tetty Liz Indrtiati dan Dorce Gamalama) ke kediaman SBY di Puri Cikeas, memperingati ulang tahun SBY. Malam itu, sebelum Ebiet G. Ade mendendangkan beberapa lagunya, Sys membacakan puisi yang saya tulis, bertajuk Satria.

Lewat puisi dan ungkap aspirasi para artis, Sys dan Deddy Mizwar, di hadapan pengurus DPP Partai Demokrat ‘mendesak’ SBY untuk mau bertandang di Pemilihan Presiden/Wakil Presiden 2004. Kala itu, SBY masih menjabat Menko Polhukam.

Sys senang hati, ketika SBY – JK (Jusuf Kalla) akhirnya bertanding dan memenangkan Pilpres itu. SBY - JK diusung Partai Demokrat (dipimpin Prof. Budi) – Partai Bulan Bintang (dipimpin Prof. Yusril Ihza Mahendra) dan Partai Keadilan Persatuan (dipimpin Jendral Eddy Sudrajat).

Ketika Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid I sedang disusun, hampir setiap malam Sys dan kawan-kawan kongkow di Hotel Ambhara – Blok M. Ia agak kecewa ketika tak seorangpun yang mengontaknya. Sys menyampaikan pernyataan keras kala itu.

Pernyataan itu diterima keliru oleh banyak kalangan Partai Demokrat, seolah-olah Sys ingin masuk dalam kabinet. Padahal tidak begitu. SYS hanya ingin, SBY memilih kader-kader Partai Demokrat yang mumpuni untuk beroleh amanat di kabinet SBY. “Gue mau kinerja SBY bener-bener hebat,” katanya suatu malam.

Sys kemudian mengekspresikan pikirannya. Dia ingin menjadikan Partai Demokrat sebagai partainya anak muda. Sebagai orang yang pernah sukses mempengaruhi anak muda, lewat kegiatan Bursa Orang Muda (BOM) di balai Sidang Senayan – Jakarta beberapa kali, Sys ingin anak muda punya kesadaran berpartai untuk meneruskan perjuangan para founding fathers bangsa ini.

Ini yang memotivasinya maju dalam Kongres I Partai Demokrat di Bali. Sys mempersiapkan diri, termasuk menerbitkan Pop Biografi dan Kreatografi dirinya bertajuk Sys NS – Yesterday – Today – Tomorrow.  Dia menulis buku ini bersama saya dan sangat rewel mensupervisi desain buku yang digarap Ghaury Nasution. Sys mengatakan, ide menulis buku ini disarankan sahabatnya, Zulkifli Akbar. Di hotel Ambhara, suatu malam kami pun mendiskusikan format dan isinya yang harus beda dan sungguh mencerminkan watak dan karakter Sys. Menjelang akhir proses pra cetak, Sys mengetik sendiri nama Zul, Ghauri dan nama saya sebagai penggagas penerbitan buku itu, di komputer desain.

Buku yang diterbitkan Gramedia itu akhirnya diluncurkan di X Theatre – Jl. Thamrin, dihadiri berbagai tokoh artis dan mantan aktivis, antara lain Tony Ardie dan Eggy Sudjana.

Tapi di medan Kongres – Bali, dia mendapat tugas membenahi – sekaligus menyelesaikan masalah – DPC-DPC ganda untuk menghindari kekisruhan kongres. Sys abai, ketika dia sedang sibuk mengurusi berbagai masalah itu, seluruh agenda persidangan sudah berlangsung.

Sys semakin kecewa, ketika dia menyaksikan, selepas itu banyak sekali ‘anak-anak kos’  yang masuk dan ‘menguasai’ Partai Demokrat. Beberapa waktu kemudian, dia mendirikan Partai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), tapi gagal verifikasi, karena istilah NKRI tak boleh dipakai untuk nama partai.

Sys kemudian berkiprah kembali di jalur kreatifnya: radio, sinetron, film, dan TV program. Karya kreatifnya kemudian menghiasi layar Metro TV, SCTV, dan TVRI. Filmnya bertajuk Salah Body, yang menggambarkan dampak sosial religius LGBT (Lesbianisme, Gay, Biseksual, dan Transgender) di tengah masyarakat, sempat populer dan jadi perbincangan hangat.

Sys tak berhenti berkreasi, sampai akhirnya Allah, Sang Maha Kreator ‘memanggilnya’ pulang. Semoga Sys husnul khatimah.

Saya mengenang Sys, sebagai salah seorang kreator yang tak pernah berhenti berkarya, dan tak pernah kehabisan ide dan inisiatif untuk berkarya. Termasuk memotivasi dirinya dan keluarganya untuk tak pernah berhenti mengaji.

Sys seperti air yang lahir – hadir dan mengalir, sampai ke muara-Nya. Karya-karyamu, abadi.. sobat.|

Editor : sem haesy | Sumber : bibliografi pribadi
 
Seni & Hiburan
10 Jul 18, 10:28 WIB | Dilihat : 583
Anggi.. Lepaskan
09 Jul 18, 16:34 WIB | Dilihat : 667
Ketika Polisi Berpuisi di Watulumbung
26 Jun 18, 11:26 WIB | Dilihat : 1255
Percakapan di Lereng Bukit
19 Jun 18, 15:10 WIB | Dilihat : 690
Gegauan Sate Buntel
Selanjutnya
Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 269
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 251
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
24 Jun 18, 12:18 WIB | Dilihat : 946
Betawi Kembali ke Laut Arungi Tantangan Masa Depan
20 Mei 18, 22:08 WIB | Dilihat : 4570
Abah Iwan Dian Tak Pernah Padam
Selanjutnya