Menonton ILC dan E Talkshow dengan Persepsi Komedi

| dilihat 398

Sém Haésy

Sejak beberapa tahun terakhir saya membatasi hanya menonton TV-One, hanya sekali-sekala menonton siaran televisi lain dengan programa siaran terpilih.

Itu pun hanya Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu Karni Ilyas dan E-Talkshow yang dipandu Wahyu Muryadi. Saya menonton ILC dan E-Talkshow karena di situlah saya melihat Indonesia lengkap dan dimensional.

ILC agaknya membiarkan dirinya menjadi panggung untuk belajar, melihat "siapa yang mengatakan, apa juga yang dikatakan." Akan halnya di E-Talkshow merupakan panggung 'insani' bagi para figur prominen negeri ini.

Bagi saya, kedua-duanya merupakan programa komedi yang memikat. ILC, bagi saya adalah Indonesia dark commedy tv show, sedang E-Talkshow merupakan lite commedy tv show. Keduanya, lagi-lagi untuk saya, merupakan jendela untuk melihat Indonesia, semua bergantung kita memperlakukan jendela itu.

Banyak sahabat muncul menjadi tamu dan pembicara di kedua programa siaran televisi itu. Karni Ilyas telah memainkan peran sebagai host yang sebenarnya. Memberi ruang luas kepada khalayak pemirsa untuk melihat, menilai, dan merasakan bagaimana realitas Indonesia. Terutama, karena topik yang diangkatnya merupakan 'realitas pertama' yang diangkat ke pentas 'realitas kedua.'

Karni Ilyas sebagai jurnalis utama (bagi saya tak ada jurnalis senior dan yunior, yang ada hanya jurnalis utama - jurnalis madya - jurnalis - jurnalis muda), yang menghadirkan acara itu secara merdeka -- kebebasan yang dibatasi oleh etik dan conduct. Pun demikian dengan Wahyu Muryadi.

Tentu, pandangan dan sikap saya tak akan sama dengan pandangan dan sikap orang lain menonton acara itu. Seperti sidik jari, soal selera humor, tak ada yang sama persis antara seseorang dengan orang lain.

Acap menonton ILC, saya sering mengharapkan beroleh surprise, seperti ketika Hillary Clinton menirukan suara kelinci, ketika diminta berkomentar tentang Donald Trump, tawa tipis sekejap a la Barack Obama ketika merespon komentar Romney, atau satire singkat a la Le Pen sambil menjentik rambut dan tawa menyamping menanggapi Macron mengurai pikirannya dengan gestur yang serius. Tapi, sampai hari ini belum kesampaian.

Umpan yang dilontarkan Rocky Gerung (RG) dengan soft satire-nya, masih bagai 'umpan di air keruh.' Tarian retorika yang tangkas dan ritmik, bergerak antara model retorika Cicero dan Aristopanes atau sekali sekala dengan gaya slaps (menampar), tak beroleh sandingan yang seimbang. Yang sering memicu rising action, lawan bicaranya, justru soal-soal elementer yang dilontar RG.

Pun demikian halnya dengan Fahri Hamzah merupakan 'sisi mata uang' lain dari RG dalam menggunakan model retorika Cicero dengan 'staccato speech' tak beroleh respon tepat pada substansi yang pas.

Saya membayangkan, bila Karni Ilyas menghadirkan Hamid Basaib sebagai lawan bual RG dan FH di ILC, sehingga programa itu tambah memikat.

Dengan sikap Karni Ilyas selama ini, juga kehadiran Mahfud MD, Salim Haji Said, sekali-sekala, Harris Azhar, Daniel A. Simanjuntak, dan Yusril Ihza Mahendra dengan 'propriety speech' Mahfud MD boleh dipastikan akan sangat membantu pemirsa menyerap substansi atau tema perbincangan dalam gunemcatur itu.

Dalam situasi underpressed dan pressed, ketika berbagai kekecewaan dalam realitas kehidupan pertama banyak menawarkan kecemasan, ILC dan E-Talkshow menjadi ruang katarsis yang pas.

Dimensi komedi dalam ILC menarik dan menghibur, karena terjadi split logic dan 'perbedaan sabuk' -- meminjam istilah seni beladiri -- ketika pemikiran RG di ILC dilaporkan ke polisi. Pun, karena terjadi perbedaan kematangan berfikir dan pengetahuan.

Ketika ILC (Selasa, 5/2/19) berakhir, ada pesan yang setara dengan nasihat Caitlin Morley, "do not fear maturing, do not think it will change who you are. Rather embrace the process of meeting the best side you."  Jangan takut menjadi dewasa, jangan berpikir itu akan mengubah siapa Anda. Melainkan, merangkul proses bertemu sisi terbaik Anda.

Walaupun kedewasaan (termasuk dalam berfikir) tidak identik dengan pengetahuan, tapi seringkali ketidak-dewasaan dan keterbatasan pengetahuan akan tertampak saat bertindak terlalu riuh dan tidak mampunyai jawaban yang merepresentasikan keseimbangan nalar dan naluri, karena didominasi oleh tendensi dan emosi.

Apa yang tampak, terdengar dan terasakan dalam dialog di ILC, tak bisa dilihat hanya dengan satu sisi pandang atau sudut pandang tertentu. Pandangan dan pemikiran yang terasa sebagai kontra argumen atau 'attacking mind' mesti dijawab dengan ketangkasan berfikir melalui argumen-argumen rasional.

Dialektika kecerdasan dengan kecerdasan dalam perbedaan yang paling ekstrim sekalipun, akan membawa berkah, karena akan membuka pintu untuk melihat panorama pemikiran yang kian luas.

Di E-Talkshow kita beroleh sesuatu yang lain, yang lebih segar dan menghadirkan lite commedy yang mencerdaskan. Saya merasakan manfaat talkshow ini, persis seperti yang dikemukakan ahli saraf kognitif Scott Weems, Ph.D., yakni, "orang yang terpapar dengan komedi lebih mampu memecahkan masalah kreatif."

Baik ILC maupun E-Talkshow dalam konteks keberadaannya sebagai komedi spot,  meminjam pandangan Weems, seperti latihan mental, yang memompa pikiran." Sering-sering menonton komedi macam begini, bisa memicu antusiasme untuk berkontribusi dalam proses mencerdaskan bangsa.

Bila tidak, seperti pernah dikata Bung RG, bisa-bisa kelak ada catatan sejarah yang buruk: menurunnya kecerdasan bangsa pada suatu episode perjalanan bangsa. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Humaniora
17 Jun 19, 19:03 WIB | Dilihat : 294
Benahi Minda, WAG Cerdas
13 Jun 19, 17:31 WIB | Dilihat : 256
Integritas Syeikh Abdul Qadir Jaelani
01 Jun 19, 16:05 WIB | Dilihat : 675
Selamat Menjumpai Sumber Kebajikan, Bu Ani
Selanjutnya