Obituari

Mengenang Gugum Gumbira Sang Maestro dan Inspirator

| dilihat 233

Gugum Gumbira wafat. Jagat seni pertunjukan berbasis seni tradisi, lagi, kehilangan sosok pejuang seni yang tak kenal lelah berkreasi (Sabtu, 4/01/20), pukul 01.59 wib, di kamar nomor 875, Rumah Sakit Santosa, Bandung.

Bagi Prof. Dr. Endang Caturwati, guru besar seni pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), selain kehilangan seorang maestro, kita juga kehilangan seorang inspirator bagi para koreografer untuk berkreasi dan berkarya secara konsisten.

Siaran pers keluarganya menjelaskan, masuk ke rumah sakit, sejak terjatuh dan tidak-sadarkan diri pada Selasa (31/12/19), siang hari.

Karena pasien penuh, akhirnya allahyarham dilarikan keluarganya ke Instalasi Gawat Darurat - Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Di rumah sakit ini, allahyarham diperiksa dengan citiscan.

Rabu, 1 Januari 2020, keluarga membawanya pulang. Namun di perjalanan, beliau sesak nafas. Keluarga kemudian memutuskan allahyarham dirawat di Cardio Vasculer Unit (CVCU) RS Santosa.

Setelah dirawat selama dua hari, kondisi kesadaran beliau mulai berkurang. Jum'at (3/1/20) dipindah ke ruang rawat inap dan mulai tidak-sadarkan diri. Kondisinya terus menurun, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Ayah empat anak, sepuluh cucu, ini dikenal sebagai seorang maestro tari yang menciptakan tari Jaipong yang sangat fenomenal dan populer, sehingga melintasi wilayah budaya nasional.

Seniman kelahiran Bandung, 4 April 1945 ini, bagi Endang Caturwati, yang juga penari, koreografer, peneliti dan dosen tari generasi berikutnya, sangat mengapresiasi dan respek kepada Gugum. Hubungan Endang dengan almarhum dan sesama seniman tari, ronggeng, sinden, dan penyanyi memang dekat secara personal.

"Almarhum merupakan inspirator bagi para koreografer tari Jaipongan  untuk membuat tarian dari genre (Jaipongan) yang dikreasinya,"tutur Endang yang sejak pagi sudah berada di rumah duka, dan mengantarkan ke peristirahatan terakhir almarhum di kampung Cipadaulun, desa Wangisagara, kecamatan Pacet, Majalaya - Kabupaten Bandung.

"Saya sangat bersedih mengenang jasa beliau. Entah sudah berapa banyak sinden, seniman, penari, dan pengendang tari Jaipongan yang mengalami perubahan nasib menjadi sangat baik secara sosial ekonomi dari ikhtiar beliau mengembangkan Jaipongan," ungkap Ketua STSI Bandung (2012-2013), Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfileman (2013) dan Direktur Kesenian (2015) - Ditjend Kebudayaan - Meneterian Pendidikan dan Kebudayaan), ini.

Bersama Arthur S. Nalan, dan Lalan Ramlan, Endang sempat menulis buku tentang almarhum, bertajuk, "Gugum Gumbira dari Chacha ke Jaipongan."

Menurut Endang, Jaipongan sebagai salah satu masterpiece almarhum, selain menginspirasi penari dan koreografer, juga pengendang. Tak hanya di Jawa Barat, tetapi juga di basis-basis seni Ronggeng, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur (terutama Banyuwangi).

Dari berbagai data yang terhimpun di berbagai dokumentasi, tercatat, ketika pertamakali Jaipongan dipresentasikan dan populer, karya almarhum sempat dipandang negatif. Bahkan, pada dekade 80-an di Jawa Barat sendiri sempat Jaipongan dianggap tak layak ditampilkan di acara-acara resmi pemerintah. Padahal almarhum merupakan karyawan Pemerintah Kota Bandung, dari sebelumnya pegawai di Kementerian Keuangan.

Pasalnya? Menurut Endang, yang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Gajah Mada - Yogyakarta ini, Jaipongan dianggap sebagai ekspresi seni sensual dengan penari bertubuh sintal yang identik dengan 3G (goyang, gitek, dan geyol), dan dianggap mengeksplorasi bagian-bagian sex appeal tubuh perempuan.

Padahal, menurut Endang, seluruh gerakan dalam Jaipong adalah gerakan integral seluruh tubuh, yang memang tak bisa dipisahkan dari sosok Ronggeng. Ronggeng sendiri, baik sebagai seni maupun sebagai sosok penarinya, dianggap miring dan diperlakukan secara diskriminatif.

Pro dan kontra berkembang dan memicu polemik sejak masa kepemimpinan Gubernur H. Aang Kunaefi sampai Gubernur Ahmad Heryawan. Bahkan melibatkan Menteri Informasi dan Komunikasi, Tifatul Sembiring, yang menyebut Jaipong sebagai tari erotis.

Endang Caturwati menyanggah sang Menteri yang suka berpantun itu. Endang mengatakan, "Jaipong bukanlah tari erotis. Dari sisi sejarah, bahkan jaipong tidak identik dengan tempat-tempat kurang baik."

Sebagai peneliti sejarah seni, ketika itu, Endang tegas menyatakan, "Jaipong adalah tarian kreasi seniman Gugum Gumbira yang diramu dari tari ketuk tilu dan pencak silat. Gugum ingin meramu seni-seni rakyat di kalangan bawah agar bisa ditampilkan di kalangan elit. Jaipong bukan tari hiburan, melainkan tari tontonan."

Dengan ekspresif, Endang mengatakan ketika itu (Februari 2009), "Harus bisa membedakan antara sejarah dan ekses. Ekses pun tidak hanya terjadi pada jaipong tapi bisa terjadi di mana saja. Jangan terburu-buru buat statement."

Menurut almarhum sendiri, tarian Jaipongan yang berkembang kemudian, sampai kini, sudah mengalami pergeseran dan tidak mengeksplorasi sensualitas sebagaimana dipikirkan banyak orang.

Gugum yang bernama lengkap Gugum Gumbira Tirasondjaja, yang sempat menjadi mahasiswa jurusan Sosial Politik Universitas Padjajaran, ini memang sosok seniman yang mempunyai dayacipta khas. Berbeda dengan seniman tari lainnya.

Jaipongan dia kreasikan sebagai pengembangan inovatif dari tarian tradisi yang berkembang di pesisir utara Jawa Barat, khususnya Karawang dan Subang, meski sebenarnya yang digali adalah format tarian Ronggeng, termasuk Cokek (Tangerang), Tayub (Jawa Tengah), Seblang dan Gandrung (Banyuwangi - Jawa Timur). Tarian ekspressif masyarakat pesisir. Bahkan almarhum menguatkannya dengan tarian Ronggeng Gunung.

Kreativitas tari yang dilakukannya, dilakukan sebagai respon aktif atas perkembangan seni tradisi dan ragam tarian etnik yang merebak, sejak dekade 60-an, ketika Bung Karno membatasi tampilan seni dari Barat. Berbekal dengan pengalaman dan pengetahuan tentang seni tradisi inilah, dia mengkreasikan dan mengembangkan Jaipongan.

Popularitas Jaipongan menggugah almarhum untuk mengembangkan Padepokan Jugala yang dibangunnya bersama Euis Komariah, istrinya. Empat anak-anaknya, terutama Mira Tejaningrum menjadi penari dan koreografer untuk kelompok tari Jugala.

Tak hanya itu. Almarhum juga mengembangkan rumah produksi perekaman musik dan lagu-lagu Jaipongan dengan nama sama, Jugala - di Kopo, Bandung.

Gugum yang populer pada dekade 70-an, itu kemudian menjadi salah satu pengajar luar biasa di lingkungan STSI/ISBI Bandung. “Di tahun 1961, Presiden Soekarno mulai membatasi budaya asing termasuk musik-musik barat. Saat itu, beliau justru mendorong seniman tradisional mau menunjukkan ragam tarian etnik dari daerah-daerah di Indonesia, di tingkat internasional”, terangnya.  

“Dengan berbekal pengetahuan seni tradisional inilah, gerak tari Jaipong akhirnya tercipta”, kata Gugum.

Menurut almarhum, Jaipongan adalah tari kreasi moderen. Gerakannya diramu dari berbagai tari tradisional dalam suatu formula kesatuan gerak tubuh, seperti dikemukakan Endang.

Almarhum adalah pekerja keras dan tak pernah henti belajar. Bahkan pada dekade 90-an dia masih belajar tari Ibing Keurseus, Topeng Ceribon, Topeng Banjet, dan lain-lain, yang menghasilkan karya koreografi, seperti,  Keser Bojong, Rendeng Bojong, TokaToka, dan Sonteng. Jugala yang dipimpinnya berulang kali pentas di luar negeri, termasuk di Belanda.

Almarhum selalu hadir dan aktif dalam berbagai pasanggiri Jaipong, juga mengisi berbagai workshop tari.

Endang Caturwati dalam kapasitasnya sebagai alumni UGM, memfasilitasinya tampil dalam forum akademik di hadapan para gurubesar, dosen dan mahasiswa di Universitas Gajah Mada. Sebagai bagian dari komitmen untuk berbagi Ilmu hasil penelitian Ronggeng dengan menghadirkan langsung seniman fenomenal, yang mengangkat tarian Ronggeng menjadi tarian artistik dan disukai berbagai kalangan.

Endang juga memfasilitasi Kang Gugum tampil di ISI (Institut Seni Indonesia) dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ketika itu (2007), bahkan Ratu Pembayun ikut ngibing bersama.

Ketika menjabat Direktur Kesenian, Endang mengundang almarhum sebagai pembicara dalam kegiatan Penyuluhan Seni: "Temu Ronggeng Nusantara," di Kuningan (7/12/15). Dalam forum itu, almarhum mempresentasikan genre baru Jaipong, Jalak Ngejat.

Dalam temu Ronggeng Nusantara, itu mengemuka pandangan almarhum, menjadi ronggeng itu tidak mudah.

"Ronggeng tidak identik dengan hal-hal negatif. Ronggeng bukan hanya seorang penari dan penyanyi. Juga merupakan kreator," ungkap almarhum.

Jadi, menurut almarhum, tidak benar, ronggeng identik dengan hal-hal di luar moral yang ada.

Banyak kalangan yang kehilangan almarhum. Yayat Hendayana, budayawan Jawa Barat, menyesal tak sempat menengok almarhum ketika di rumah sakit.

Yayat yakin, sepeninggal almarhum, Jaipongan akan terus berkembang, karena intens dilanjutkan oleh anak keturunannya.

Menurut Endang Caturwati, almarhum dimakamkan di sebelah makam mendiang isterinya dalam areal pemakaman keluarga.

"Banyak kenangan baik dari almarhum. Saya beruntung bisa menjadi mitra kreatif beliau dan karibnya, Tati Saleh," kata Endang, yang merasa kehilangan. Tapi, dia ikut bangga, salah seorang penari yang pernah dilibatkan almarhum muhibbah ke luar negeri, Dr. Hj. Een Herdiani menjabat Rektor ISBI Bandung.. | Bang Sem

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber, foto-foto ECW, Youtube, dan lain-lain
 
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 441
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 178
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 196
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 945
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1395
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 569
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 993
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya