Membuka Topeng Via Lenggok Kepayang Risyani

| dilihat 150

catatan Sèm Haèsy

 

nasihat siang

jogedan yuyu miring

tak boleh rakus

Haiku ini menghentak. Ujung jari telunjuk guru pemandu observasi saya tentang Topeng Ceribon, menunjuk haiku ini.

Kami sedang diskusi tentang kontradiksi -- kalau tak mau dibilang paradoks -- realitas pertama dan realitas kedua kehidupan penari topeng, dan ronggeng pada umumnya, yang menimbulkan pola kompetisi tak elok antar sesamanya.

Tapi, kata pemandu observasi saya tentang tari, itu haiku karya Risyani, yang terpumpun dalam buku haiku bertajuk Lenggok Kepayang, juga cermin realitas di 'jagad kesenian' yang lebih luas.

Inilah yang dalam teori imagineering disebut sebagai kontradiksi antara intuitive reason dengan way of creation, alasan intuitif versus cara berkreasi.

Faktor yang mempengaruhinya banyak. Antara lain, kesenjangan sosial ekonomi, pengetahuan, dan kuatnya pengaruh patronase dalam relasi sosial di lingkungan pelaku seni tradisi.

Daya patron, ditampakkan haijin Risyani dalam haikunya yang lain: kendang ditepak / dalang rancak bergoyang / siang semarak

Berulangkali saya baca haiku yang terdapat dalam buku pumpunan berisi seratus haiku ini.

Yang menarik adalah bagaimana Risyani dengan talenta 'ilmu pasti' yang mendalami seni tari dan fokus pada tari Topeng Cirebon, menangkap berbagai idiom imaji dan melontarkannya kembali ke dalam beragam haiku yang ekspresif.

Dia tak lari dari habitusnya sebagai penari yang terikat dengan artistika, estetika, dan etika. Yang menarik perhatian saya adalah, hampir semua haikunya yang mengambil obyek dunia tari, mempertahankan perspektif etika sebagai nilai. Risyani tak terjebak untuk 'ikutan mereduksi' etika hanya sebagai deskripsi karya figuratif, obyek yang dilihatnya, seperti asumsi Pierre Fancastel (Anales, 1961)

Sejumlah haiku Risyani yang terkelompok di bukunya dalam Haiku Rumyang, mentransfer imajinya melalui pilihan ekspresi hemat kata, secara petitif sekaligus mencitrakan prinsip seni. Yakni, membuka pandangan pembacanya, untuk memanifestasikan, dengan cara yang tepat, serangkaian nilai yang hanya dapat dipahami dan dicatat melalui sistem pengetahuan dan aktivitas yang otonom.

Risyani menulis : menebar sumping/tujuh belas roncean/pagi pun berkah (#73); jogedan rumyang/berkedok sejak pagi/laku samaran (#74), sang bango ngebak/laut berpagar wadas/pagi bersolek (#76).

Dalam konteks antropografi berpijak pada tautan sosiologis lingkungan sosial masyarakat yang terikat kuat pada patron traditional authority relationship a la Geertz, Risyani aksentuatif mengungkapnya lewat haiku (#75):

menjelang siang

rumyang ganjen melenggang

ragu dan bimbang

Haiku ini terkorelasi (setidaknya terkoneksi) dengan haikunya yang lain: sepanjang hayat/cita setinggi langit/menjangan ranggah (#66), siang benderang/pentul berkhayal sugih/meminjam kain (#69).

Konsistensi Risyani dalam konteks etik, mengunci : rumyang ganjen melenggang, dengan haikunya kemudian (#80) : kumandang adzan/segar pancuran surau/hening sejenak. Juga dengan: yang bersih hati/pagi menuju bumi/mengasuh panji (#72).

Sejumlah haiku karya Risyani yang terpumpun dalam Haiku Lingkungan, relevan menjadi referensi untuk melihat bagaimana realitas pertama para penari topeng dan ronggeng yang termarginalisasi oleh percepatan 'pembangunan.'

Saya menemukannya dalam haiku, yang dramatik, seperti: panji yang khusyuk / kembang sungsang merangsang / riuhnya hening (#48); pagi menghentak/gelora kembang sungsang/naik dan turun (#52). Idiom kembang sungsang di lingkungan orkes melayu masa lampau dan 'dangdut pesisir masa kini' disebut 'kembang latar.'

Kembang sungsang atau kembang latar sebagai idiom, memberi bold, atas ketersisihan para penari topeng dan ronggeng. Terutama oleh berlangsungnya bias gender dalam waktu yang lama. Tertekan oleh dominansi lelaki atas perempuan, yang berujung pada eksploitasi fisikal dan bukan eksplorasi potensi perempuan.

Sebab utamanya adalah lingkungan sosial yang tak sehat, tak cerdas, dan tak mampu secara ekonomi. Saya menangkap gambaran itu pada haiku-haiku ini: awali hari/ijab sang dalang topeng/tidak bergerak (#46); di lengkung pagi/pengendang pun setia/igel pengeprak (#45).

Gambaran sosiologis yang tersimpan di balik haiku-haiku ini, merupakan refleksi aktual kondisi masyarakat pesisir Jawa, khasnya kaum perempuan, yang terkepung oleh paradoks 'kekayaan alam' dengan kemiskinan struktural.

Kemiskinan struktural masyarakat pesisir adalah potret paradoks kekayaan sumberdaya alam - laut (Zuzy Anna,2019), yang menyebabkan masyarakatnya -- termasuk di pegunungan, terjebak oleh dutch deseas (Fauzy,2011). Kemiskinan struktural dan kultural yang persisten (Endang Caturwati,2006-2008).

Dampak dari realitas sosial pertama itu, tercermin dalam haiku Risyani : panggung perdana/saweran berhamburan/riuhlah malam (#19).

Dalam konteks itu, upaya mengangkat harkat dan martabat para penari topeng dan ronggeng, mesti melalui jalur pendidikan. Penguatan keterampilan dan religi (Endang Caturwati, 2019). Seperti tergambar dalam haiku Risyani: menimba ilmu/tak lekang oleh waktu/semat di hati (#20) dan nasihat guru/endap di sanubari/sore bermakna (#21)

Dalam dimensi budaya realitas hidup penari topeng dan ronggeng tak terpisahkan dari keseluruhan konteks eksistensi kesenian itu. Menguatkan nilai atas dimensi artistik dan estetiknya.

Risyani lugas menyampaikannya dalam haikunya: gong kabuyutan/pusaka lebak wangi/mauludan suci (#2) dan pencak dan ngibing/berlatih tiap pagi/mengolah jiwa (#9).

Membaca Jiwa Tarian Haiku, Lenggok Kepayang Risyani, saya mendapat titik berangkat, untuk menguatkan padupadan imagineering dengan sejarah tari dan visioneering seni pertunjukan. Membuka pintu masuk mengenali realitas seni tradisi (khasnya topeng dan ronggeng) di antara dua sudut pandang: globalisasi dan glokalisasi.

Saya perlu mengulik haiku karya Risyani dengan perspektif 'penggali sumur.' Khasnya, untuk beroleh dimensi kedalaman manusia dan nilai yang mengelilinginya. Mempertemukan ruang empiris dan pengetahuan tentang seni. Khasnya untuk menemukan kembali hakikat seni. |

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 945
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1395
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 569
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 993
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Jan 20, 20:51 WIB | Dilihat : 198
Epos Perubahan Berbasis Modal Insan
14 Jan 20, 13:20 WIB | Dilihat : 147
Produktivitas Tak Lepas dari Iptek dan Manusia
06 Jan 20, 11:46 WIB | Dilihat : 184
Menggambar Gajah Membayangkan Ular
03 Jan 20, 21:48 WIB | Dilihat : 99
Langkah Awal Transformasi
Selanjutnya