Manifesto Arus Seni Rupa Kontemporer

| dilihat 3869

AKARPADINEWS.COM | PERJALANAN seni rupa Indonesia memiliki pengalaman historis yang panjang. Pada masa Hindia Belanda, Raden Saleh menjadi perintis seni lukis Indonesia. Meski dipengaruhi gaya romantisme khas Barat, namun dia tidak luput mengekspresikan rasa nasionalismenya dalam berkarya.

Di masa revolusi, S Sudjojono yang dinisbikan sebagai bapak seni rupa kontemporer Indonesia mengungkapkan kredo jiwa ketok (jiwa yang nampak) sebagai hakikat untuk memperlihatkan jiwa seniman sesungguhnya. Dia menentang gaya lukisan mooi-indie yang hanya memberikan sentuhan keindahan alam.

Sudjojono membangkitkan arus baru seni rupa Indonesia dalam falsafah dan hakikat yang baru. Tujuannya, agar seniman dapat  memiliki kesadaran akan realitas sosial dan politik.

Selanjutnya, di era 1970-1990-an, muncul pengetahuan baru pada perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Gerakan seni rupa baru Indonesia ditandai dengan perubahan penggunaan istilah “seni rupa” menggantikan “seni lukis”. Seniman sebagai pelakunya pun menggunakan istilah “perupa” bukan pelukis.  Para seniman tidak lagi hanya menggunakan kanvas sebagai media berkarya.

Sejumlah karya non-lukisan mulai menjadi media eksplorasi perupa seperti instalasi, video dan performance art. Beberapa pameran mulai menggunakan “kurator” untuk merumuskan wacana, pemilihan, dan penyajian karya dalam pameran.

Arus perkembangan dari seni rupa baru pun makin menjalar. Seni rupa sebagai media keterlibatan sosial, lingkungan, dan komunikasi, merepresentasikan realitas dan tak lepas dari gairah media eksperimental.

Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia Manifesto V berjuluk Arus yang digelar 4-30 Mei 2016 di Gedung A, B, dan Outdoor Galeri Nasional Indonesia, melibatkan 35 perupa dengan 35 karya, di mana sebagian besar para seniman ini menjadi bagian dari gerakan seni rupa baru Indonesia.  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, saat pembukaan pameran menyebut mereka sebagai maestro seni rupa kontemporer.

Para seniman yang bermukim di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Jawa Tengah ini, memang pernah berjaya pada periode 1980-1990-an. Kreatifitas, intensitas, dan kiprah mereka di kancah seni rupa dikenal hingga ke mancanegara. “Ada satu periode di 1990-an, di mana seniman-seniman ini mencapai estetika, pergaulan, kreativitas, teknik, medium-medium, simbol dan tema yang dianggap sebagai tokoh-tokoh seni rupa yang monumental” ujar Rizki A Zaelani, korutor pameran, saat press tour. 

Sedangkan Asikin Hasan yang juga kurator pameran menyebut, sebagian besar perupa yang terlibat dalam pameran ini merupakan generasi yang tumbuh di antara era 1980-an dan 1990-an serta sebagian kecil generasi di era tahun 2000-an.

Mereka berorietasi pada karya seni yang berpihak, dengan membawa pesan moral, sosial dan kebaikan bagi masyarakat. Hal itulah yang dianggap sebagai arus yang terus bergerak dalam diri seniman, dari dulu hingga sekarang, yang mampu mendorong perubahan, baik secara personal, sosial, maupun kultural.

Pameran Manifesto, pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008 saat peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional (HKN). Tradisi pameran ini diselenggarakan setiap dua tahun sebagai pencerminan perkembangan seni rupa Indonesia.

Di tahun ini, 35 karya seni rupa kontemporer yang ditampilkan berupa lukisan, patung, objek, fotografi, seni rupa instalasi, seni rupa video, serta mural yang sebagian besar dalam kurasi merupakan hasil karya terbaru.

Digelar pula seminar mengenai arus seni rupa di aras moralitas pada Jumat (20/5) pukul 13.00 di Galeri Nasional dengan narasumber Bambang Sugiharto, Nirwan Dewanto, dan ST Sunardi. Subjek penting dalam karya-karya pameran ini berbicara tentang isu sosial, politik, kemanusiaan, tradisi, lingkungan, gender hingga self portrait (potret diri).

Memasuki pintu depan pameran, pengunjung disambut karya instalasi media terbaru dari seniman Heri Dono berjuluk The Last Protectors. Empat patung perempuan tua terlihat siap bertempur. Tampilan visualnya terlihat “nyentrik” dengan sanggul yang dipadukan kacamata di atas kepalanya dan menggunakan kebaya dari bahan-bahan recycle seperti plastik bekas dengan warna dan bentuk dinamis.

Masing-masing dari perempuan itu membawa senjata, ada yang diangkat hingga siap menembak. Instalasi ini melebur dengan kelap-kelip lampu dari tubuh para ibu dan suara senjata. Heri Dono menjadikan para ibu tua ini sebagai metafora penjaga terakhir yang dapat memproteksi kerusakan lingkungan.

“Bermula dari keprihatinan dari barang-barang plastik dan sampah,” tutur seniman lintas media yang bermukim di Yogyakarta. Karya The Last Protectors lalu berkembang untuk menyuarakan persoalan kerusakan lingkungan, produk-produk yang dimonopoli perusahaan multinasional, bahkan hingga penyedap rasa masakan. “Ini adalah ironi bangsa kita, sekaligus mempertanyakan kepedulian Indonesia,” ungkap seniman kosmopolitan yang sering lalu lalang menggelar pameran di luar negeri.

Dia pun percaya, salah satu solusi masalah bangsa ini adalah melalui budaya lokal dan laku peran ibu-ibu tua yang menjadi penjaga keberlangsungan hidup generasi bangsa yang akan datang.

Selanjutnya, persoalan bangsa dan nasionalisme direfleksikan pada karya Menjadi Indonesia (2015). Ronald Manullang mengalegorikan kepingan sejarah Indonesia dalam perang dan relasi kekuasaan. Pada lukisannya, Indonesia terlihat menjadi separuh tersembunyi dan tidak tuntas dalam sejarahnya.

“Saya berbicara dari sosok Soekarno sampai kisah perang puputan Bali dari tokoh-tokohnya,” tutur seniman asal Tarutung, Sumatera Utara, yang dikenal dengan gaya realismenya yang sangat detail dari segi teknik. 

Ihwal kekerasan dan kekejian manusia terlihat pada karya instalasi Agus Suwage dalam Siklus #2 (2012). Tulang belulang dan tengkorak manusia dicetak digital pada alumanium. Pesan karya ini sangat menohok.

Rizki menjelaskan, dalam karya Agus, manusia menjadi predator paling potensial untuk memangsa manusia lainnya. Sedangkan ingatan tentang sejarah kelam negeri ini dalam peristiwa 1965 dimetaforakan melalui video art Dio_Rama dari Hafiz Rancajale. Dengan setting di museum lubang buaya, Hafiz mengambil bayangan-bayangan dari diorama. Bayangan serupa manipulasi peristiwa pembunuhan dan hantu-hantu yang membayangi dari kekerasan masa lalu yang tidak pernah tuntas kebenarannya.

Dua perupa Bandung yang juga dikenal sebagai tokoh performance art jeprut, Tisna Sanjaya dalam instalasi kurban dan Isa perkasa Bandung yang Semakin Sempit berbicara tentang persoalan lingkungan. Tisna meminjam teks tasawuf pujangga Sunda, Hasan Mustafa yang dipadukan dengan instalasi kopeah sebagai pesan spiritual menyoal keseimbangan manusia dengan alam.

Sementara Isa memberikan pesan dalam karya instalasinya melalui material meteran tanah dan tanah asli dari lahan sengketa di Bandung Utara yang sudah mulai tergantikan oleh apartemen. "Banyak yang menjual tanah. tapi akhirnya tergusur juga,” tegas Isa.

Tisna dan Isa dalam pembukaan pameran (4/5) turut melakukan performance art untuk merespon dan memperjelas pesan karyanya. Sedangkan perupa lain yang berbicara persoalan lingkungan di antaranya Moelyono dalam lukisan Aku dan Simbah Di Atas Sawah Retak dan kelompk Jatiwangi Art Factory dengan karya instalasi Dari Tanah Kembali Ke Tanah.

Seniman Bandung lainnya, yakni Diyanto  menampilkan lukisan dan instalasi Untuk dan Atas Nama Orang Ramai #9. Dia terinspirasi atas pembacaan teks antara perannya sebagai pelukis dan bekerja di atas panggung teater. Di lukisannya, Diyanto meminjam peristiwa teater dari Kapai-Kapai, Menunggu Godot hingga permainan football Amerika.

Instalasi jembatan kayu, sendok, dan garpu serupa penghubung antara yang realitas dan fiksi semua menjadi paradoks. “Karya saya berbicara manusia tontonan dan tontonan manusia, paradoks itu yang kita alami sekarang” tutur Diyanto.       

Perupa yang memotret diri sendiri atau subjek tunggal lain yang dihubungkan dalam konteks sosial, terdapat dalam beberapa karya di antaranya: Untitled dari Asmudjo J Irianto, potret keluarga Entang Wiharso pada Reclaim Paradise: Paradise Lost, Haris Purnomo Smoke, patung perunggu dari Teguh Ostentrik, Mengejar alur jiwa dan video art Krisna Murti berjuluk Enigma kolaborasi dengan seniman teater Satya Cipta, berisi tentang tarik menarik, ketegangan diri serta berbagai persoalan dalam diri seseorang melalui bahasa tubuh.

“Masa lalu, kini, modern, tradisi, permasalahan itu yang sering ada dalam diri manusia dan itu situasi dalam enigma” ungkap Krisna. Persoalan kedirian yang memberikan pesan yang lugas dan tajam dalam mengkritisi persoalan diri seniman adalah lukisan F Sigit Santoso, berjuluk LI(F)E.

Karyanya merepresentasikan seni yang seharusnya memiliki nilai yang tegas, serupa agama. Dan, seniman harus berbicara tentang kebenaran. Seniman Eddie Hara yang bermukim di Basel, Swiss, mengangkat problem di kartu pos dalam karya Post Cards From The Alps Series dan We Do Not This High Fuckin Art Society.  Bagi Eddie, seni serupa permainan dengan visual yang warna-warni, tokoh-tokoh kartun, gaya punk, dan dinamis.

Dalam karya Ugo Untoro The Death of Jiwa Ketok berupa peti mati kayu yang berukuran sangat kecil 7 cm x 10 cm x 20 cm, di dalamnya terdapat cangklong Sudjojono. Karya ini mengandung makna mendalam untuk merepresentasikan kematian jiwa ketok.

Sedangkan persoalan gender, identitas dalam kaitan dengan kultur, tidak luput dalam pameran ini, melalui karya instalasi pasangan Nindityo Adipurnomo dengan karya Interaksi Jender dan Mella Jaarsma pada The Pecking Order.  

Meskipun memiliki pesan dan esensi yang berbeda, bila diperhatikan, karya-karya dalam pameran ini terlihat saling berinteraksi satu sama lain. Arus pada karya-karya pameran ini juga dapat dilihat secara implisit dan eksplisit. Saling berdialektika dalam membaca internalisasi diri dan interaksi di luar seniman. Seperti yang diungkapkan Rizki, "Setiap seniman mempunyai arusnya sendiri, yang saling berinteraksi.” 

Para perupa ini melihat dan menganalisa dari sejarah kelam negerinya hingga berbagai persoalan kekinian dalam narasi lokal dan global, selanjutnya mencari jawaban hingga terwujud karya yang terus tumbuh dan bergerak.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 337
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 93
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 97
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 707
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1549
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1250
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya