Kisah Kaos Kaki

| dilihat 1258

Cerita Pendek Agustian

Senja menggelayut langit waktunya tidak berlama-lama pertanda sore akan segera berganti malam, Itu pun yang menyegerakan Renata merapikan soft drawing, mematikan laptop di meja kerjanya. Matanya masih menatap kosong seperti mengimbangi pikirannya yang masih bekerja.

“Sudah lah Ren, it’s finally ! Mmalam ini adalah milik kamu,“ kata rekan sekerjanya, membuat Renata menyudahi dan bergegas pulang.

Malam itu memang milik Renata Priastuti. Usianya baru genap dua puluh enam tahun, menyelesaikan studi teknik arsitektur di universitas ternama dengan predikat cum laude.

Sosoknya menjadi trending topik media sosial, cetak dan elektronik dalam sepekan ini. Publik pun berdecak kagum atas karyanya membuat gedung pencakar langit dengan desain sirkulasi turbulance dan pemanfaatan sinar matahari sebagai sumber pencahayaan. Membuat gedung ini disebut-sebut ramah energi.

Pada malam peresmian gedung tiba. Renata si pemilik tubuh berpostur tinggi dan berkulit putih ini mengenakan gaun pesta brokat bercorak bunga dengan kombinasi warna hitam dan merah maron membuatnya semakin cantik saja.

Para tetamu berduyun-duyun menyalami, memberikan kata selamat. Mereka seolah ingin menelannya, ingin berlama-lama, memujanya berlebihan. Renata membalas dengan senyum tipis, sanjungan dan kesempurnaannya telah jauh melangit sampai lupa karyanya tidak berdiri sendiri.

Keriuhan di dalam gedung seperti bulan memuja dirinya sendiri, bulan lupa kalau berkasih dengan matahari. Di luar gedung nampak tiga lelaki tegap berbusana safari. Memeriksa tamu dan memastikan tamu yang sudah dipilihnya.

“Maaf pak, bisa menunjukan undangan?“ kata seorang penjaga bersafari itu sambil matanya memeriksa tubuh lelaki tua berkacamata minus tidak bersepatu melainkan mengenakan sandal gunung.

“Saya Mukidi, saya guru matematika saat Renata masih SMA dulu di desa, saya datang kemari atas inisiatif sendiri, saya memang tidak di undang, bolehkah …?” Belum selesai pak Mukidi menyelesaikan pembicaraan, petugas berseragam safari itu memotongnya..

“Maaf pak saya hanya menjalankan tugas, bapak tidak diperkenankan masuk.“

“Ohh begitu? Baiklah, saya ini orang desa tentu taat aturan. Bolehkah saya menitipkan sesuatu untuk diberikan kepada Renata,” kata pak Mukidi sambil mengeluarkan kado berukuran kecil berbalut kertas sampul coklat.

Tetiba pria berkemeja jas menghampiri pak Mukidi, sambil mengedipkan matanya ke arah petugas berseragam safari, sebagai isyarat agar mereka menyembunyikan bahwa pria itu adalah si pemilik gedung. Semenjak tadi, dia memang sudah mendengar percakapan Pak Mukidi.

“Biar saya saja pak yang mengantarnya.. Oh iya, nama saya Hariadi Chan,” ujarnya, sambil mengulurkan tangan.  “Boleh bapak lanjutkan cerita tentang Renata murid bapak?” pintanya.

“Bapak pernah ke atas puncak gedung ini?” tanya Mukidi. Hariadi hanya menggeleng. “Di atas puncak itulah,” ujar pak Mukidi sambil menunjukan jari telunjuknya ke atas, diikuti pandangan Hariadi, “Renata meminta sepatu saya untuk dijadikan prasasti,” ujarnya.

Tidak banyak orang yang tahu, karena letaknya di belakang sudut sebelah kanan, terhalang oleh instalasi penerangan. “Dan ini kaos kakinya,” lanjut Pak Mukidi, sambil memberikan kotak kecil bersampul coklat kepada pak Hariadi. “Saya lupa memberikan kaos kaki ini. Karena sepatu butut saya tidak pernah dalam kesendirian perlu kaos kaki sebagai teman,” begitu kata pak Mukidi mengakhiri cerita.

“Baiklah pak Mukidi, saya akan berikan kepada Renata,” tanggap Hariadi, lalu bergegas masuk ke dalam gedung dan langsung menuju podium,seraya memulai kata sambutannya :

“ Saudara-saudara kita patut berbangga, apa yang dikerjakan Renata Priastuti terhadap gedung ini dengan konfigurasi turbulence dan rekayasa pencahayaan, sehingga gedung ini untuk pertama kali dan satu-satunya sebagai gedung ramah energi, sebuah karya yang cerdas.

Namun disisi lain yang kita tidak ketahui, di atas gedung ini yang pastinya sulit untuk diketahui siapa pun, ternyata Renata telah menjadikan sepatu gurunya sebagai prasasti.

Kita pun tahu maksudnya kenapa Renata melakukan hal seperti itu secara diam-diam, ini bentuk kecintaan dia kepada gurunya terutama tentang ajaran-ajaran hidup yang diajarkannya, tadi saya bertemu dengannya di muka gedung ini dan menitipkan kado kecil bersampul coklat yang tidak lain isinya adalah kaos kaki, beliau lupa saat memberikan sepatu, karena menurut beliau sepatu tidak dapat hidup dengan kesendirian, sepatu perlu kaos kaki untuk menemaninya,

Renata… ! Ambillah kaos kaki ini “

Renata tersentak, jantungnya berdegup keras, tangannya berkeringat dingin, hatinya lara, karena pak Mukidi yang dikenalnya tidak pernah memiliki sepatu sepasang pun. Sendal gunung yang selalu ia kenakan adalah filosofi hidupnya. Soal sepatu itu bualannya saja. Seperti sedang mengajari pemaknaan hidup.

Di kedua pasang mata Renata terlihat mengembang air mata, perlahan jatuh melewati pipinya.

Renata menuju podium mengambil kotak kecil bersampul coklat yang diyakininya bukanlah kaos kaki.

Standing applaus dari para tamu tak mampu menghentikan rasa sedih dan lara.

Renata berlari keluar gedung menabrak siapa saja di depannya menemui guru Mukidi, pakaian gaun pesta brokat bercorak bunga seperti layu tanpa air tersengat matahari.

Tidak didapatkannya guru Mukidi yang lenyap entah kemana.

Di bukanya kotak kecil bersampul coklat bergetarlah tangannya, lamat-lamat dibaca isi pesannya ;

“Hari ini Bapak memenuhi janji, saat kamu bertanya terus kenapa Bapak tidak pernah memakai sepatu. Kaki yang terbuka lebih merasakan bumi tempat kita berkehidupan saling cinta mencitai dengan seksama dan tempat kita berpulang sesungguhnya sedangkan kepala selalu saja mengarah ke langit, jaraknya tidak pernah terkira itulah keinginan “

Tanpa menunggu hari, Renata pun bergegas pulang ke desanya. Membangun desa adalah pilihannya. Di sanalah cinta akan disemai, Di sanalah rasa akan disimpannya dalam tempat yang sakral. Hiruk pikuk membuatnya merasa pongah selanjutnya lupa siapa aku sesungguhnya. |

Editor : sem haesy | Sumber : ilustrasi Dede
 
Lingkungan
25 Apr 18, 10:22 WIB | Dilihat : 759
Warga Sempur Bogor Tolak Pembangunan Apartemen
07 Feb 18, 13:55 WIB | Dilihat : 1722
Anies Lolos dari Ujian Pertama Banjir Jakarta
06 Feb 18, 19:30 WIB | Dilihat : 1490
Cukuplah Dianti Menjadi Korban
22 Jan 18, 08:54 WIB | Dilihat : 1096
Jangan Lengah Awasi Kawasan Bandung Utara
Selanjutnya
Budaya
20 Mei 18, 22:08 WIB | Dilihat : 696
Abah Iwan Dian Tak Pernah Padam
04 Apr 18, 14:35 WIB | Dilihat : 3299
Budaya Tanding dari Wine ke Bir Pletok
06 Mar 18, 09:59 WIB | Dilihat : 1648
Jangan Sembarangan Nyomot Betawi
Selanjutnya