Kidung Panyinglar - Senandung Tolak Bala ISBI Bandung

| dilihat 434

Catatan Sèm Haèsy

ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung, agaknya tak henti menggeliat, memicu kreativitas di tengah masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Fakultas Seni Pertunjukan, memanfaatkan momentum karantina dalam konteks distansi fisik dan sosial untuk mengolah daya kreatif. 

Bila sebelumnya jurusan  Seni Tari menghadirkan Munajat Tubuh, kolaborasi kreatif para dosen Tari 'menghadirkan' perlawanan estetis atas ancaman Covid-19. Perlawanan 'jarak jauh' dari rumah masing-masing dosen. Belakangan, jurusan Karawitan menghadirkan karya kreatif mereka bertajuk Kidung Panyinglar (Kidung Tolak Bala) dalam bentuk video yang kemudian dipublikasi via YouTube.

Secara personal, Endang Caturwati, guru besar ilmu seni budaya yang mendalami kajian kearifan lokal dan dimensi religiusitas,  sebelumnya, juga mengekspresikan kontemplasi musikal lewat karyanya bertajuk Swara Insan dalam musik kontemporer - modern.

Kidung Panyinglar memadupadan seni karawitan dan pembacaan puisi. Karya Lili Suparli, ini menarik disimak dan dinikmati.

Dalam sajian Kidung Panyinglar, jurusan Karawitan melibatkan 'keluarga besar' ISBI, tak hanya Rektor (Een Herdiani) dan dosen (Masyuning), tetapi juga Sule, Nunung Nurmalasari, dan Nining Karnengsih.

Sule selama ini dikenal sebagai komedian populer yang tetap 'tersambung' dengan seni tradisi 'ibu.' Akan halnya Nining populer sebagai pesinden.

Sebagai penikmat seni tradisi dan mengoleksi sejumlah karya kolaborasi kreatif, seperti Madenda yang melibatkan Ana Alcaida (dari Spanyol) - dalam konteks Gotrasawala (2013) dan sejumlah dokumentasi kacapi suling - antara lain 'Sangkakala Padjadjaran.'

Saya sempat juga terlibat dalam elaborasi kreatif dalam eksplorasi kacapi - suling dan kajian rumpaka kontekstual dengan pendekatan imagineering, Sangkakala Padjadjaran bersama allahyarham Setia Hidayat. Beberapa kidung,  sempat disajikan sebagai presentasi dalam forum Dunia Melayu Dunia Islam di Malaka - Malaysia dan Sydney - Australia (awal tahun 2004-2005), juga dalam momen "Poetry Reading of All Indonesia Presidents" -- mulai dari Butet Kartarejasa (Presiden Republik Mimpi), Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia),  sejumlah Presiden Direktur korporasi Indonesia - kaliber dunia, antara lain Arief Siregar, sampai Presiden Republik Indonesia - Susilo Bambang Yudhoyono (2007).

Bersama Allahyarham Setia Hidayat, saya juga menulis "Sangkakala Padjadjaran - The Reflection of Sunda Culture," yang sempat mengusik para inohong - karena menggunakan pendekatan pemikiran dan metodologi yang tidak biasa (imagineering mindset).

Dalam konteks itu saya berinteraksi dengan sejumlah pekerja seni tradisi karawitan Sunda, mulai dari generasi lampau sampai generasi kemudian, sebagai pembelajar. Menarik. Terutama, karena di rumah, allahyarham isteri saya, meski bukan dari kalangan seni, menerapkan pola didik dan asuh tradisi budaya Sunda kepada anak-anak saya.

Kidung, menjadi medium ekspresi musikal yang lantas kami yakini sebagai cara menghaluskan budi dan kepribadian anak, sejak masih dini (bayi), karena mereka hidup dan berkembang di tengah dinamika lintas budaya -- Barat, Timur Tengah, dan Timur.

Saya gembira melihat geliat kreativitas ISBI yang mengeksplorasi daya kreatif dan memilih medium seni budaya dalam konteks 'perlawanan' atas situasi sungsang yang dihantarkan nanomonster COVID-19.

Kidung Panyinglar karya Lili Suparli yang dibuka oleh pembacaan puisi Sule, mengusik kesadaran. Terutama, ketika Lili mendekati realitas ancaman virus corona COVID-19 dengan dua pendekatan (tentu dalam terminologi budaya Sunda) syariat dan hakikat. (baca juga: Ritual Tolak Bala Menghadapi Petaka)

Pendekatan syariat untuk melihat realitas sebaran wabah yang merangsek dan mengubah tata nilai kehidupan, termasuk ekosistem sosio budaya masyarakat. Melihat dimensi korelatif - kausalitas ancaman. Termasuk pola sebaran virus yang bermula dari Wuhan - China, itu.

Pendekatan hakikat, menjentik simpul kesadaran spiritual untuk melihat realitas COVID-19 sebagai akibat dari terjadinya perubahan perilaku manusia yang melipir ke tepian relasi korelasi manusia dengan semesta dan Tuhan sebagai Supreme Creator atas semesta, termasuk manusia di dalamnya. Khasnya untuk menghidupkan kesadaran insaniah, bahwa eksistensi manusia bukanlah sesiapa dan bukan apa-apa. Nobody sekaligus nothing

Kidung Panyinglar menghantar resonansi kesadaran itu, yang disampaikan dengan baik oleh Sule dengan sentuhan retoris. Termasuk, kesadaran untuk bersikap mengendalikan diri sesuai dengan protokol COVID-19, seperti yang tercermin dalam puisi Sunda yang dibacakan Een. Dengan kemampuan vokal, pengaturan birama dan aksentuasi, Sule berhasil menyampaikan pesan asasi tentang situasi dan kondisi kehidupan sosial yang lantak oleh virus yang adanya tiada nampak.

Geunjleung satungkebing langit/manusa-manusa sing jarerit/pertiwi katarajang panyakit/kahirupan wuwuh werit/sarakan awut-awutan/pangeusina katawuran/ais pangampih leungiteun titincakan/rahayat barongkeakan/ pada-pada poekeun udagan / ceunah ceuk beja, korona musababna.

Kuplet ini memotret realitas pertama kehidupan sosio budaya kita yang  secara fundamental, ternyata rapuh. Dimensi relijius dan pesan-pesan kebajikan, termasuk 'sengatan lebah' untuk para intelektual yang masih berkutat dengan urusan domestik dan inner personnal problem yang belum selesai, mengalir lewat kuplet berikut. :

Enya.. ceuk sareat mah kitu ayana/tapi mungguh hakekatna/ieu kajadian mangrupa elingan ti mantenna / bongan manusa geus poho kana pancenna/ nyaeta geusan ibadah.. ibadah nusagemlengna/yu hayu urang wangsulkeun deuiu kamantenna/ku cara ngahijikeun pamikir/mateakeun ketak/jauhkeun silih salahkeun/deukeutan silih ayunkeun/gugu aturan papayung/malah mandar..  wabah gancang nyingkah/pamuga jadi panyinglar.

Larik ini menjawab kegelisahan para intelektual lain yang terus beteriak membangunkan kesadaran intelektualitas dan tak hanyut dalam intelektualisme, seperti yang diteriakkan A. Zacky Siradj. (baca juga: Seni Penangkal Penyakit Hati).

Saya bisa sangat menikmati performa Nunung Nurmalasari, Masyuning, Nining Karnengsih sebagai pesinden, ketika menghantarkan pesan rasa, menutur runtut penyebaran wabah dan dampak sosialnya: Nyatana hiji kasakit, teu mangrupa lir dedemit / gancang tepa hese leungit / nyebar ka mancanagara, tumerap ka nusantara / balukarna mawa lara / nandingan limpas sagara / matak geunjleung sa nagara / rakyat katalangsara /  gejed lengkah keur lumampah / kapasa nya tunda lengkah teu bisa nyiar kipayah / dikungkung umah di imah / ukur pasrah jeung sumerah.

Suasana sansai terasa, meski persepsi dan resepsi tentang takdir yang mesti diterima pasrah sebagai jalan hidup yang telah tergariskan, tersampaikan lewat Een, ketika mengekspresikan suasana hati :  sanajan susah jeung payah / nyang hareupan wabah anu rongkah / tarimakeun ku sadrah tur pasrah / ikhlas kana takdir Allah / tumarimah dibarengan ku tarekah.

Een melepaskan pesan kesadaran imani, termasuk pesan wanti-wanti menghidupkan kesadaran untuk mengikuti aturan pemerintah sebagai bekal untuk optimistik:  omat ulah salah lengkah / tumut kana papagon Allah / nurut kana pangatur pamarentah / pasti urang bakal kuat.. insyaAllah.

Saya nikmati Kidung Panyinglar sebagai ekspresi karawitan yang saya pahami, kehalusan bahasa rasa -- lewat sentuhan gamelan, rebab, kacapi, suling yang menyayat kesadaran dalam hening. Menegaskan hakekat seni sebagai medium pencerahan ruhaniah dengan jentik kesadaran rerawitan.

Langgam Sule dan Een membaca puisi, juga match dengan beulit atau gembyang, kwint, dan kempyung dalam titilaras yang mengusik kesadaran. ISBI telah memainkan perannya, bahkan menghadirkan kidung sebagai medium nida' - pesan spiritual. Justru ketika segelintir petinggi akademisi masih sibuk bicara dalam jebakan intelektualisme. Termasuk berkutat ihwal bagaimana berpuasa di tengah kepungan Covid-19. ISBI membuktikan, seni budaya medium kebajikan yang indah. Teruslah kreatif, ISBI. Cag! |  #stayathome #jakarta

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1357
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1752
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 930
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1345
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1156
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2004
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1684
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya