Direktorat Kesenian Akan Jadi Kenangan?

Kesenian Menghaluskan Akal Budi

| dilihat 369

Seni adalah kekuatan potensi yang mesti diubah menjadi kekuatan riil suatu bangsa. Kesenian sebagai pumpunan beragam cabang seni, merupakan produk keseimbangan nalar, naluri, rasa, dan indria manusia.

Pergulatan dalam mengelola dan mengembangkan kesenian, memerlukan energi besar. Karena kesenian belum dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan sehari-hari, meski senyatanya, manusia memerlukan seni sebagai keperluan dasarnya.

Sabtu, 21 Desember 2019, pagi di Gedung Kantor Pusat Paguyuban Pasundan, sesaat suasana haru.

Di hadapan Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Prof. Muhadjir Effendy, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. HM Didi Turmudzi, yang menghadiri peluncuran biografinya (Pok Pek Prak Endang Caturwati di Tatar Sunda) dan bukunya bersama 30 perempuan cendekia (Perempuan Indonesia, Dulu dan Sekarang), Prof. Endang Caturwati menghapus airmatanya. Suaranya tersendat.

Ketika itu, Guru Besar Seni Pertunjukan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung ini bercerita tentang nasib anak-anak yang terjerembab dalam jurang kriminalisme dan kejahatan seksual, yang ditahan di sebuah Lembaga Pemasyarakatan di Bandung.

Hasil observasinya menunjukkan, anak-anak ini merupakan korban kehidupan yang kering dan tak beroleh sentuhan pendidikan kesenian yang intens.

Kesedihannya belum usai, ketika kemudian dia memanggil ke atas pentas, dua perempuan, pekerja seni yang melakukan perlawanan atas kebijakan pemerintah kabupaten di Jawa Barat yang sama sekali abai terhadap kegiatan kesenian.

Lantas, mantan Ketua (Rektor) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, itu mengimbau kepada Menteri Muhadjir yang pernah menjadi atasannya ketika dia menjabat Direktur Kesenian - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Endang juga mengimbau Gubernur Jawa Barat.

"Tolong Pak Menteri dan Pak Gubernur untuk memberikan perhatian kepada perkembangan kesenian di negeri ini dan di Jawa Barat," katanya. "Tolong Pak Gubernur, punteun.. mohon guru-guru honorer kesenian, diangkat..," ujar Endang yang juga Ketua Umum Citra Srikandi Indonesia, ini. Menteri Muhadjir dan Gubernur Ridwan Kamil nampak mengangguk.

Endang membatalkan rencana orasinya tentang 'Kekuatan Seni dalam Pembangunan Bangsa,' dan memberi peluang kepada Gubernur Jawa Barat dan Menteri PMK untuk memaparkan program-program mereka di hadapan khalayak.

Kesenian Akar Kebudayaan

Sejak bergiat di dunia kesenian dan memangku berbagai jabatan akademik dan birokrasi, Endang sangat peduli terhadap perkembangan kesenian. Dia terjun langsung ke lapangan. Melakukan penelitian kontekstual dan menyebarluaskan hasil penelitian itu melalui berbagai buku.

Ketika menjabat Direktur Kesenian dan Perfilman, dan kemudian Direktur Kesenian, dia memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan kreatif dan kesejahteraan seniman. Terutama di jalur kesenian tradisi (rakyat).

Endang berpandangan, bahwa seni dan sastra secara keseluruhan, merupakan akar dari pohon kebudayaan yang tumbuh berkembang bersamaan dengan perkembangan sejarah manusia, alam dan lingkungan. Seni mengalirkan kekuatan artistik dan estetik, yang ketika berpadan dengan religi, melahirkan harmoni etik. Ketiganya merupakan ruh peradaban manusia.

Dari pohon kebudayaan itulah berkembang aneka cabang dan ranting yang kita kenal dengan seni rupa, seni musik, seni kriya, seni drama, seni tari, wayang orang, wayang golek, teater, film dan sebagainya.

Esensinya, menurut Endang, adalah seni menghaluskan akalbudi dan memandu manusia mencapai keindahan hidup (yang empiris dan non empiris) sebagai pencapaian puncak kemanusiaan. Karenanya, berbagai bangsa yang mempunyai kesadaran untuk menempatkan pembangunan sebagai gerakan kebudayaan mencapai peradaban unggulnya, kesenian mendapat perhatian utama. Bahkan prioritas.

Sejarah perjalanan bangsa ini, menurut Endang, tak bisa dilepaskan oleh seni dan sastra. Bahkan proses perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, diwarnai oleh proses panjang perjuangan seni dan sastra.

Dia menyebut sejumlah nama, dari Syaikh Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Tengku Amir Hamzah, Raja Ali Haji, Ronggowarsito, Honggowongso, Joyoboyo, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Utuy Tatang Sontani, WR Soepratman, Ismail Marzuki, Husein Mutahar, Ibu Soed, R. Sudjojono, Affandi, Bagong Kusudiardjo, R. Tjetje Soemantri, dan lain-lain. Mereka adalah para seniman dan sastrawan yang bergerak di berbagai cabang seni dan sastra dalam lingkup kesenian yang tak bisa dipisahkan dari keberadaan bangsa ini.

Karenanya, dia sedih setiapkali merasakan dan menyaksikan realitas, bahwa proses pengembangan kesenian selalu menghadapi kendala yang tak pernah usai.

Kesenian itu Soft Power

Endang bersyukur pernah menjadi perempuan pertama yang mengemban amanah sebagai Direktur Kesenian dan Perfileman, lalu memimpin Direktorat Kesenian - Kementerian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia, ketika pemerintah memandang kesenian secara utuh dan mengubah Direktorat Kesenian & Perfilman menjadi Direktorat Kesenian.

Direktorat Kesenian sebagai nomenklatur dalam struktur organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memungkinkan berlangsungnya fasilitasi dan katalisasi pelestarian dan pengembangan kesenian secara terintegrasi. Termasuk film sebagai cabang kesenian.

Endang tertegun ketika beroleh kabar, bahwa kini Direktorat Kesenian telah 'murba,' 'raib,' hilang dari nomenklatur struktur organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Masa' sih?" responnya. "Direktorat Kesenian itu bukan sekadar nomenklatur, lho. Ada latar historisnya, sejak masa kepemimpinan Bung Karno dulu.., kenapa ada Direktorat Kesenian," lanjut Endang.

Kabar lenyapnya Direktorat Kesenian, mengemuka beberapa pekan terakhir. Mulanya, berdasarkan Peraturan Presiden RI No. 72 Tahun 2019 tentang Struktur organisasi Direktorat Jendral Kebudayaan, masih meliputi: Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman; Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dan Tradisi; Direktorat Kesenian; Direktorat Sejarah; Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.

Lantas terjadi perubahan. Kemudian muncul kabar, di lingkup Direktorat Jenderal Kebudayaan kini hanya ada lima Direktorat, meliputi: Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa dan Masyarakat Adat; Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru; Direktorat Perlindungan Kebudayaan; Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan; dan Direktorat Tenaga dan Pembinaan Lembaga Kebudayaan.

Belum ada konfirmasi, apa alasan para petinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghilangkan Direktorat Kesenian yang melingkupi seluruh cabang kesenian, sehingga justru muncul nomenklatur Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru.

"Coba konfirmasi ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dulu, apakah benar Direktorat Kesenian yang melingkupi fasilitasi dan katalisasi kesenian sebagai akar kebudayaan, sungguh telah dihapuskan," tuturnya.

"Kalau betul dihilangkan, sebagai mantan Direktur Kesenian - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang telah banyak membuat program-program  terintegrasi dengan masyarakat, saya sedih. Direktorat Kesenian hanya akan jadi kenangan," ungkapnya. "Mudah-mudahan tidak. Karena dampaknya sangat luas," sambungnya.

Semasa menjabat Direktur Kesenian, Endang berbagai program, seperti membantu aktivitas para seniman, pemberdayaan guru-guru kesenian,  serta pengembangan apresiasi dan kreativitas siswa, melalui Belajar Bersama Maestro, Seniman Masuk Sekolah, bantuan dukungan Laboratorium Seni di Sekolah, bantuan alat-alat kesenian di sekolah dan lain-lain.

Bila Direktorat Kesenian dihilangkan, pengembangan kesenian Indonesia akan mengalami banyak hambatan di lapangan. Kita akan tertinggal oleh negara-negara lain, yang mengembangkan kesenian dan kesastraan sebagai nafas kehidupan dalam proses pendidikan.

"Tapi, saya tidak akan meratapi kondisi ini. InsyaAllah saya akan terus berjuang, mengabdikan ilmu saya bagi para guru untuk konsisten mengembangkan pendidikan kesenian. Sebagai penggiat seni, saya juga akan terus mengembangkan kreativitas dan inovasi kesenian. Saya akan selalu ada di lingkungan seniman kreatif dan bersama mereka, terus memajukan kesenian Indonesia," ungkapnya menjawab pertanyaan.

Dalam hal melakukan perubahan sebagai pilihan merdeka, Endang mengingatkan pernyataan bijak Lao Tse, "Bila ingin membongkar rumah, pelajari dulu, kenapa dulu rumah itu dibangun."

Kesenian itu, kata Endang, soft power yang penting dalam membangun bangsa, sehingga mampu mencapai peradaban. Kesengajaan atau kelalaian sehingga mengabaikan hakekat kesenian, akan memungkinkan luruhnya dimensi artistik, estetik, dan etik dalam kehidupan masyarakatnya. Luruhnya akalbudi. "Mudah-mudahan kita terhindari dari itu," pungkasnya.  | BangSem

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
20 Jan 20, 09:10 WIB | Dilihat : 121
Negara Tidak Punya Hak Menyadap Percakapan
09 Jan 20, 12:07 WIB | Dilihat : 168
Amerika Tak Mudah Prediksi Serangan Balik Iran
06 Jan 20, 09:03 WIB | Dilihat : 355
Kontroversi Mundurnya Menteri Pendidikan Malaysia
Selanjutnya
Humaniora
19 Jan 20, 12:54 WIB | Dilihat : 152
Chairul Montir Terbang dari Pinrang
15 Jan 20, 12:30 WIB | Dilihat : 223
Cinta adalah Kedalaman Nurani
13 Jan 20, 16:27 WIB | Dilihat : 261
Civitas Akademika ITB Jangan Berhenti Menebar Inovasi
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 166
Harmoni
Selanjutnya